Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Karhutla Sumsel Melonjak: Satelit Deteksi 214 Titik Panas, Kabupaten OKI Terbanyak

PALEMBANG, Cinta-news.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini kembali mengintai dan mengepung wilayah Bumi Sriwijaya. Berdasarkan data pemantauan teranyar, satelit kebencanaan mendeteksi lonjakan drastis sebanyak 214 titik panas (hotspot) yang mendadak menyebar di berbagai sudut Kabupaten/Kota se-Sumatera Selatan (Sumsel) hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir hingga Minggu (8/11/2026).

Apabila kita membedah peta sebaran titik panas tersebut, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) secara mengejutkan mendominasi krisis ini dengan menyumbang hingga 121 titik panas. Angka fantastis tersebut secara otomatis menguasai lebih dari separuh total akumulasi hotspot yang terdeteksi di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

Menyikapi situasi darurat yang kian memanas ini, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menegaskan bahwa dinamika karhutla di sejumlah daerah memang masih bergejolak fluktuatif. Oleh sebab itu, jajaran BPBD terus bersiap siaga menyisir lokasi rawan sembari membendung kobaran api maupun kepulan asap yang masih membumbung tinggi di area lahan warga dan hutan.

Lebih lanjut, Sudirman memaparkan rincian angka otentik tersebut pada Minggu kemarin. Pihaknya mengonfirmasi bahwa catatan resmi dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sumsel menetapkan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebagai wilayah yang memegang rekor tertinggi dengan temuan 121 titik panas.

Selain OKI, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menyusul tepat di posisi kedua setelah tim mendeteksi keberadaan 28 titik panas. Sementara itu, Kabupaten Banyuasin turut menyumbang 19 hotspot, disusul Ogan Ilir yang mengekor di angka 14 titik, serta Muara Enim yang mencatatkan 8 titik api memprihatinkan.

Di sisi lain, wilayah OKU Timur dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) masing-masing melaporkan keberadaan 5 titik panas. Tak mau kalah, OKU Selatan mencatat 4 titik, Lahat mengantongi 3 titik, sedangkan Prabumulih, Musi Rawas, serta OKU mengekor dengan masing-masing 2 titik, lalu Musi Rawas Utara menutup daftar dengan menyisakan 1 hotspot.

Namun, fakta yang paling mengejutkan publik adalah total akumulasi seluruh titik panas sejak awal Januari 2026 hingga 7 November 2026 yang ternyata sudah menembus angka fantastis 121.574 titik. Dalam rentang waktu yang sama, personel BPBD pun telah mengidentifikasi sebanyak 6.323 peristiwa karhutla yang membakar berbagai pelosok wilayah.

Kualitas Udara Palembang Kian Mencekam: Terperosok ke Level Tidak Sehat!

Seiring meletupnya titik panas di mana-mana, kualitas udara di Kota Palembang pun ikut merosot tajam hingga kembali terperosok ke zona berbahaya yang mengancam kesehatan pernapasan publik.

Apabila merujuk pada hasil pemantauan resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk partikel berbahaya PM2,5 pada Minggu (8/11/2026) tepat pukul 06.00 WIB, Kota Palembang secara mengkhawatirkan menyentuh angka 101.

Sudirman lantas menguraikan bahwa skor 101 tersebut secara sah mengategorikan kualitas udara Palembang dalam kondisi tidak sehat. Bahkan, fenomena buruk yang menyiksa paru-paru ini turut mengepung beberapa kawasan kabupaten tetangga di sekitarnya.

Jika menilik daerah sekitarnya, Kabupaten PALI justru memegang rekor kondisi udara paling mengkhawatirkan dengan angka ISPU yang melonjak hingga 161. Selanjutnya, Kabupaten Lahat menyusul di angka 107 dan Musi Rawas menyamai Palembang di tingkat 101, yang mana ketiga wilayah ini sama-sama berada di ambang batas tidak sehat.

Beruntung, udara di Ogan Ilir masih sanggup bertahan pada angka 59, sementara Musi Banyuasin mencetak angka 67, Muara Enim berada di kisaran 63, dan OKU Selatan menyentuh angka 92. Keempat wilayah tersebut setidaknya masih tergolong lumayan aman karena bertahan dalam kategori sedang.

Oleh karena itu, kemerosotan mutu udara ini mengundang perhatian serius dari pihak berwenang, sekaligus menuntut seluruh lapisan masyarakat di wilayah terdampak agar tetap mewaspadai risiko sengatan polusi udara yang merusak tubuh.

Tak hanya menyengat pernapasan, kepulan kabut asap ini turut mengacaukan jarak pandang (visibility) di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang yang berubah-ubah secara mendadak pada Minggu pagi. Bayangkan saja, sekitar pukul 03.00 WIB jarak pandang sempat menyentuh 3.300 meter, namun mendadak merosot tajam menjadi 1.500 meter hanya setengah jam kemudian pada pukul 03.30 WIB.

Jarak pandang tersebut kemudian terus tertahan abu-abu di kisaran 1.500 hingga 2.000 meter, sebelum akhirnya kembali anjlok menyentuh titik 1.300 meter menjelang pukul 06.00 WIB.

Gawat! 121 Hektare Karhutla Masih Membara dan Belum Berhasil Dipadamkan

Menilik laporan resmi hasil operasi pemadaman darat dan udara per 7 November 2026, jajaran BPBD Sumsel terus mendata keberadaan 28 insiden karhutla yang mengamuk hebat di sejumlah kabupaten.

Dalam insiden ini, Kabupaten OKI lagi-lagi mengukuhkan posisi puncak dengan menyumbang 11 kali kejadian karhutla. Kemudian, Banyuasin menyusul dengan 6 insiden, Ogan Ilir mencatat 4 kejadian, PALI dan OKU masing-masing melaporkan 3 kejadian, serta Muba dan Pagar Alam mengekor dengan masing-masing 1 kejadian.

Dari estimasi hamparan total 157,85 hektare lahan yang terbakar hebat, tim satgas pemadaman jalur darat hanya mampu menjinakkan api seluas 25,70 hektare. Di sisi lain, helikopter pengebom air (water bombing) berhasil menyiram serta memadamkan kobaran api di area seluas 11 hektare.

Alhasil, gabungan seluruh upaya pemadaman tersebut baru sanggup memadamkan total 36,70 hektare lahan. Kondisi ini menyisakan kenyataan pahit bahwa sekitar 121,15 hektare lahan lainnya masih belum berhasil dipadamkan dan terus mengancam lingkungan sekitar.

Maka dari itu, BPBD Sumsel saat ini mengerahkan prioritas utama pemadaman ke Kabupaten OKI, terutama menyasar enam kecamatan paling rawan seperti Cengal, Pampangan, Sungai Menang, Tulung Selapan, Pedamaran Timur, hingga Pangkalan Lampam.

Selain memprioritaskan OKI, jajaran petugas pemadam juga bergerak cepat mendatangi lokasi kebakaran di Kabupaten Banyuasin I, khususnya menyisir Desa Tanah Pilih yang berada tepat di kawasan ekosistem penting Taman Nasional Sembilang.

Lebih jauh lagi, tim satgas pemadaman turut melancarkan gempuran kuat lewat jalur udara. Pada Sabtu (7/11/2026) lalu, armada helikopter merilis satu sortie pemadaman di kawasan Sungai Tepuk, OKI, yang sukses memadamkan sekitar 6 hektare lahan terbakar.

Tak berhenti di situ, armada udara juga menerjunkan satu sortie pemadaman susulan di area Sungai Cener, OKI, yang berhasil menjinakkan api di hamparan lahan seluas 5 hektare.

Kendati demikian, laporan dari tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) justru mengonfirmasi bahwa petugas sama sekali tidak melangsungkan aksi penyemaian garam untuk merangsang hujan buatan pada 7 November 2026 tersebut.

Meskipun begitu, Sudirman memberikan sedikit embusan angin segar dengan menyebutkan bahwa kendati kondisi titik panas masih fluktuatif, gumpalan asap tebal kini sudah tak lagi terdeteksi melayang di sejumlah kawasan, termasuk Kota Palembang.

Mengakhiri keterangannya, Sudirman menegaskan bahwa jajarannya tetap melancarkan tindakan pemadaman secara intensif, terutama berfokus penuh di wilayah kawasan Taman Nasional Sembilang Banyuasin serta kawasan tanah gambut rawan di Kabupaten OKI.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *