SEMARANG, Cinta-news.com – Tanah bergerak mengamuk di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kota Semarang sejak awal Februari 2026. Akibatnya, belasan rumah warga retak parah. Bahkan, empat rumah beserta kandang ternak roboh total hingga rata dengan tanah. Sejak kejadian nahas itu, 63 warga terpaksa bertahan hidup di tenda pengungsian yang didirikan BNPB.
Tenda Darurat & Dapur Umum Jadi Andalan Hidup Sehari-hari
Saat kami memantau langsung ke lokasi, tenda-tenda darurat BNPB tampak berjajar rapi di pengungsian yang lokasinya tidak jauh dari perkampungan ambles tersebut. Di samping tenda, warga mendirikan satu dapur umum dan dua kamar mandi. Puluhan pengungsi pun menggunakan fasilitas itu secara bergantian setiap hari.
Bayangkan, sebagian dari mereka bahkan harus menjalani ibadah Lebaran di tenda pengungsian yang panas dan sempit. Lebih memprihatinkan lagi, Ketua RT 07 RW 01, Joko Sukaryono, mengungkapkan bahwa seorang warganya jatuh sakit hingga harus dirawat inap di rumah sakit.
“Sampai sekarang masih simpang siur, belum ada kejelasan soal relokasi. Warga pada drop sendiri-sendiri. Ada yang jatuh sakit, kemarin sempat opname, tapi alhamdulillah sekarang sudah sehat. Mungkin kecapekan pikiran karena faktor psikologis tertekan dengan kondisi ini,” beber Joko dengan nada kecewa saat kami temui di lokasi pengungsian, Rabu (8/4/2026).
Kampung Senyap, Jalan Ambles, dan Warga yang Pulang-pergi karena Takut
Sementara itu, suasana berbeda kami saksikan di Kampung Sekip sekitar pukul 16.00 WIB. Tidak tampak aktivitas warga sama sekali. Hanya suara ternak kambing dan ayam berkokok yang memecah kesunyian di lingkungan sekitar.
Jalan cor beton di sana ambles drastis dengan ketinggian mencapai satu meter. Warga pun tidak bisa melintasi sejumlah ruas jalan kampung yang retak parah. Selain itu, akses listrik juga terputus di sebagian titik.
Tiba-tiba, Ngatemin (60) muncul dari salah satu rumah. Ia tampak sibuk mengunci rumahnya karena hendak menuju pengungsian. Setiap sore, ia bersama istri dan anaknya pergi ke pengungsian untuk menginap di sana. Rasa khawatir terus menghantui mereka. Ia takut tanah bergerak kembali terjadi saat keluarganya terlelap.
“Tanggal 16 katanya pengungsian tutup. Enggak tahu nanti mau gimana. Kami orang enggak punya, enggak mungkin ngontrak. Orang cuma ternak kambing, yang milik sendiri aumaung cuma enak ekor sempe (kambing muda),” ungkap Ngatemin dengan nada putus asa.
Ia pun tak punya pilihan lain jika terpaksa kehilangan akses menginap di pengungsian. Skenario terburuknya, ia kembali menempati rumahnya meski risikonya sangat besar terkena bencana tanah gerak.
Janji Manis Gubernur dan Wapres Masih Menggantung, Warga Semakin Frustrasi
Lebih parah lagi, Sri (59) bersama kedua anaknya kini kehilangan rumah total akibat tanah gerak. Buruh harian catering itu meluapkan kekecewaannya karena janji gubernur soal relokasi tak kunjung tiba hingga hari ini.
“Kita belum tahu nanti setelah tanggal 16 gimana. Memang rumah sudah benar-benar tidak ada. Kalau harus ngontrak ya berat. Orang upah harian saya saja hanya Rp50.000 untuk kebutuhan sehari-hari,” keluh Sri dengan mata berkaca-kaca.
Dua hari terakhir, masyarakat setempat sempat dijanjikan bertemu dengan Lurah. Namun, janji pertemuan itu gagal total pada Selasa dan Rabu karena pihak kelurahan batal mengunjungi pengungsian. Padahal, warga sudah bersiap dan berkumpul dengan penuh harapan untuk menyambut lurah.
“Kemarin sudah izin libur (kerja), ternyata enggak jadi datang. Hari ini kita betul-betul bersemangat, sudah izin lagi, katanya mau datang, ternyata enggak jadi datang lagi. Terus terang kita kecewa berat. Warga kan benar-benar butuh kehadiran beliau untuk menjelaskan bagaimana ke depannya. Kita di tenda sudah hampir 2 bulan,” bebernya dengan nada kesal.
Ketua RT pun menyiapkan skenario terburuk bila pemerintah masih juga tidak turun tangan menepati janji. Setelah tanggal 16 April, ia akan menggeser lokasi pengungsian karena pemilik lahan sudah tidak berkenan. Rencananya, ia akan mendirikan tenda di tepi jalan raya!
“Saat ini kondisi ekonomi warga saya tidak memungkinkan. Hanya ada beberapa alternatif. Pertama, tenda pengungsian akan saya geser ke jalan. Kedua, dengan terpaksa kita kembalikan (warga) ke rumah masing-masing kecuali yang rumahnya roboh total,” kata Joko dengan nada tegas.
Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sempat meninjau lokasi. Mereka pun meminta warga terdampak untuk sementara tidak bolak-balik ke rumah, Sabtu (14/2/2026).
“Semua kebutuhan pokok akan dipenuhi. Sementara ini mboten usah tinggal wonten omah sing lemahe gerak (sementara ini tidak usah tinggal di rumah yang tanahnya bergerak). Lebih baik menyelamatkan diri kita dan keluarga kita, sambil nanti dikasih tempat yang sudah ditunjuk oleh Camat dan Lurah,” kata Luthfi dalam keterangan tertulis.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh biaya relokasi akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Wakil Presiden juga sudah mengerahkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk ikut memberikan bantuan.
“Sedaya ngopeni njenengan (semua melayani anda sekalian). Hari ini Wapres turun tangan jenguk bapak-ibu sekalian untuk memastikan mboten enten napa-napa (tidak terjadi apa-apa),” imbuh Luthfi.
Namun, nyatanya hingga dua bulan berlalu, para warga masih setia menunggu di tenda pengungsian tanpa kepastian yang jelas. Akankah janji manis para pejabat itu benar-benar terealisasi? Atau hanya sekadar angin lalu yang membuat wakin? Kita tunggu saja.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
