Cinta-news.com – Dunia memang lagi panas-panasnya, tapi dampaknya langsung terasa di kantong energi kita. Bayangkan, dua kapal raksasa pengangkut minyak untuk kebutuhan dalam negeri masih terjebak di pusaran perang! Kabar terbaru datang dari Selat Hormuz, jalur laut paling berbahaya di dunia saat ini, di mana Kementerian Luar Negeri RI buka suara soal nasib armada Pertamina yang tertahan. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya, bagaimana nasib pasokan energi kita jika kedua kapal ini tak kunjung bisa bergerak?
Di tengah riuhnya suara rudal dan deru jet tempur di kawasan Teluk, diplomat Indonesia tak tinggal diam. Mereka nekat menemui penguasa langsung di lokasi. Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengonfirmasi langkah berani tersebut pada Senin (16/3/2026). “Perwakilan kita di Teheran sudah masuk dan mengadakan pertemuan intens dengan otoritas terkait di Iran,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan. Ia menegaskan, komunikasi ini bukan basa-basi, melainkan upaya keras memastikan bendera Merah Putih tetap aman di tengah gempuran misil. Setiap pertemuan yang dilakukan diplomat kita, jelasnya, selalu mengedepankan pendekatan damai namun tegas.
Lobi Intens di Balik Layar: Diplomat Gelar “Perang Saraf” demi Keselamatan ABK
Langkah pertama yang diambil para diplomat ini cukup cerdik. Sebelum berhadapan dengan petinggi Iran, mereka lebih dulu menjalin komunikasi erat dengan pemilik kapal, yaitu Pertamina International Shipping (PIS). “Kita terus pantau perkembangannya secara saksama bersama PIS,” tambah Vahd. Jadi, sambil negosiasi di meja atas berjalan, data dari lapangan tetap mengalir deras. Bukan hanya urusan izin melintas, tapi nyawa anak buah kapal (ABK) juga menjadi prioritas utama dalam setiap pertemuan tertutup tersebut. Para diplomat kita terus meng-update kondisi kru kapal, memastikan mereka dalam keadaan sehat dan mendapat pasokan logistik yang cukup meski dalam situasi terbatas.
Namun, situasinya memang masih memanas. Selat Hormuz, yang selama ini kita kenal sebagai jalur emas minyak dunia, kini berubah menjadi “lautan api” karena konflik terbuka antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Setiap hari, media internasional memberitakan manuver kapal perang dan serangan rudal di kawasan tersebut. Akibatnya, tidak main-main, ada empat kapal milik PIS yang sempat terperangkap. Mereka adalah PIS Paragon, PIS Rinjani, Gamsunoro, dan Pertamina Pride. Keempatnya sempat tak bisa bergerak sama sekali selama beberapa hari, menunggu situasi benar-benar aman atau ada izin khusus dari otoritas setempat.
Dua Kapal Lolos, Dua Lainnya Masih Tertahan
Tapi kabar baiknya, dua kapal sudah berhasil lolos dari kepungan konflik. “Dari empat kapal, dua unit sudah beranjak dari area konflik, yaitu PIS Rinjani dan PIS Paragon,” jelas Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dalam keterangan resminya, Selasa (10/3/2026). Artinya, usaha keras diplomasi dan manuver mulai menunjukkan hasil. Manuver cepat ini pun diapresiasi karena berhasil menyelamatkan aset negara dari zona merah. Kedua kapal tersebut kini sudah berada di perairan yang lebih aman dan melanjutkan pelayaran sesuai rute yang ditentukan.

Sayangnya, perjuangan belum usai. Dua kapal lainnya, Gamsunoro dan Pertamina Pride, masih belum bisa melewati Hormuz. Mereka seperti sedang menunggu lampu hijau di tengah simpang siur situasi perang. Setiap detik berharga, karena selama kapal ini tak bisa bergerak, rantai pasok energi ikut bergetar. Para pengamat menilai, posisi kedua kapal ini mungkin berada di titik yang lebih rumit secara geografis, sehingga membutuhkan negosiasi lebih panjang dengan pihak penjaga jalur laut di sana.
Kapal-kapal ini bukan kapal biasa, lho. Gamsunoro, misalnya, tengah bertugas membawa kargo milik konsumen pihak ketiga. Jadi, bukan hanya kepentingan nasional yang terdampak, tapi juga kepercayaan mitra bisnis internasional. Sementara itu, Pertamina Pride adalah raksasa laut jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang sedang dalam misi krusial: mengangkut pasokan minyak mentah ringan (light crude) untuk menjaga nyala kilang minyak dan memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Jadi, bayangkan, setiap hari kapal ini tertahan, pasokan energi kita ikut tertahan. Harga minyak dunia yang fluktuatif ditambah keterlambatan pasokan tentu menjadi perhatian serius pemerintah.
Dengan diplomat yang sudah bertatap muka langsung dengan otoritas Iran, publik berharap dua kapal tersisa ini bisa segera menyusul dua kapal sebelumnya. Semua mata kini tertuju pada negosiasi di balik layar. Apakah “sandi” diplomasi Indonesia akan berhasil membuka blokade tak terlihat di Selat Hormuz? Kita tunggu kabar selanjutnya dari garis depan diplomasi Garuda. Yang jelas, pemerintah berkomitmen penuh untuk membawa pulang kapal dan ABK dalam keadaan selamat, serta memastikan kebutuhan energi rakyat tetap terpenuhi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











