Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Derita BUMN: Whoosh Picu Kerugian Besar Rp 4,19 Triliun

Cinta-news.com – Tahun 2024 menjadi periode kelam bagi PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Kondisi keuangan perusahaan mengalami tekanan luar biasa. Layaknya besar pasak daripada tiang, pendapatan tiket dari penumpang ternyata tidak sebanding dengan biaya operasional yang membengkak.

Dampak Berantai ke Konsorsium BUMN

Kerugian KCIC berimbas pada empat BUMN dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Konsorsium ini memegang saham mayoritas KCIC dengan anggota PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Jasa Marga, dan PTPN.

Awalnya, para pihak merencanakan proyek Whoosh sebagai kemitraan murni bisnis tanpa melibatkan campur tangan pemerintah. Kenyataannya, sebagian besar pendanaan justru berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).

Biaya proyek yang membengkak memaksa pemerintah turun tangan. Melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT KAI dan pemberian jaminan pembayaran utang, pemerintah mencoba menyelamatkan proyek ini.

Laporan Keuangan Mengungkap Kerugian Besar

Meski KCIC tidak mempublikasikan laporan keuangan, rapor merah perusahaan terlihat dari laporan PT KAI. Sebagai induk usaha, KAI harus menanggung kerugian sesuai porsi sahamnya di PSBI.

Data per 30 Juni 2025 menunjukkan fakta mencengangkan. PSBI mencatat kerugian mencapai Rp 4,195 triliun sepanjang 2024. Yang lebih mengkhawatirkan, kerugian terus berlanjut hingga semester I-2025 dengan nilai Rp 1,625 triliun.

KAI Menanggung Beban Terberat

Sebagai pemegang saham terbesar (58,53%), nyatanya KAI memikul tanggung jawab terbesar. Bahkan pada semester I-2025, KAI harus menanggung kerugian sekitar Rp 951,48 miliar. Sementara itu, pada periode 2024, beban yang ditanggung ternyata mencapai Rp 2,24 triliun.

Tiga BUMN lainnya juga terkena dampaknya. WIKA dengan kepemilikan 33,36% harus menanggung kerugian signifikan. Begitu pula Jasa Marga (7,08%) dan PTPN VIII (1,03%) ikut merasakan efek negatifnya.

Whoosh: Bom Waktu Keuangan

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengaku akan berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anggara Nusantara (BPI Danantara). Langkah ini diambil menanggapi desakan Komisi VI DPR RI yang meminta penjelasan tentang beban utang KCIC.

“Koordinasi dengan Danantara sangat penting untuk mengurai masalah KCIC. Situasi ini ibarat bom waktu yang harus segera diselesaikan,” tegas Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR.

Anggia Emarini, Ketua Komisi VI DPR RI, menyayangkan kondisi ini. Padahal, kinerja KAI sebenarnya cukup baik. Namun, beban Whoosh membuat performa keuangan perusahaan anjlok.

Proyeksi Kerugian ke Depan Mengkhawatirkan

Anggota Komisi VI Darmadi Durianto memprediksi beban akan semakin berat. Dalam dua tahun terakhir, nilai kerugian sudah mencapai angka fantastis. “Jika dihitung, kerugian dari KCIC bisa tembus Rp 4 triliun lebih pada 2025,” ujarnya.

Darmadi memperingatkan skenario terburuk. tanpa penyelesaian utang, beban KAI bisa melonjak hingga Rp 6 triliun pada 2026.

Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi VI lainnya, mengungkapkan upaya penyelamatan yang dilakukan. Pada 2025, KAI telah menyuntikkan modal tambahan Rp 7,7 triliun untuk KCIC.

“Proyek strategis nasional ini menelan investasi US$ 7,2 miliar atau setara Rp 116 triliun. Kerugian yang terjadi sangat disayangkan mengingat besarnya investasi yang sudah dikeluarkan,” jelas Rieke.

Situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi pengelolaan proyek infrastruktur strategis di Indonesia. Pentingnya evaluasi mendalam dan pengawasan ketat dalam pelaksanaan proyek-proyek besar menjadi kunci untuk menghindari kerugian serupa di masa depan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version