Cinta-news.com – Bencana alam dan cuaca ekstrem gencar menghantam Kabupaten Probolinggo hingga menyebabkan kerusakan fatal pada 38 jembatan di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Probolinggo langsung menggelar evaluasi total guna memetakan dampak kerusakan yang kian memprihatinkan tersebut.
Menanggapi situasi darurat ini, Bupati Probolinggo Mohammad Haris, atau yang akrab disapa Gus Haris, mendesak jajarannya untuk segera menuntaskan proyek normalisasi sungai di zona rawan banjir. Langkah cepat ini beliau instruksikan agar bahaya infrastruktur hancur tidak terus terulang di masa depan.
Selanjutnya, Gus Haris menyampaikan instruksi penting tersebut secara langsung seusai memimpin apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi yang berlangsung di halaman Mapolres Probolinggo pada Sabtu (7/11/2026).
Menurut penuturan beliau, jajaran pemerintah wajib mengantisipasi potensi bahaya bencana sejak dini karena Probolinggo memiliki rekam jejak kelam. Bahkan, cuaca ekstrem di masa lalu terbukti sanggup meluluhlantakkan puluhan jembatan, merusak akses jalan vital, hingga memusnahkan lahan pertanian milik warga.
Dengan nada penuh penekanan, Gus Haris mengingatkan seluruh instansi, “Jangan sampai kejadian-kejadian sebelumnya terulang kembali. Karena itu, kita harus melakukan evaluasi dan mempersiapkan langkah mitigasi sejak dini.”
Bukan Cuma Kesiapan Personel, Infrastruktur Rawan Wajib Dibenahi Total!
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa strategi penanganan bencana tidak boleh berfokus pada kesiapan personel dan peralatan teknis semata. Selain itu, pemerintah daerah wajib membenahi berbagai infrastruktur yang rentan rusak, terutama merapikan aliran sungai pemicu banjir yang selama ini belum tersentuh normalisasi.
Di samping masalah sungai, beliau juga menaruh perhatian besar pada kualitas serta ketahanan fisik bangunan jembatan. Oleh sebab itu, beliau sangat berharap jembatan yang telah dibangun kembali mampu bertahan kokoh sehingga tetap bisa menunjang mobilitas harian warga saat cuaca buruk menerjang.
Tak hanya ancaman banjir bandang, pihak Pemkab Probolinggo juga mengantisipasi potensi bahaya lain seperti angin puting beliung hingga gempa bumi. Maka dari itu, Gus Haris menginstruksikan seluruh instansi terkait, mulai dari BPBD, kepolisian, TNI, pemadam kebakaran, hingga dinas teknis untuk memperkuat koordinasi interaktif di lapangan.
Seraya membakar semangat tim gabungan, Gus Haris menyerukan pesan persatuan, “Semua harus bahu-membahu. Kita persiapkan mitigasi ini dengan baik agar risiko bencana dapat diminimalkan dan masyarakat Kabupaten Probolinggo lebih terlindungi.”
Jejak Kerusakan Masif: Dari Akses Madakaripura Hingga Lereng Argopuro
Jika melihat data dalam kurun waktu setahun terakhir, amukan cuaca ekstrem memang telah melenyapkan serta merusak 38 jembatan secara masif. Bentuk kerusakannya bervariasi, mulai dari jembatan yang putus total akibat banjir bandang hingga fondasi beton yang ambles karena tergerus tanah longsor.
Bahkan, data resmi yang dihimpun BPBD Kabupaten Probolinggo bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunjukkan fakta mengejutkan bahwa sebaran titik kerusakan tersebut telah meluas hingga ke belasan wilayah kecamatan.
Berdasarkan rincian lokasi, Kecamatan Gading mencatatkan dampak kerusakan paling parah yang melingkupi Desa Kalianan, Betektaman, Prasi, Batur, hingga Kaliacar. Bahkan, jembatan vital penghubung jalur Satreyan (Maron) menuju Sumbersecang (Gading) dilaporkan runtuh total disapu air bah.
Bergeser ke kawasan Kecamatan Sumberasih, dahsyatnya luapan air sungai juga merubuhkan jembatan gantung di Dusun Beji, Desa Banjarsari, hingga terputus total tak tersisa.
Sementara itu di lokasi lain, hantaman arus deras menghanyutkan jalur penghubung Desa Jangur menuju Desa Sumberbendo tanpa sisa. Di sisi lain, jembatan yang menghubungkan Desa Ambulu dan Desa Sumberbendo juga menderita kerusakan sedang pada struktur fondasinya.
Beralih ke wilayah timur Probolinggo, jembatan beton kokoh yang menghubungkan Desa Sumber Centeng (Kotaanyar) dengan Desa Glagah (Pakuniran) mendadak ambruk total setelah fondasi utamanya terkikis habis oleh luapan sungai.
Tak berhenti di situ, beberapa jembatan desa beserta jembatan penunjang kantong produksi pertanian di Kecamatan Pakuniran turut hancur merana akibat terendam banjir bandang secara terus-menerus.
Memasuki wilayah Kecamatan Lumbang, kehebatan banjir dan tanah longsor menghancurkan Jembatan Duren (Curah Soyo) di Desa Negororejo. Padahal, jembatan ini menjadi akses utama masyarakat dan wisatawan menuju obyek wisata ternama Air Terjun Madakaripura.
Sementara itu di Kecamatan Tongas, hantaman banjir merobohkan jembatan antardusun di Dusun Mendek Kulon, Desa Sumberkramat. Alhasil, peristiwa tersebut melumpuhkan aktivitas dan mobilitas harian warga setempat secara total.
Naik ke kawasan lereng pegunungan, tanah longsor merusak jembatan penghubung antarkabupaten antara Kecamatan Sukapura dan Kecamatan Sumber di Dusun Bobor hingga mencapai tingkat kerusakan 40 persen.
Selanjutnya di Dusun Kedaton, Kecamatan Tiris, ancaman bahaya muncul karena tembok penahan tanah beserta oprit jembatan mengalami retak parah sehingga berisiko tinggi memicu tanah longsor susulan.
Masih di kawasan rawan lereng Gunung Argopuro, luapan anak sungai menghancurkan beberapa jembatan desa serta jembatan bambu darurat di Desa Andsari dan Telo Argo hingga terputus total.
Adapun sisa kerusakan jembatan lainnya tersebar merata di sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) rawan bencana di Kecamatan Besuk, Krejengan (termasuk kawasan Desa Seboro), hingga wilayah Kraksaan.
Gebrakan Pemkab Probolinggo: Kucurkan BTT Demi Normalisasi 8 DAS
Sebagai langkah penanganan cepat, Pemkab Probolinggo bersama Pemprov Jatim kini memprioritaskan kucuran dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk membangun jembatan darurat sekaligus menormalisasi 8 DAS. Langkah strategis ini diambil guna memastikan infrastruktur yang baru dibangun tidak kembali hancur diserang ganasnya musim hujan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











