Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Fasilitas Skate Park Jateng Valley Terbengkalai, Proyek Rp 2 Triliun Mandek Enam Tahun

SEMARANG, Cinta-news.com – Siapa sangka, kemegahan Jateng Valley yang digadang-gadang sebagai destinasi wisata super premium kini justru berubah menjadi pemandangan yang memprihatinkan. Arena skate park di kawasan Hutan Wisata Penggaron, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kini terbengkalai total seiring dengan mandeknya proyek wisata raksasa senilai sekitar Rp 2 triliun tersebut.

Ketika tim kami menyusuri lokasi, pemandangan yang tersaji sungguh kontras dengan janji-janji manis pengembangan wisata beberapa tahun lalu. Pintu gerbang utama Jateng Valley yang megah kini tertutup rapat, sementara jalanan menuju berbagai fasilitas wisata seperti lapangan golf dan arena skate park dipenuhi rumput liar yang menjulang tinggi serta semak belukar yang semakin meranggas. Suasana sunyi menyelimuti kawasan, tanpa ada tanda-tanda aktivitas pembangunan maupun kehadiran para pekerja di area yang dulu dipromosikan sebagai salah satu skate park bertaraf internasional.

Desain Futuristik Kini Sunyi Senyap

Menggali lebih dalam, proyek ambisius ini sebenarnya dirancang dengan visi yang sangat modern. Kawasan wisata seluas sekitar 371 hektare itu mengusung tiga konsep unggulan, yakni Ecological Sanctuary, Sustainable Leisure, dan Futuristic Space. Bayangan tentang taman ekologis yang asri, tempat rekreasi berkelanjutan, dan ruang futuristik yang canggih tentu membuat banyak orang terpana.

Nilai investasi yang ditanamkan dalam proyek ini diperkirakan mencapai angka fantastis, Rp 2 triliun, dengan target ambisius menjadi salah satu destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara. Groundbreaking yang dilakukan pada 15 Agustus 2020, bertepatan dengan Hari Jadi ke-70 Provinsi Jawa Tengah, disambut gegap gempita oleh berbagai kalangan.

Namun, enam tahun sudah berlalu sejak peletakan batu pertama dilakukan. Alih-alih menyaksikan kemegahan wisata kelas dunia, masyarakat justru menyaksikan proyek tersebut tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Investasi triliunan rupiah seakan menguap begitu saja, meninggalkan berbagai fasilitas setengah jadi yang kini mulai lapuk dimakan zaman.

Skate Park 95 Persen Siap, Tapi Tak Pernah Difungsikan

Salah satu fasilitas yang paling menyita perhatian adalah arena skate park yang kabarnya telah mencapai progres pembangunan sekitar 95 persen. Angka yang hampir sempurna ini sungguh ironis karena hingga kini fasilitas tersebut belum pernah difungsikan sama sekali. Bahkan, kondisi terkini menunjukkan arena tersebut mulai mengalami kerusakan akibat terbengkalai dalam waktu yang cukup lama.

Bagi komunitas skateboard di Jawa Tengah, kondisi ini bukan sekadar persoalan proyek mangkrak biasa. Lebih dari itu, mereka merasakan hilangnya secercah harapan untuk memiliki fasilitas latihan yang layak dan representatif di provinsi ini. Impian untuk berlatih di arena bertaraf internasional kini harus terkubur bersama semak belukar yang tumbuh subur di atas lintasan-lintasan yang sudah dibangun.

Semarang, Ibu Kota Provinsi Tanpa Skate Park Layak

Naufal Mustofa, pemain skateboard asal Ungaran yang juga menjadi perwakilan komunitas skateboard, meluapkan kekecewaannya. Menurutnya, hingga saat ini Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah masih belum memiliki skate park yang benar-benar representatif dan mudah dijangkau oleh masyarakat umum.

“Saya cuma menyayangkan, sekelas ibu kota Jawa Tengah masa tidak punya skate park yang proper. Sekalinya ada yang proper, posisinya di tengah hutan dengan akses masuk yang sulit,” ujar Naufal dengan nada kesal, Kamis (2/7/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para pemain skateboard sebenarnya memiliki kreativitas tinggi dalam berlatih. Mereka dapat bermain di berbagai tempat selama lokasi tersebut memungkinkan untuk digunakan. Namun, keterbatasan fasilitas yang memadai seringkali memaksa mereka memanfaatkan ruang publik yang kemudian berujung pada anggapan negatif dari masyarakat.

“Skate itu sebenarnya bisa dimainkan di mana saja selama spot itu bisa digunakan. Tapi balik lagi, kalau fasilitas umum rusak gara-gara dipakai main skateboard, ujung-ujungnya kami juga yang disalahkan,” jelasnya dengan nada frustrasi.

Regenerasi Pemain Skate Terhambat

Lebih dalam, Naufal menekankan bahwa keberadaan skate park yang layak memiliki fungsi vital, terutama bagi para pemula yang baru mengenal olahraga ekstrem ini. Tanpa fasilitas yang memadai, proses regenerasi pemain skateboard menjadi sangat terhambat.

“Kalau untuk regenerasi atau orang yang baru ingin bermain skate, skate park yang proper sangat berpengaruh untuk belajar,” ucapnya penuh harap.

Ia mengamati bahwa komunitas skateboard di Semarang sebenarnya terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Jumlah penggemar olahraga ini semakin banyak dari waktu ke waktu. Namun, ironisnya, para pemain masih terpaksa berlatih secara terpisah-pisah karena belum memiliki satu lokasi yang dapat menjadi pusat aktivitas bersama.

“Yang saya lihat, skater di Semarang itu sebenarnya banyak, cuma mainnya terpisah-pisah. Kalau ada skate park yang proper dan tempatnya strategis, nanti bisa jadi meeting point anak-anak skate. Mungkin juga bisa banyak mencetak regenerasi,” imbuhnya optimistis.

Desain Lintasan Sudah Memenuhi Kebutuhan

Sangat disayangkan, menurut Naufal, desain lintasan skate park Jateng Valley yang telah dibangun sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan para pemain. Fasilitas tersebut dirancang dengan standar internasional yang mumpuni. Namun, semua potensi besar itu kini terbuang percuma karena proyek mandek di tengah jalan.

“Sebenarnya saya dan anak-anak juga menyayangkan. Skate park Jateng Valley itu proper, tapi ya karena mangkrak itu tadi akhirnya tidak bisa dimanfaatkan,” keluhnya.

Sorotan terhadap kondisi memprihatinkan Jateng Valley kembali menguat setelah sejumlah foto dan video kawasan tersebut viral di berbagai platform media sosial. Netizen ramai-ramai mengomentari bangunan-bangunan yang terbengkalai, termasuk arena skate park yang kini berubah menjadi hamparan rumput liar dan semak belukar. Ekspektasi tinggi yang pernah dibangun kini berubah menjadi kekecewaan mendalam.

Pemprov Jateng Janjikan Revitalisasi

Menghadapi gelombang kritik dan keprihatinan publik, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akhirnya angkat bicara. Mereka memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus revitalisasi terhadap kawasan Jateng Valley yang kini menyedihkan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan aset strategis tersebut terbengkalai tanpa kejelasan. Langkah awal yang akan ditempuh adalah melakukan asesmen untuk mengidentifikasi potensi kawasan sebelum menentukan arah pengembangan yang lebih jelas.

“Kita lakukan asistensi dan revitalisasi terkait potensi ini, jadi berkembangnya wilayah kita lihat, dan ini dari aset kita akan berjalan ke sana untuk melakukan revitalisasi,” kata Luthfi dengan tegas, Rabu (1/7/2026).

Menariknya, Luthfi menyebutkan bahwa konsep revitalisasi nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Hal ini penting agar pengembangan kawasan mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata di sekitarnya.

Kendala Investasi Jadi Biang Kerok

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah mengungkapkan bahwa pemerintah masih melakukan asesmen mendalam terhadap proyek tersebut. Mereka juga mengkaji secara serius penyebab terhentinya pembangunan sejak 2020 silam.

Salah satu kendala utama yang berhasil diidentifikasi adalah keterlambatan realisasi investasi dari pihak investor. Akibatnya, proyek tidak berjalan sesuai dengan rencana awal yang telah ditetapkan. Aliran dana yang tersendat membuat berbagai pekerjaan konstruksi terpaksa dihentikan.

Pemprov Jawa Tengah berharap hasil asesmen yang sedang berjalan dapat menjadi dasar yang kuat untuk menentukan model pengembangan Jateng Valley ke depan. Dengan demikian, aset yang telah telanjur dibangun dengan biaya besar dapat dimanfaatkan kembali dan memberikan kontribusi nyata bagi sektor pariwisata maupun perekonomian daerah.

Kini, masyarakat hanya bisa menunggu realisasi janji revitalisasi tersebut sambil berharap agar megahnya Jateng Valley tidak selamanya menjadi hutan belukar yang menyimpan cerita pilu tentang investasi triliunan yang menguap sia-sia.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version