Cinta-news.com – Wah, pecinta alam yang doyan mendaki Gunung Slamet harus gigit jari dulu nih! Pihak pengelola resmi menutup total kegiatan pendakian jalur Lingkar Gunung Slamet terhitung mulai hari ini, Minggu (5/4/2026). Penutupan ini bakal berlangsung sampai kondisi vulkanik gunung favorit para pendaki itu kembali normal dan tidak berbahaya.

“Kami mengambil keputusan tegas untuk menutup jalur pendakian karena kondisi gunung yang semakin panas,” jelas pengelola dalam unggahan resmi @official_lingkargunungslamet pada Minggu (5/4/2026). “Kenaikan aktivitas vulkanik dan suhu permukaan kawah yang meroket memaksa kami bertindak cepat. Mulai 5 April 2026, tidak ada lagi pendakian sampai aktivitas vulkanik benar-benar stabil,” tegas pernyataan tersebut.
Badan Geologi KESDM Udah Kasih Peringatan Keras Sejak Jumat Lalu
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah mengeluarkan laporan mengejutkan tentang peningkatan aktivitas vulkanis di area kawah Gunung Slamet pada Jumat (3/4/2026). Artinya, penutupan ini bukan keputusan dadakan, melainkan langkah antisipasi setelah tim ahli memantau berbagai indikator berbahaya.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, mengungkapkan fakta mencengangkan dalam keterangan tertulisnya. Tim pengamat menangkap perubahan visual yang signifikan, terutama pada kolom asap yang keluar dari kawah. Asap berwarna putih itu mengepul terus-menerus dan tingginya mencapai 300 meter di atas bibir kawah!
“Asap ini teramati keluar secara terus-menerus tanpa henti,” tulis Lana dalam keterangan resminya. Fenomena ini, lanjutnya, mengindikasikan adanya aktivitas degassing yang intens, yaitu pelepasan gas-gas magmatik dari perut bumi ke permukaan melalui kawah. Jadi, gunung ini lagi ‘buang angin’ besar-besaran, guys!
Suhu Kawah Naik Drastis! Dari Hangat Jadi Super Panas dalam Dua Tahun
Nah, yang paling bikin merinding adalah hasil analisis citra termal kawah Gunung Slamet. Petugas berhasil menangkap fenomena kenaikan suhu yang benar-benar fantastis! Coba bayangkan, pada 13 September 2024, suhu kawah tercatat sekitar 247,4 derajat Celsius. Namun, saat dicek ulang pada 2 April 2026, suhunya melonjak gila-gilaan menjadi 411,2 derajat Celsius!
“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam aktivitas termal kawah,” ujar Lana dengan nada waspada. Tim ahli menemukan perubahan pola sebaran anomali panas yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, panas masih terpusat di bagian pusat kawah saja. Namun, pada tahun 2026, area panas ini berkembang semakin meluas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah. Artinya, seluruh permukaan kawah sekarang panasnya merata!
Perubahan pola sebaran suhu ini, kata Lana, mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan baru di tubuh gunung. Perluasan area anomali termal ini menunjukkan peningkatan intensitas proses degassing di kawasan kawah. Bisa dibilang, gas-gas panas dari dalam bumi sedang mencari celah untuk keluar ke permukaan.
Gempa Bumi Nonstop! Ribuan Getaran Terekam dalam Dua Pekan
Kalau melihat data kegempaan periode 16 Maret hingga 3 April 2026, situasinya benar-benar mencekam. Seismograf telah merekam sebanyak 866 kali gempa hembusan! Bayangkan, dalam waktu kurang dari tiga pekan, gunung ini terus bergemuruh dengan hembusan energi. Selain itu, petugas mencatat 620 kali gempa frekuensi lemah, 1 kali gempa vulkanik dalam, dan 11 kali gempa tektonik jauh. Yang lebih mengerikan, tremor menerus terekam dengan amplitudo 1 mm dan dominan 0,5 mm. Artinya, gunung ini sedang bergetar terus-menerus seperti mesin yang mau meledak!
Kejadian gempa frekuensi rendah di Gunung Slamet terekam secara fluktuatif alias naik-turun. Namun sejak 22 Maret 2026, aktivitas ini mulai menunjukkan peningkatan yang konsisten. Kemudian, rekaman gempa menjadi semakin tegas dan menerus sejak tanggal 27 Maret 2026 hingga awal April 2026.
“Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam,” ungkap Lana. Pola yang teratur ini, lanjutnya, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik. Jadi, magma di dalam perut gunung sedang bergolak dan mendorong gas-gas panas ke atas dengan ritme yang konsisten.
Peringatan Keras: Magma Sudah Bergerak ke Permukaan!
Dikonfirmasi pada Sabtu (4/4/2026), Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Slamet, Muhammad Rusdi, juga melihat indikasi yang sangat mengkhawatirkan dari alat Electronic Distance Measurement (EDM). Alat canggih ini berhasil mendeteksi pergerakan magma dari kedalaman menuju permukaan!
“Dari pemantauan deformasi, magma telah melewati reflektor yang berada di Stasiun Cilik di ketinggian 1516 mdpl (meter di atas permukaan laut),” terang Rusdi dengan nada serius. “Magma ini bergerak menuju kedalaman yang lebih dangkal di Stasiun Bambangan pada ketinggian 1878 mdpl.” Artinya, material panas dari inti bumi sedang merangkak naik dan semakin dekat ke permukaan!
Hasil pengamatan dan analisis data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan yang luar biasa di bawah tubuh Gunung Slamet. Tekanan inilah yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal yang terus terekam. Akibatnya, kemungkinan terjadinya erupsi semakin meningkat dari hari ke hari.
Tiga Ancaman Mematikan Mengintai di Radius 2 Kilometer
Rusdi menjelaskan tiga potensi ancaman bahaya yang saat ini dapat terjadi di radius 2 kilometer dari kawah. Pertama, erupsi freatik yang bisa menyemburkan abu panas dan menyebabkan hujan lumpur yang merusak. Kedua, erupsi magmatik yang berpotensi melontarkan material pijar ke segala arah. Ketiga, hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sangat beracun dan sebarannya terbatas di sekitar kawah puncak.
Meskipun aktivitas gunung terus meningkat tajam, hingga tanggal 3 April 2026 tingkat aktivitas Gunung Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada). Pemerintah merekomendasikan masyarakat dan pengunjung wisatawan untuk tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Gunung Slamet. Jadi, meskipun belum naik status ke Siaga atau Awas, bahaya sudah mengintai di sekitar puncak.
“Saat ini petugas di Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang ada 4 orang,” ujar Rusdi. “Namun, dalam waktu dekat, kami berencana menambah personel dari tim tanggap darurat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.” Tim pengamat memperkuat posko dan menyiapkan berbagai peralatan untuk memantau setiap perkembangan aktivitas gunung.
Jadi buat para pendaki, sabar dulu ya! Gunung Slamet sedang ‘marah’ dan butuh waktu untuk menenangkan diri. Jangan memaksakan diri mendaki karena nyawa jauh lebih berharga daripada sekadar foto di puncak!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











