Cinta-news.com – Gelombang amarah anak-anak kampus Universitas Trisakti mendadak meledak hebat di ibu kota. Hal ini terjadi akibat pihak pemerintah terus-menerus mengumbar janji manis pasca-aksi unjuk rasa besar-besaran tanpa pernah mengeksekusi bukti nyata sedikit pun di lapangan.
Oleh karena itu, rombongan aktivis mahasiswa langsung memutuskan untuk menggeruduk markas Kantor Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) yang berlokasi di Jakarta Pusat pada Kamis (5/11/2026). Langkah ini mereka tempuh demi menuntut pertanggungjawaban penuh pejabat istana sekaligus mendesak kejelasan atas seluruh daftar poin tuntutan yang pernah disepakati bersama.
Sayangnya, pergerakan massa tersebut sama sekali belum membuahkan hasil manis karena jajaran pejabat teras mendadak menghilang. Alih-alih menyambut kedatangan rombongan mahasiswa dengan menghadirkan pimpinan setingkat menteri atau wakil menteri sesuai ikrar awal, pihak istana justru membiarkan perwakilan staf biasa untuk menemui mereka.
Lebih lanjut, barisan mahasiswa secara khusus menyoroti hancurnya sektor pelayanan kesehatan bagi warga lokal yang menjadi korban keganasan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bukannya Dapat Solusi Konkret, Mahasiswa Malah Disodori Tumpukan Angka Kaku!
Tak pelak, Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti, Arief Rizquna, langsung memuntahkan rasa kecewa yang amat mendalam pasca-menggelar dialog panas bersama Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, di area Kantor Mensesneg.
Arief secara terbuka membeberkan fakta bahwasanya utusan pemerintah cuma bisa menyajikan deretan angka statistik kaku terkait penanganan korban bencana karhutla. Padahal, barisan mahasiswa mendesak kepastian tertulis mengenai bagaimana pemulihan sektor kesehatan masyarakat terdampak bisa benar-benar dimasukkan ke dalam payung kebijakan resmi negara.
“Bahkan, poin utama yang sangat kami tekankan dalam tuntutan tersebut adalah pengikatan penanganan pemulihan sektor kesehatan ke dalam regulasi kebijakan resmi,” tegas Arief saat memberikan keterangan pers pada Kamis (5/11/2026). Ia juga menambahkan, “Meskipun Pak Binbin sempat mengklaim bahwa hal itu sudah terikat dalam sektor kebijakan, namun ketika kami meminta bukti dokumen resminya, beliau justru mendadak bungkam dan tak sanggup menunjukkannya.”
Akibatnya, Arief menilai pemaparan data statistik penanganan korban bencana yang dipamerkan pemerintah sebatas bentuk pengalihan isu belaka. Pasalnya, penanganan korban bencana sejatinya merupakan kewajiban konstitusional dasar yang wajib dijalankan oleh negara, dan sama sekali bukan jawaban konkret atas substansi desakan mahasiswa.
“Beliau hanya menyodorkan rekapitulasi data lapangan, padahal hal tersebut jelas-jelas sudah menjadi kewajiban rutin pemerintah, bukannya jawaban atas sub-tuntutan kami. Pemerintah itu hukumnya wajib menangani rakyat!” serunya menambahi penjelasan sengit tersebut.
Janji Manis Layanan Kesehatan Gratis Ternyata Masih Simpang Siur Tanpa Kejelasan!
Di samping itu, Wakil Presiden Mahasiswa Trisakti, Muhammad Putra, juga menegaskan bahwasanya keberangkatan massa ke Istana Negara merupakan bentuk pengawalan ketat atas komitmen yang sempat terlontar sebelumnya. Terlebih lagi, mereka berniat menagih realisasi jaminan layanan pengobatan gratis tanpa syarat bagi masyarakat kurang mampu, khususnya mereka yang menjadi korban terdampak bencana alam.
“Oleh sebab itu, kami sengaja mendatangi markas Mensesneg guna memburu kepastian komitmen yang pernah diucapkan oleh pejabat terkait,” ungkap Putra dengan nada mantap. Ia menekankan bahwasanya pengurus Kepresma Trisakti bakal melangkah langsung ke lokasi demi menyuarakan kembali poin aspirasi serta menuntut bukti janji dari Sekretariat Negara.
Selanjutnya, Putra mengingatkan bahwa otoritas pemerintah sebenarnya telah menyetujui seluruh draf desakan tersebut pada pertemuan terdahulu. Namun demikian, hingga detik ini barisan mahasiswa mengaku belum mendapatkan transparansi sedikit pun terkait proses eksekusi kebijakan yang pernah disepakati itu.
“Pemerintah memang sudah mengiyakan seluruh tuntutan kami, sehingga kami datang kembali untuk menagih janji tersebut secara tegas. Sebab, sampai detik ini tidak ada transparansi sama sekali dari pihak penguasa dan tidak pernah ada tindakan lanjut atas poin-poin yang kami perjuangkan,” tutur Putra menyindir sikap pasif pemerintah.
Mahasiswa Semprot Sikap Pejabat Istana yang Dinilai Mangkir dan Hindari Dialog!
Senada dengan rekan-rekannya, Ketua Presma Universitas Trisakti, Dhenni Ribowo, turut menyayangkan kelakuan jajaran pimpinan pemerintah yang mangkir dari agenda dialog sebagaimana informasi awal yang sudah diterima oleh mahasiswa.
Padahal, rombongan massa melangkah dengan niat sangat kondusif demi menyampaikan suara rakyat sekaligus meminta laporan resmi mengenai progres tindakan lanjut atas tuntutan yang telah disetujui bersama.
“Sejak awal hari ini kami mencoba menyampaikan aspirasi secara sangat kondusif di Gedung Sekretariat Negara karena sebelumnya diinfokan akan disambut langsung oleh pimpinan setara Menteri atau Wakil Menteri,” terang Dhenni secara jujur. Namun sangat disayangkan, begitu massa tiba di lokasi, para pejabat tinggi tersebut justru menghilang dan belum memberikan tanggapan resmi apapun.
Karenanya, Dhenni menilai perwakilan pemerintah yang dikirim untuk menemui massa aksi juga belum sanggup memberikan jawaban memuaskan atas deretan pertanyaan kritis mahasiswa. Akibatnya, ia menegaskan bahwasanya seluruh elemen mahasiswa Trisakti tidak akan pernah berhenti mengawal berbagai ketimpangan bangsa dan menuntut penguasa bertanggung jawab penuh atas setiap kebijakan maupun janji yang sudah diucapkan.
Nyawa Rakyat Bukan Mainan! Mahasiswa Desak Publik Tak Terbawa Arus Politisi!
Di tengah kekecewaan yang makin membuncah, Dhenni secara terbuka menyerukan pesan menohok kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak mudah terlena oleh panggung politik dan konstelasi kekuasaan yang sedang panas. Sebaliknya, ia meminta publik untuk tetap mengarahkan perhatian pada isu krisis bangsa, terutama penanganan bencana alam serta penderitaan rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan darurat.
Selain itu, ia menegaskan bahwasanya aparatur negara tidak boleh hanya duduk manis sambil memamerkan deretan data statistik penanganan bencana yang terkesan dingin. Sebab, kriteria keberhasilan paling utama adalah memastikan bahwasanya setiap warga yang terdampak benar-benar memperoleh bantuan fisik dan pemulihan nyata di lapangan.
“Jangan pernah semua masalah rakyat hanya diobral menggunakan data statistik kaku, karena kematian satu orang warga negara adalah tanggung jawab mutlak kalian! Kematian satu nyawa manusia merupakan duka dan kematian bagi seluruh rakyat Indonesia!” tegas Dhenni menyemprot sikap dingin pemerintah.
Pada akhirnya, seluruh elemen gerakan Mahasiswa Trisakti berikrar akan terus menghimpun jeritan serta aspirasi masyarakat dari berbagai penjuru daerah, lalu menghantamkannya langsung ke telinga para pembuat kebijakan di pusat kekuasaan.
“Sikap dasar dan garis perjuangan kami sebagai mahasiswa adalah akan terus melakukan pengawalan ketat tanpa henti. Maka dari itu, siapapun pejabat yang terlibat dalam lingkaran penyelesaian kasus bangsa ini akan terus kami desak untuk bertanggung jawab sampai tuntas,” tegas Dhenni menutup pernyataannya secara lantang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











