Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Dua Pekan Terjadi Karhutla, 34 Hektare Lahan di Aceh Barat Hangus Terbakar

ACEH BARAT, Cinta-news.com – Wah, kabar kurang sedap datang dari Bumi Teuku Umar! Kebakaran hutan dan lahan alias karhutla di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi dalam dua pekan terakhir. Bayangkan, luas lahan yang terbakar kini mencapai 34,1 hektare! Angka yang cukup mencengangkan, bukan?

Meskipun luasan area yang tersulut api terus bertambah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat punya kabar baik, lo. Sebagian besar lokasi kebakaran, untungnya, sudah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan di lapangan. Artinya, meskipun apinya besar, semangat para petugas tak pernah padam.

“Ngomong-ngomong soal perluasan, meski sudah meluas dan bertambah, namun sebagian besar lokasi kebakaran sudah berhasil kami padamkan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal, kepada wartawan pada Minggu malam di Meulaboh. Lega rasanya mendengar pernyataan ini, tapi tetap saja kewaspadaan harus ditingkatkan.

Bukan Hanya Satu Titik! Api Menyebar di Beberapa Kecamatan

Lalu, di mana saja sih titik-titik apinya? Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi atau Pusdalops BPBD Aceh Barat, karhutla ini ternyata tersebar di beberapa kecamatan. Jadi, bukan cuma satu dua lokasi, melainkan banyak!

Yang paling parah, sebaran lahan terbakar paling luas berada di Kecamatan Bubon. Tepatnya di Gampong Berawang, api membakar lahan seluas 15 hektare. Selanjutnya, di Gampong Kuta Padang Layung, apinya juga tak kalah ganas dengan luas 10 hektare. Total sudah 25 hektare di Bubon saja, gila banget, kan?

Selanjutnya, di Kecamatan Samatiga, karhutla juga terjadi di Gampong Cot Seumeurueng. Luasnya sekitar 4 hektare. Meskipun lebih kecil dibanding Bubon, tetap saja ini mengkhawatirkan. Kemudian, di Kecamatan Meureubo, kebakaran melanda Gampong Ujong Tanoh Darat dengan luas 2,6 hektare. Api seolah tak kenal lelah merambat ke mana-mana.

Titik Api Juga Muncul di Johan Pahlawan dan Arongan Lambalek

Tak berhenti di situ, BPBD Aceh Barat juga mencatat adanya karhutla di Kecamatan Johan Pahlawan. Di wilayah ini, lahan yang terbakar berada di Gampong Lapang seluas 1 hektare. Selain itu, di Gampong Seunebok juga ikut terbakar meskipun luasnya lebih kecil, yakni 0,5 hektare. Kecil tetap berbahaya, apalagi jika dibiarkan.

Bukan hanya itu! Karhutla juga terjadi di Kecamatan Arongan Lambalek, tepatnya di Gampong Gunung Pulo. Luas area yang terdampak sekitar 1 hektare. Jadi, total sudah ada lima kecamatan yang terkena imbas. Ini sudah seperti api yang merambat dari satu ranting ke ranting lainnya.

Operasi Pemadaman Maraton Sejak 31 Mei 2026

Lalu, sudah sejak kapan sebenarnya petugas berjibaku melawan si jago merah? Teuku Ronal menjelaskan bahwa operasi pemadaman karhutla di Aceh Barat ini ternyata sudah berlangsung secara maraton, non-stop, sejak 31 Mei 2026. Bayangkan, berhari-hari mereka bertahan!

Pemadaman sendiri dilakukan melalui dua jalur. Pertama, melalui jalur darat oleh tim gabungan dari berbagai unsur. Mereka masuk ke hutan, mengarahkan semprotan air, dan berusaha memotong jalur api. Namun, karena kondisi yang sulit, mereka juga mendapat bantuan dari jalur udara.

Nah, penanganan karhutla ini juga diperkuat lewat jalur udara dengan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. Langkah pemadaman lewat udara ini diambil untuk membantu menangani titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pesawat pun dikerahkan untuk menjatuhkan bom air dari atas.

Kendala di Lapangan: Asap Tebal dan Akses Sulit!

Meskipun sebagian besar titik api berhasil dipadamkan, perjuangan BPBD Aceh Barat ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Mereka masih menghadapi sejumlah kendala berat di lapangan. Apa saja?

Pertama, angin kencang yang bertiup membuat api lebih mudah bergerak dan berpotensi meluas ke area lain. Bayangkan, saat petugas hampir memadamkan satu titik, angin tiba-tiba membawa api ke area yang belum tersentuh. Kedua, kepulan asap tebal juga mengganggu jarak pandang petugas saat melakukan pemadaman. Mata perih, napas tersengal, tapi mereka tetap maju.

Selain itu, akses jalan menuju sebagian titik api sangat sulit dilalui kendaraan roda empat. Jalanan terjal, berlumpur, bahkan tidak ada jalan sama sekali. Kondisi ini membuat armada pemadam tidak dapat menjangkau seluruh lokasi kebakaran secara langsung. Jadi, mereka harus jalan kaki atau menggunakan motor trail yang lebih lincah.

Dampak Mulai Terasa! Kabut Asap Ganggu Warga

Karhutla di Aceh Barat ini tidak hanya merusak vegetasi di sejumlah lokasi. Dampaknya sudah mulai dirasakan oleh warga sekitar. Kabut asap dari area terbakar mulai mengganggu pernapasan masyarakat. Anak-anak dan lansia menjadi yang paling rentan terkena dampaknya.

BPBD Aceh Barat pun menilai bahwa potensi perluasan api masih harus diwaspadai. Apalagi jika sekat api tidak segera dibuat dan pemadaman tidak dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, kewaspadaan harus terus dijaga, jangan sampai lengah sedikit pun.

BPBD Kerahkan Segala Kemampuan: Kendaraan dan Pompa Air

Dalam menghadapi bencana ini, BPBD Aceh Barat tidak tinggal diam. Mereka mengerahkan sejumlah sarana dan prasarana yang ada. Peralatan yang diturunkan meliputi dua unit mobil dobel kabin, satu unit Panther Pick-Up, satu unit motor trail, dan tiga unit mesin pompa air. Semua dikerahkan ke titik-titik kritis.

Selain itu, upaya pemadaman juga dibantu satu unit armada 014 dan pompa air milik masyarakat gampong. Kolaborasi antara pemerintah dan warga memang menjadi kunci utama. Tanpa bantuan warga, mungkin api akan lebih sulit dikendalikan.

Tim Gabungan Bahu-membahu Padamkan Api

Teuku Ronal pun menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla ini. Menurut dia, pemadaman dapat berjalan dengan baik karena adanya kolaborasi yang luar biasa.

Siapa saja yang terlibat? Penanganan ini melibatkan BPBD Aceh Barat, Kodim 0105 Aceh Barat, Koramil setempat, Polres Aceh Barat, dan Polsek setempat. Tidak hanya itu, Pos Damkar Woyla, petugas Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH IV, UKM PK Universitas Teuku Umar (UTU), serta masyarakat di lokasi kejadian juga ikut turun tangan. Keren banget, kan, semangat gotong royongnya?

Himbauan untuk Warga: Jangan Buka Lahan dengan Membakar!

Di akhir pernyataannya, BPBD Aceh Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi karhutla selama cuaca kering. Apalagi saat ini sedang musim kemarau, sekali percikan api bisa menjadi besar.

Warga juga diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena api sangat mudah merambat dan sulit dikendalikan dalam kondisi kering. Lebih baik membersihkan lahan secara manual meskipun lebih melelahkan, tetapi jauh lebih aman.

Imbauan ini disampaikan untuk mencegah munculnya titik api baru di tengah operasi pemadaman yang masih berlangsung. Jangan sampai petugas yang sudah kewalahan harus menghadapi kebakaran baru karena ulah kita sendiri. Mari jaga lingkungan bersama-sama!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version