Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

BTNGM Tegaskan Jalur Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Ini Alasannya

YOGYAKARTA, Cinta-news.com – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) dengan tegas menyatakan bahwa jalur pendakian Gunung Merapi MASIH DITUTUP TOTAL hingga batas waktu yang belum bisa dipastikan kapan akan dibuka kembali.

Kepastian ini secara langsung membantah harapan para pendaki yang sempat dihangatkan oleh unggahan viral di media sosial. Dalam unggahan tersebut, sejumlah netizen dengan penuh semangat mengajak masyarakat untuk secara bersama-sama “membuka paksa” jalur pendakian pada hari Senin (29/6/2026). Namun, ajakan ini tentu saja tidak mendapat respons positif dari pihak berwenang.

Kepala BTNGM, Heri Wibowo, angkat bicara untuk meluruskan kekeliruan informasi yang beredar. Menurutnya, kebijakan penutupan ini bukanlah keputusan yang diambil secara serampangan. Pihaknya dengan sangat serius mempertimbangkan berbagai rekomendasi krusial yang dikeluarkan oleh instansi berwenang, serta mengutamakan faktor keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

“Saya tegaskan sekali lagi, pendakian Gunung Merapi hingga detik ini masih kami tutup rapat-rapat. Kami bahkan belum bisa menentukan kapan batas akhir penutupan ini akan berakhir. Semua ini kami lakukan semata-mata untuk mematuhi rekomendasi ketat dari pihak yang berwenang. Selain itu, tujuan utamanya adalah untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak, baik pendaki, relawan, maupun masyarakat yang tinggal di sekitar lereng gunung,” ujar Heri dengan nada tegas saat ditemui awak media pada hari Senin.

Jejak Larangan: Ketika Status Merapi Meningkat, Semua Aktivitas Pendakian Dihentikan!

Heri lebih jauh menjelaskan bahwa larangan mendaki ini bukanlah kebijakan dadakan yang baru saja muncul. Ternyata, aturan ini telah mulai diberlakukan sejak 22 Mei 2018 silam. Pada tanggal bersejarah itu, status aktivitas Gunung Merapi resmi dinaikkan dari Level I yang berarti Normal, menjadi Level II atau status Waspada.

Keputusan penting ini diambil berdasarkan hasil evaluasi pemantauan yang dilakukan secara ilmiah dan menyeluruh. Hal ini tertuang jelas dalam Surat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan Nomor: 271/45/BGV.KG/2018 yang diterbitkan pada tanggal 21 Mei 2018. Isi surat tersebut secara gamblang merekomendasikan penghentian sementara seluruh aktivitas pendakian.

Kondisi semakin kritis ketika pada 5 November 2020, status aktivitas Gunung Merapi kembali dinaikkan satu level lebih tinggi. Saat itu, statusnya berubah dari Level II (Waspada) menjadi Level III yang berarti Siaga. Keputusan ini didasarkan pada Surat Kepala PVMBG terbaru dengan Nomor: 523/45/BGV.KG/2020 yang dikeluarkan pada tanggal 5 November 2020.

Sejak saat itu, pihak BTNGM semakin memperketat pengawasan dan melarang keras segala bentuk aktivitas pendakian. Namun, Heri memberikan sedikit kelonggaran bahwa pendakian masih diperbolehkan, tetapi hanya untuk kepentingan spesifik. Mereka yang diizinkan hanyalah pihak-pihak yang melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah yang berkaitan langsung dengan upaya mitigasi bencana vulkanik.

Waspada! BPPTKG Ungkap Fakta Terbaru Aktivitas Merapi yang Masih Tinggi

Terkait dengan kondisi Gunung Merapi terkini, Heri kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Ia meminta dengan keras agar seluruh warga tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung. Wilayah ini dinilai sangat rawan dan membahayakan jiwa.

Bagi warga yang memang bertempat tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan secara ekstra. Mereka harus terus memantau setiap perkembangan aktivitas vulkanik yang terjadi setiap saat. “Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan dan mengarah pada peningkatan bahaya, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera kami tinjau kembali dan kemungkinan akan kami naikkan levelnya,” jelas Heri dengan nada penuh peringatan.

Heri juga memberikan nasihat penting agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh isu-isu hoax atau kabar bohong mengenai erupsi Gunung Merapi yang sumbernya tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu tidak bertanggung jawab. Yang terbaik adalah tetap mengikuti arahan resmi dari aparat pemerintah daerah atau langsung mengecek informasinya ke BPPTKG,” tambahnya.

Ia juga meminta para aparat di pemerintah daerah untuk terus gencar melakukan sosialisasi mengenai kondisi terbaru Gunung Merapi kepada masyarakat luas. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang simpang siur dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

Berdasarkan laporan terkini aktivitas Gunung Merapi periode 19 hingga 25 Juni 2026, yang diterbitkan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kondisinya masih tergolong Tinggi. Surat resmi dengan Nomor B-157/GL.03/BGV.KG2/2026 yang tertanggal 26 Juni 2026 itu menyebutkan bahwa erupsi efusif masih terus berlangsung dan suplai magma dari dalam perut bumi masih sangat aktif.

Bahaya Mengintai di Jalur New Selo! Ini yang Terjadi Jika Anda Nekat!

BTNGM dengan sangat serius mengingatkan bahwa jalur pendakian favorit melalui New Selo yang selama ini populer di kalangan pendaki, ternyata masuk ke dalam kawasan yang sangat berpotensi terkena dampak bahaya. Jalur ini sangat dekat dengan pusat aktivitas vulkanik.

Mari kita lihat data jaraknya yang mencengangkan! Pintu gerbang masuk jalur New Selo hanya berjarak sekitar 2,3 kilometer dari puncak yang mematikan. Selanjutnya, Pos I hanya berjarak 1,64 kilometer, sementara Pos II berada pada jarak 1,25 kilometer. Bahkan, Pasar Bubrah yang menjadi ikon para pendaki, hanya berjarak sekitar 700 meter saja dari puncak! Jarak yang sangat dekat dan sungguh membahayakan.

Menurut Heri, kondisi geografis ini jelas sangat membahayakan keselamatan jiwa para pendaki. Apabila aktivitas Gunung Merapi meningkat secara mendadak atau terjadi letusan, maka tidak ada waktu yang cukup bagi siapapun untuk menyelamatkan diri.

“Perlu kami sampaikan dengan sangat jelas bahwa terdapat beberapa jalur wisata soft trekking di Taman Nasional Gunung Merapi, seperti yang ada di OWA Kalitalang. Lokasi ini berada pada radius 3,3 km dari Pos IV yang merupakan pos terakhir. Ini tetap masuk dalam zona bahaya,” pungkas Heri mengakhiri pernyataannya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version