JAKARTA, Cinta-news.com – Berita mengejutkan langsung mengguncang dunia politik Indonesia. Pemerintah memutuskan untuk menyumbang iuran sukarela kepada Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Badan baru ini merupakan gagasan langsung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Mengapa Indonesia tiba-tiba mengambil langkah besar ini? Ternyata, jawabannya sangat strategis.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengonfirmasi keputusan penting ini dalam sebuah konferensi pers. Rapat tertutup dengan Komisi I DPR RI baru saja selesai. “Presiden memutuskan untuk ikut berpartisipasi,” ujar Sugiono. Namun, kita harus meluruskan satu hal penting. Iuran dari Indonesia bukanlah iuran keanggotaan tetap sebesar 1 miliar dollar AS.
Di sinilah letak poin utamanya. Menlu Sugiono menjelaskan bahwa Indonesia justru akan mendapat status anggota secara gratis selama tiga tahun. Lalu, apa tujuan iuran sukarela itu? Fokusnya ternyata adalah Gaza, Palestina. Sugiono menegaskan bahwa dana terkumpul akan dipakai untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan di sana. Dana tersebut juga akan mendanai rekonstruksi wilayah konflik.
“Ini bukan membership fee,” tegas Sugiono. “Mari kita lihat kronologinya. Pembentukan Board of Peace merupakan upaya konkret untuk menyelesaikan situasi di Gaza. Lalu, muncul pertanyaan penting. Siapa yang akan membayar biaya rekonstruksi? Dari mana dananya akan datang? Oleh karena itulah, negara-negara undangan diajak untuk berpartisipasi. Tentunya, ada keuntungan lain yaitu status keanggotaan,” paparnya.
Sugiono kembali menekankan satu hal. Kontribusi finansial ini bersifat sukarela, bukan sebuah kewajiban. “Tidak, tidak wajib. Semua negara undangan berhak menjadi anggota selama tiga tahun. Itu isi piagamnya. Namun, partisipasi dengan satu miliar dollar akan memberikan status permanen,” tambahnya. Meski begitu, pemerintah masih merahasiakan besaran nominal yang akan disetorkan.
Di sisi lain, prosesnya ternyata masih berlangsung. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyebut pembahasan teknis masih terus berjalan. “Skema pembayarannya sudah dijelaskan, tetapi ini masih dalam perkembangan,” kata Dave. “Selain itu, masih ada beberapa kesepakatan lain antara Indonesia dan AS yang sedang didiskusikan. Jadi, kami serahkan sepenuhnya pada pemerintah,” sambungnya.
Dukungan dari parlemen justru mengalir dengan kuat. Dave Laksono meyakini keputusan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah brilian. “Kami yakin ini adalah gebrakan baru. Presiden Prabowo melihatnya sebagai peluang emas. Indonesia bisa memberi sumbangsih nyata untuk perdamaian dunia,” ujarnya. Komisi I DPR RI pun memberikan dukungan penuh terhadap keputusan strategis ini.
Lantas, bagaimana Indonesia bisa bergabung? Momen bersejarah itu terjadi di sela World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss. Presiden Prabowo Subianto sendiri yang menandatangani piagam pembentukannya pekan lalu. Ini bukan sekadar tanda tangan biasa. Tindakan itu merupakan pernyataan politik yang sangat lantang.
Apa sebenarnya tujuan besar Indonesia? Menlu Sugiono telah mengungkapkannya dengan jelas. Tujuan utamanya adalah mengawal arah kebijakan Dewan Perdamaian. Indonesia ingin memastikan kebijakan itu konsisten pada tujuan utama, yaitu kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara. Kehadiran Indonesia dinilai sangat vital. Mereka bisa memberikan masukan dan pengaruh politik agar setiap langkah bersifat nyata.
“Kehadiran Board of Peace ini adalah langkah konkret. Tujuannya agar upaya perdamaian benar-benar mengarah pada kemerdekaan Palestina,” pungkas Sugiono. Organisasi ini dibentuk untuk menyelesaikan berbagai konflik global. Fokus awalnya adalah rekonstruksi Gaza, tetapi ranah kerjanya tidak terbatas. Organisasi ini juga akan mencakup kawasan konflik lain di dunia.
Dewan eksekutif organisasi ini akan dipimpin langsung oleh Donald Trump. Beberapa tokoh penting dunia akan mengisi keanggotaannya. Skema iurannya kini sudah jelas. Anggota tetap wajib membayar 1 miliar dollar AS. Namun, negara yang tidak membayar tetap bisa menikmati status anggota penuh selama tiga tahun. Di posisi inilah Indonesia bermain dengan cerdas. Mereka berkontribusi pada perdamaian Gaza tanpa membayar mahal untuk kursi tetap. Namun, Indonesia tetap memiliki panggung untuk menyuarakan kepentingannya di forum global. Sebuah langkah yang sangat cerdik.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











