SURABAYA, Cinta-news.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, marah saat meninjau sejumlah Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) di Kota Pahlawan, Rabu (1/4/2026). Dia benar-benar enggak tahan melihat kondisi di lapangan!
Begitu tiba di lokasi, Eri langsung menemukan fakta mencengangkan: fungsi TPS telah berubah total dari peruntukannya semula. Bukan cuma itu, area tersebut juga disalahgunakan menjadi lahan parkir gerobak sampah (geledekan) dan tempat numpuknya barang rongsokan. Karena itu, amarahnya pun meledak di depan para petugas.

Di balik aksi marah-marah tersebut, Eri Cahyadi sejatinya sedang menjalankan “operasi pembersihan” sistemik. Sebagai mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), ia paham betul seluk-beluk persampahan. Baginya, kemacetan aliran sampah di hilir (TPA Benowo) sering kali berawal dari ketidaktertiban di hulu. Oleh karena itu, TPS yang kotor dan semrawut ia nilai sebagai bukti nyata kegagalan koordinasi antara petugas lapangan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dengan tegas, ia ingin mengembalikan fungsi TPS hanya sebagai tempat transit sementara sampah rumah tangga. Jelas sudah, bukan gudang barang bekas apalagi tempat “parkir” permanen buat gerobak RW!
KRONOLOGI SIDAK YANG MENEGANGKAN: DARI TPS RANGKAH SAMPAI SIMPANG DUKUH!
Awalnya, Eri berniat menggelar kerja bakti massal di TPS Rangkah, kawasan Tambakrejo, Simokerto. Namun, alih-alih melihat kerapian, ia justru disambut pemandangan yang bikin gregetan: deretan gerobak sampah terparkir rapi di dalam area TPS! Tanpa buang waktu, Eri langsung memanggil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto. Ia memerintahkan penindakan segera tanpa kompromi!
“Hari ini, siang ini, enggak ada semua (gerobak sampahnya)! Enggak boleh kayak gini lagi. Aku juga enggak mau lihat sampah menumpuk begini!” tegas Eri di lokasi, Rabu. Sontak, para petugas bergerak cepat mengeksekusi perintahnya.
Kondisi serupa pun muncul di TPS Simpang Dukuh yang berlokasi di pusat kota, tepatnya tak jauh dari Gedung Negara Grahadi. Di sana, sampah berukuran besar hingga barang rongsokan tampak berjejer tidak beraturan begitu saja. Melihat itu, Eri kembali naik pitam.
“Sekarang ambil semua! Panggil truknya sekarang! Barang rongsokan ditaruh di sini semua, buyar ini. Pokoknya ambil semuanya! TPS kok dibuat tempat rongsokan!” ucapnya geram sambil menunjuk ke tumpukan barang. Suasana pun semakin mencekam.
PERINGATAN KERAS! LARANGAN BUANG KASUR DAN SAMPAH KOMERSIAL KE TPS!
Dalam sidak tersebut, Eri memberikan edukasi keras yang sayang untuk dilewatkan. Dengan lantang, ia menegaskan jenis sampah yang boleh masuk ke TPS. Menurutnya, barang-barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai seperti kasur, kursi, hingga lemari, dilarang keras dibuang di TPS! Jadi, jangan coba-coba ya, warga Surabaya!
“Kalau ada kasur, ada kursi, itu bukan dibuang di TPS! Kewajiban setiap warga itu membuang sampah ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) yang sudah ditetapkan tempatnya!” ujar Eri sambil mengacungkan jari telunjuknya. Pesan ini jelas menyasar kebiasaan lama yang selama ini merusak sistem.
Tak berhenti di situ, Eri juga melarang keras tempat usaha non-rumah tinggal seperti kafe, restoran, hingga mal untuk membuang sampah ke TPS. Mereka wajib mengelola sampah secara mandiri melalui jasa pengangkut swasta yang langsung menuju TPA Benowo. Pasalnya, “Kalau dibebankan semua di TPS, tidak akan mampu dan akan kotor terus!” tambahnya dengan nada penuh keyakinan.
TERAPKAN JADWAL BUANG SAMPAH PER RW DAN STIKER TRUK!
Sebagai langkah solutif, Pemkot Surabaya akan menerapkan jadwal pembuangan sampah yang ketat berdasarkan wilayah RW. Bukan cuma itu, petugas akan ditempatkan di setiap TPS untuk menyeleksi siapa yang boleh membuang sampah sesuai jam yang ditentukan. Dengan cara ini, semua akan berjalan lebih teratur!
“Semua nanti akan ada jam buang sampah per RW. Kalau di luar jam itu, kita akan tolak! Jadi, buang sampah tidak bisa seenaknya sendiri!” kata Wali Kota dua periode tersebut sambil menepuk-nepuk papan pengumuman di TPS.
Tak hanya itu, penertiban juga menyasar armada pengangkut. Syaratnya jelas: Hanya truk yang memiliki stiker resmi dari DLH sebagai tanda lolos uji kelayakan yang diperbolehkan beroperasi. Dengan kebijakan ini, semua kendaraan pengangkut sampah akan diawasi ketat oleh pemerintah kota.
Di akhir sidaknya, Eri juga meminta para pengurus RW untuk bertanggung jawab penuh atas gerobak sampah atau “geledekan” masing-masing. Ia tidak ingin area menjadi sempit hanya karena digunakan untuk menyimpan gerobak. Menurutnya, itu adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditawar lagi!
“Semua RW, yang namanya geledekan, ojo didekek nang (jangan ditaruh di) TPS! enggak cukup! Masing-masing RW harus menyimpan geledekannya sendiri!” pungkas pria asli Surabaya ini dengan dialek khas Suroboyoan yang bikin suasana terasa lebih akrab meskipun tegang. Warga pun manggut-manggut mengerti pesan tegas ini.
Dengan penerapan sistem baru yang super ketat ini, diharapkan tata kelola sampah di Surabaya menjadi lebih profesional dan kebersihan kota tetap terjaga tanpa adanya penumpukan yang merusak pemandangan. Yang jelas, Eri Cahyadi tidak main-main dalam membersihkan kotanya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











