YOGYAKARTA, Cinta-news.com – Di balik keindahan alam Gunung Merapi yang memesona, ancaman maut justru masih terus mengintai setiap langkah para pendaki! Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dengan tegas mengeluarkan peringatan keras bahwa aktivitas mendaki gunung berapi paling aktif di Jawa ini menyimpan risiko yang sangat fatal. Meskipun belakangan ini marak ditemukan aktivitas pendakian mandiri yang dilakukan oleh sekelompok orang, seluruh jalur menuju puncak Merapi hingga saat ini tetap dinyatakan dalam status berbahaya. Mengapa demikian? Karena ancaman erupsi eksplosif bisa meledak sewaktu-waktu tanpa ada yang bisa memprediksi secara pasti!
Peringatan mengerikan ini langsung disampaikan oleh Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyusul beredarnya video viral yang memperlihatkan puluhan orang dengan santainya berada di kawasan Pasar Bubrah, Gunung Merapi. Banyak yang menduga bahwa kedatangan mereka merupakan bagian dari persiapan pembukaan jalur pendakian mandiri yang selama ini ditutup resmi. Namun, Agus dengan nada tegas langsung membantah dan mengingatkan bahwa keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar sensasi mendaki gunung.
“Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan,” ujar Agus ketika ditemui awak media pada Rabu (1/7/2026).
Erupsi Eksplosif Mengancam, Bisa Meledak Tanpa Peringatan!
Bayangkan, Anda sedang asyik menikmati pemandangan kabut pagi dari ketinggian, tiba-tiba tanah berguncang dahsyat dan langit berubah gelap oleh awan panas! Inilah skenario terburuk yang sangat mungkin terjadi di Gunung Merapi. Agus menjelaskan dengan rinci bahwa ancaman terbesar yang membayangi para pendaki adalah kemungkinan terjadinya erupsi eksplosif yang dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan berarti. Tidak ada sirene, tidak ada tanda-tanda yang cukup jelas bagi orang awam untuk segera menyelamatkan diri.
Menurut penjelasan Agus, jika letusan eksplosif benar-benar terjadi, material vulkanik berbahaya seperti batu pijar, pasir panas, dan abu vulkanik bisa terlontar dengan kecepatan tinggi hingga radius sekitar 3 kilometer dari kawah. “Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut,” ungkapnya dengan penuh kekhawatiran.
Para pendaki yang nekat mungkin berpikir bahwa mereka bisa berlari lebih cepat dari material letusan. Namun kenyataannya, kecepatan awan panas guguran (wedhus gembel) bisa mencapai ratusan kilometer per jam! Tidak ada manusia yang bisa melarikan diri dari kematian secepat itu. Inilah mengapa BPPTKG terus mengulang-ulang peringatan ini, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyelamatkan.
Fase Erupsi Efusif Bukan Jaminan Aman!
Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa karena Gunung Merapi saat ini berada dalam fase erupsi efusif—di mana magma keluar secara perlahan ke permukaan seperti aliran lava yang tenang—maka risiko letusan besar sudah berlalu. Eits, tunggu dulu! Anggapan ini justru sangat keliru dan berbahaya!
Agus menerangkan dengan jelas bahwa kondisi erupsi efusif sama sekali bukan berarti ancaman letusan eksplosif telah berakhir. Justru sebaliknya, dalam fase inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi dan bahkan bisa lebih sulit diprediksi. “Justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi,” tuturnya sambil menekankan setiap kata.
Kepala BPPTKG itu kemudian menjelaskan mekanisme mengapa erupsi eksplosif bisa terjadi di tengah fase efusif. Ketika saluran keluarnya magma tiba-tiba mengalami penyumbatan, tekanan gas di dalam perut gunung akan terus meningkat secara luar biasa. Bayangkan seperti panci presto yang uapnya tersumbat—tekanan akan terus naik hingga akhirnya meledak dengan kekuatan dahsyat!
“Kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri,” tegas Agus.
Data Historis Membuktikan: Merapi Sering Meletus Eksplosif!
Tidak main-main, BPPTKG telah meneliti catatan vulkanologi selama sekitar 300 tahun terakhir. Hasilnya sangat mencengangkan! Gunung Merapi ternyata pernah mengalami sedikitnya lima tipe erupsi yang berbeda. Namun yang paling mengkhawatirkan, dari seluruh jenis erupsi tersebut, erupsi eksplosif menjadi tipe yang paling sering terjadi! Ini berarti Merapi memang memiliki “kepribadian” yang cenderung meledak-ledak, bukan sekadar mengalirkan lava dengan tenang.
Lebih mencengangkan lagi, BPPTKG mencatat bahwa sejak erupsi besar dahsyat pada tahun 2010 yang merenggut banyak korban jiwa, telah terjadi sedikitnya 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh aktivitas erupsi freatik. Erupsi freatik adalah letusan yang terjadi akibat air tanah yang masuk ke dalam magma panas, menghasilkan ledakan uap yang sangat kuat. Ini membuktikan bahwa Merapi masih sangat aktif dan tidak pernah benar-benar “tidur” dalam waktu yang lama.
“Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi,” katanya dengan nada memperingatkan.
BTNGM Tegaskan: Pendakian Masih Ilegal dan Akan Ditindak!
Sementara itu, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) juga angkat bicara untuk meluruskan berbagai spekulasi yang beredar. Kepala BTNGM, Heri Wibowo, dengan tegas memastikan bahwa aktivitas yang terekam dalam video viral di kawasan Pasar Bubrah merupakan pendakian ilegal. Mengapa? Karena seluruh jalur pendakian Gunung Merapi masih resmi ditutup untuk umum!
Heri menjelaskan bahwa pihaknya telah mengirim surat balasan tertanggal 30 Juni 2026 yang dengan jelas tidak merekomendasikan survei pembukaan jalur pendakian mandiri. “Menyampaikan, tapi kami tidak rekomendasikan,” kata Heri pada Rabu (1/7/2026). Ini berarti pemerintah pusat dan daerah sama sekali tidak memberi lampu hijau bagi aktivitas pendakian dalam bentuk apa pun.
Lebih lanjut, Heri mengingatkan bahwa BTNGM akan bertindak tegas terhadap para pelanggar. Apabila masih ada pihak yang tetap memaksakan diri untuk mendaki, BTNGM akan segera berkoordinasi dengan kepolisian dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat. “Kalau mereka memaksa, kami sekarang memantau saja siapa saja yang di balik itu. Kalau benar naik, nanti kami kolaborasi dengan Polres maupun Balai Gakkum untuk mengidentifikasi siapa saja yang terlibat,” tegas Heri dengan nada serius.
Keselamatan Adalah Segalanya!
Dengan segala ancaman yang telah dipaparkan oleh BPPTKG dan BTNGM, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tetap nekat mendaki Gunung Merapi saat ini. Keindahan pemandangan dari puncak memang menggoda, tetapi nyawa jauh lebih berharga. Erupsi eksplosif bisa terjadi kapan saja, tanpa peringatan, dan menjangkau radius hingga 3 kilometer dari kawah. Tidak ada teknik pendakian atau perlengkapan canggih yang bisa melindungi dari guguran awan panas atau lontaran batu pijar.
Oleh karena itu, mari kita patuhi imbauan resmi dari pemerintah. Tunggulah hingga status Gunung Merapi benar-benar dinyatakan aman untuk pendakian. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan orang-orang tercinta yang menunggu di rumah. Ingatlah bahwa gunung akan selalu ada, tetapi kesempatan untuk mendaki hanya bisa terwujud jika kita masih hidup dan sehat!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
