Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Biaya Pakan Naik, Harga Jual Telur Stagnan, Peternak Magetan Minta DPR Turun Tangan

MAGETAN, Cinta-news.com Bayangkan, harga telur di tingkat peternak masih terombang-ambing tak menentu. Sementara di sisi lain, biaya produksi justru meroket tanpa ampun. Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mendorong para peternak ayam petelur asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk mengambil langkah berani. Mereka berencana membawa langsung keluhan ini ke Jakarta, tepatnya ke hadapan pemerintah pusat dan Komisi IV DPR RI, demi mencari titik terang atas persoalan yang tak kunjung usai.

Peternak Menjerit: Harga Acuan Tak Pernah Terealisasi

Di tengah himpitan ekonomi yang kian terasa, Suparlan, seorang peternak ayam petelur dari Kecamatan Panekan, Magetan, dengan lantang menyuarakan kegelisahan yang dirasakan oleh ribuan peternak di daerahnya. Keberangkatan ke Jakarta bukan sekadar aksi simbolis, melainkan bagian dari perjuangan nyata untuk menuntut kejelasan dan kepastian atas harga acuan yang hingga kini masih jauh panggang dari api. “Kami hanya ingin mengevaluasi kesepakatan yang selama ini sudah dibangun, baik dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Nyatanya, harga HAP yang dulu disampaikan Pak Amran hingga saat ini realisasi di lapangan belum sepenuhnya terealisasi,” ujarnya dengan nada kecewa saat ditemui di Kantor DPRD Magetan, usai menyampaikan keluhan panjang lebar pada Rabu sore (26/8/2026).

Sungguh pilu, karena di saat para peternak berharap ada keringanan, biaya produksi justru naik terus-menerus. Harga jagung, yang menjadi komponen utama pakan unggas, saat ini bertengger di posisi Rp 6.800 hingga Rp 7.000 per kilogram. Ini saja sudah menyulitkan, tetapi harga pakan jadi juga menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan, melonjak sekitar Rp 200 setiap pekan, dengan angka terakhir menembus Rp 468.000. Padahal, sebelumnya sempat ada janji untuk menghentikan laju kenaikan ini, tetapi kenyataan di lapangan justru bertolak belakang. Suparlan mengeluhkan, “Dengan harga pakan yang awalnya itu di-stop tidak boleh naik, namun kenyataan hari ini tetap saja melambung tinggi.”

Di sisi lain, harga telur yang keluar dari kandang masih tertahan di angka sekitar Rp 28.000 per kilogram. Bayangkan ironinya! Biaya produksi membubung, tapi pendapatan peternak tetap stagnan. Suparlan menilai, ketidakpastian harga ini menambah derita peternak yang sudah tercekik oleh biaya operasional yang tak terkendali. Ia pun menyayangkan jika pemerintah hanya mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai solusi jangka pendek. Menurutnya, pemerintah tidak boleh lalai untuk membenahi harga di pasar konvensional karena justru di sinilah denyut nadi perekonomian peternak sebenarnya berdetak. “Yang kami harapkan adalah harga konvensional pasar, itu realisasinya. Karena harga konvensional itu betul-betul bisa mendongkrak pasar,” tegasnya dengan penuh harap.

Program MBG Belum Cukup, Peternak Masih Merana

Memang, program Serapan MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diakui bisa memberikan sedikit angin segar. Namun, Suparlan dengan terus terang mengungkapkan bahwa cakupannya masih sangat terbatas dan belum mampu dirasakan oleh seluruh peternak yang ada. Hanya sebagian kecil peternak yang kebagian jatah, sementara yang lainnya masih merana dengan harga jual yang terpuruk. “Kalau SPPG hanya mencakup sekian persen, ya oke, kami setuju dan menghargai. Tapi tolong diingat, harga HAP itu Rp 26.800, tapi tidak semua peternak bisa merasakan keuntungan dari program itu,” jelasnya dengan nada prihatin yang dalam.

Lebih jauh, Suparlan menekankan bahwa persoalan ini tidak berdiri sendiri di Magetan. Kondisi serupa dialami oleh peternak di berbagai daerah di Indonesia. Ini adalah masalah nasional yang menuntut perhatian serius dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, rencana untuk menyampaikan aspirasi secara langsung ke Komisi IV DPR RI di Jakarta menjadi langkah yang sangat krusial. Ia berharap, pertemuan dengan para wakil rakyat ini bukan sekadar seremonial, tetapi menghasilkan keputusan nyata yang berpihak pada peternak rakyat. “Permasalahan peternakan ini bukan Magetan saja, tapi sifatnya juga nasional,” pungkasnya.

Langkah Nyata ke Senayan: Harapan Terakhir Peternak Rakyat

Dengan segala kerendahan hati, Suparlan berharap agar suara rakyat kecil ini dapat didengar dan diakomodasi dengan baik. Ia memimpikan adanya solusi jitu yang tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi memberikan dampak luas bagi kesejahteraan peternak di seluruh Indonesia. “Kami berharap aspirasi dari rakyat kecil, peternak rakyat itu betul-betul diakomodasi, sehingga melahirkan satu keputusan yang bisa menjadi solusi terbaik untuk para peternak,” harapnya dengan penuh optimisme.

Sementara itu, di tengah rencana besar ini, banyak peternak lain yang juga mulai bersiap-siap untuk bergerak. Mereka tidak mau terus diam saat harga telur tak kunjung membaik sementara biaya produksi terus menggerogoti. Apakah langkah ini akan membuahkan hasil? Kita nantikan kabar selanjutnya dari perjuangan para peternak Magetan yang siap mengguncang Jakarta!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version