Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Dua Perampok Bersenjata Celurit Sekap Nenek di Kebasen, Uang Rp7 Juta Raib

BANYUMAS, Cinta-news.com – Beringas! Kawanan perampok kembali membuat warga Banyumas, Jawa Tengah, bergidik ngeri. Minggu (15/2/2026) dini hari, giliran seorang nenek berusia 66 tahun menjadi korban kebiadaban mereka. Bayangkan, di saat separuh warga terlelap, dua pria bertopeng iblis itu menyusup masuk dan mengubah rumah tenang menjadi neraka yang mencekam.

Mereka menyasar Parsiti (66), seorang nenek yang tinggal di Desa Karangsari, Kecamatan Kebasen. Bukan sekadar mencuri, komplotan ini tega menyekap dan membungkam mulut korban dengan lakban di rumahnya sendiri! Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi, membenarkan peristiwa nahas itu.

Kronologi Mencekam: Dari Ruang Tamu hingga Ancaman Celurit

Detik-detik horor itu bermula sekitar pukul 00.50 WIB. Suasana rumah kontrakan itu sunyi. Parsiti dan anaknya sudah terlelap, bermimpi indah. Namun, tiba-tiba, suara berisik dari ruang tamu memecah keheningan. Refleks, Parsiti terbangun dan bergegas memeriksa sumber suara. Keputusan fatal yang mengubah malamnya menjadi mimpi buruk.

Begitu melangkah keluar dari kamar, Parsiti langsung berhadapan dengan dua bayangan hitam yang sudah bersiaga di dalam rumah! Tanpa basa-basi, kedua pelaku langsung melompat dan melakukan penganiayaan. Mereka membekap mulut nenek itu, lalu dengan kasar membalut tangannya menggunakan lakban hingga tak bisa bergerak. “Saat korban keluar kamar, dua pelaku yang sudah berada di dalam rumah langsung melakukan penganiayaan, mengikat tangan korban menggunakan lakban, serta mengancam dengan senjata tajam jenis celurit,” jelas Kombes Petrus dengan nada geram, Minggu.

Tak berhenti di situ, kekacauan di ruang tamu rupanya membangunkan anak Parsiti yang tertidur di kamar lain. Begitu membuka pintu, ia pun langsung menjadi sasaran berikutnya. Dua perampok itu tak memberinya kesempatan berteriak. Mereka langsung mengamankan anak korban dengan cara yang sama: mengancamnya dengan celurit dan mengikatnya dengan lakban. Dalam hitungan menit, seluruh penghuni rumah tak berdaya, hanya bisa pasrah di bawah ancaman senjata tajam.

Harta Benda Raib, Nyawa Jadi Taruhan

Setelah berhasil melumpuhkan kedua korban, kedua perampok itu bergerak cepat. Mereka mengobrak-abrik seluruh ruangan, membongkar lemari, dan mengambil semua barang berharga yang ditemukan. Tangan dingin mereka menggasak uang tunai sebesar Rp7.350.000 milik korban. Tak hanya itu, mereka juga menyikat sejumlah perhiasan emas milik keluarga. Petugas masih mendata total kerugian dari perhiasan tersebut. Yang lebih licik, mereka juga menemukan tiga kartu ATM milik anggota keluarga dan memaksa korban memberikan nomor PIN-nya.

Lepas dari Belenggu, Warga dan Polisi Bergerak Cepat

Selama berjam-jam, Parsiti dan anaknya terbaring dalam ketakutan dan kesakitan. Baru sekitar pukul 00.45 WIB—atau tepat satu jam setelah disekap—korban berhasil melepaskan ikatannya dengan susah payah. Dengan sisa tenaga dan rasa takut yang masih membuncah, Parsiti segera keluar rumah dan berlari meminta pertolongan ke rumah keluarga yang tinggal di belakangnya.

Dari sanalah, kabar perampokan ini menyebar cepat ke perangkat desa dan langsung diteruskan ke pihak kepolisian. Respon cepat pun datang. Tak lama setelah laporan diterima, Unit Reskrim bersama SPKT Polsek Kebasen langsung meluncur ke lokasi. Mereka langsung memasang garis polisi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara intensif. Tim Inafis dan Tim Resmob juga dikerahkan untuk mencari jejak dan petunjuk.

“Kami terus mengintensifkan pengumpulan keterangan dari pelapor dan para saksi. Kami juga sudah mengantongi beberapa petunjuk dan saat ini kami sedang memburu keberadaan terduga pelaku,” tegas Kombes Petrus, menunjukkan keseriusan pihaknya dalam mengusut kasus ini.

Polisi Siaga, Masyarakat Diminta Aktif

Menyikapi aksi brutal yang meresahkan ini, Polresta Banyumas langsung mengambil langkah antisipasi. Mereka meningkatkan intensitas patroli di jam-jam rawan, terutama di kawasan permukiman seperti Kebasen, pertokoan, dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Kombes Petrus mengimbau masyarakat untuk tak hanya mengandalkan polisi. “Kami meminta warga meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan kembali pos satkamling. Ini langkah preventif yang sangat efektif dalam menjaga situasi kamtibmas di lingkungan masing-masing,” pesannya.

Polresta juga menggandeng unsur pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk mengedukasi warga tentang pentingnya kewaspadaan lingkungan. Mereka mendorong sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang lebih aktif dan responsif.

Sumbang Juga Kena! Komplotan Makin Berani

Aksi perampokan ini bukan yang pertama di Banyumas. Publik masih ingat, baru sepekan lalu, tepatnya Senin (9/2/2026), komplotan perampok bersenjata tajam beraksi di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang. Bedanya, di lokasi itu jumlah pelaku diperkirakan lebih banyak, yakni empat orang. Mereka menyekap satu keluarga—pasangan suami istri dan dua anaknya—dalam rumah mereka sendiri. Nasib keluarga di Sumbang pun sama: mereka kehilangan uang tunai dan sejumlah barang berharga setelah disekap dan diancam dengan senjata tajam.

Dua peristiwa dalam waktu berdekatan ini jelas membuat publik bertanya-tanya. Apakah ini jaringan yang sama? Atau ada faktor kelengahan keamanan lingkungan? Yang jelas, aksi perampok di Banyumas kini semakin berani dan brutal. Mereka tak segan menyekap dan menganiaya korbannya, bahkan terhadap lansia sekalipun. Polisi kini berpacu dengan waktu untuk menangkap para pelaku sebelum mereka kembali beraksi dan membuat warga semakin ketakutan. Warga pun diimbau untuk tak ragu melapor jika melihat hal-hal mencurigakan di lingkungannya.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version