Cinta-news.com – Suasana pagi di Stasiun Duri, Tambora, Jakarta Barat, mendadak berubah menjadi arena kepanikan luar biasa pada Sabtu pagi (3/10/2026) tepat pukul 07.45 WIB. Oleh karena itu, para pengguna KRL yang awalnya berjalan santai mendadak terkejut luar biasa saat melihat fasilitas tangga berjalan di area stasiun mengalami malafungsi parah secara tiba-tiba. Eskalator yang menghubungkan akses utama para calon penumpang menuju peron jalur 5 rute Kota Tangerang tersebut mendadak bergerak mundur saat posisi awalnya sedang membawa penumpang naik ke atas.
Akibatnya, belasan orang yang sedang berdiri di atas anak tangga langsung kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terpental, jatuh terguling, dan saling bertabrakan satu sama lain di lantai dasar.
Momen mengerikan tersebut langsung menggegerkan jagat maya setelah video rekaman amatir warga tersebar luas di berbagai lini masa media sosial. Dalam cuplikan video yang beredar, penonton dapat melihat dengan jelas bagaimana sejumlah penumpang terduduk lemas merintih kesakitan usai tumpuk-menumpuk di dasar eskalator, sebelum akhirnya petugas stasiun bergerak cepat mengamankan area dan menghentikan pengoperasian fasilitas tersebut.
Detik-Detik Mencekam dan Kesaksian Saksi Mata di Lokasi
Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian bernama Marsya kemudian membagikan kesaksiannya mengenai detik-detik menegangkan saat eskalator sibuk tersebut mendadak berbalik arah tanpa peringatan sama sekali. Meskipun Marsya tidak menjadi korban langsung karena berada di luar tangga berjalan, ia menyaksikan secara utuh bagaimana tubuh para penumpang terhempas secara mendadak.
Selanjutnya, Marsya menceritakan situasi riil yang ia tangkap tepat setelah tubuh para korban berjatuhan di lantai peron stasiun. Ia membenarkan bahwa eskalator tersebut memang semula berfungsi normal untuk membawa penumpang ke lantai atas, tetapi tiba-tiba mesinnya tersentak dan berjalan mundur secara tak terkendali.
Marsya menjelaskan bahwa mayoritas penumpang yang berada di atas eskalator sama sekali tidak memiliki kesiapan fisik maupun mental ketika arah pergerakan mesin berubah secara spontan. Oleh sebab itu, perubahan arah spontan ini membuat posisi tubuh para penumpang langsung limbung, menghantam orang di belakangnya, dan roboh bagaikan efek domino.
Di samping itu, kepanikan di lokasi kejadian semakin memuncak tatkala suara teriakan histeris dan jeritan minta tolong dari para korban mulai memecah suasana stasiun. Beruntung, para petugas satpam beserta jajaran staf stasiun merespons insiden ini dengan sangat sigap dengan langsung mengangkut serta mengevakuasi para korban luka menuju Pos Kesehatan (Poskes) terdekat.
Selain menggambarkan detik-detik kepanikan tersebut, Marsya juga membeberkan kondisi keramaian Stasiun Duri pada Sabtu pagi sekitar pukul 07.45 WIB. Menurut pengamatannya, situasi stasiun saat musibah terjadi memang tergolong lumayan ramai oleh lalu lalang calon penumpang, meskipun belum sepadat jam-jam sibuk pada hari kerja.
Dampak dari peristiwa mengerikan ini membuat pihak stasiun terpaksa menutup total area eskalator demi menghindari bahaya susulan. Oleh karena itu, para calon penumpang KRL yang hendak menuju peron jalur 5 harus menguras keringat ekstra dengan menaiki tangga manual atau mencari jalur alternatif lain yang tersedia di stasiun.
Belasan Korban Dilarikan ke Rumah Sakit dan Langkah KAI Commuter
Menanggapi musibah yang bikin geger ini, Humas KAI Commuter Karina Amanda memberikan konfirmasi resmi mengenai gangguan mekanis yang menimpa eskalator di area peron jalur 5 Stasiun Duri. Ia memastikan bahwa seluruh pengguna jasa KRL yang menjadi korban dalam musibah ini telah dievakuasi dengan cepat dan mendapatkan penanganan medis intensif di Poskes Stasiun Duri.
Berdasarkan hasil pendataan resmi dari tim medis, pihak KAI Commuter mencatat ada sebanyak 12 orang penumpang yang mengalami luka-luka, dengan rincian 10 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. Beruntung, seluruh korban hanya menderita luka ringan dan langsung mendapatkan tindakan pertolongan pertama dari tim kesehatan stasiun.
Selanjutnya, Karina memaparkan kondisi terkini dari 12 penumpang yang terdampak insiden eskalator meluncur mundur tersebut. Sebanyak lima orang penumpang sudah diperbolehkan melanjutkan perjalanan KRL, lima orang lainnya harus dirujuk ke Rumah Sakit Duta Indah untuk perawatan intensif, sementara dua korban sisanya masih menjalani observasi kesehatan secara ketat di fasilitas medis.
Tak hanya fokus menangani para korban luka, pihak KAI Commuter juga langsung menyegel lokasi kejadian dan menghentikan total operasional tangga berjalan tersebut. Saat ini, tim teknisi internal KAI Commuter bersama dengan tim teknisi prinsipal yang memegang lisensi pemeliharaan eskalator sedang melakukan inspeksi teknis secara menyeluruh.
Pemeriksaan menyeluruh ini bertujuan untuk membongkar secara tuntas penyebab utama gangguan mekanis eskalator sekaligus memastikan seluruh komponen keamanan berfungsi 100 persen sebelum fasilitas umum ini dibuka kembali untuk publik. Oleh sebab itu, pihak pengelola menegaskan tidak akan terburu-buru membuka akses tersebut demi menjamin keselamatan para penumpang.
Di samping menyampaikan pembaruan investigasi teknis, Karina Amanda mewakili seluruh manajemen KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan mendalam atas ketidaknyamanan serta kepanikan yang menimpa para pelanggan setia KRL. Ia juga menegaskan bahwa pihak perusahaan akan terus memantau perkembangan kondisi seluruh korban serta memberikan bantuan kompensasi yang dibutuhkan.
Penumpang Soroti Pemeliharaan Fasilitas dan Minta Evaluasi Rutin
Di sisi lain, peristiwa mencekam ini memicu sorotan tajam dari para pengguna setia KRL, salah satunya Putra yang secara tegas meminta PT KAI Commuter agar meningkatkan frekuensi perawatan dan pemeriksaan fasilitas stasiun secara rutin. Menurut Putra, gangguan teknis pada fasilitas publik yang begitu vital sangat membahayakan nyawa manusia, terlebih jika insiden serupa terjadi saat stasiun dipenuhi lautan manusia.
Lebih lanjut lagi, Putra menyuarakan rasa syukurnya karena musibah eskalator mematikan ini terjadi pada hari Sabtu yang merupakan hari libur pekan. Ia sangat meyakini bahwa jumlah korban luka maupun tingkat keparahan insiden bisa berkali-kali lipat lebih mengerikan apabila eskalator tersebut mendadak meluncur mundur di pagi hari pada hari kerja.
Putra sendiri menceritakan bahwa ia tidak berada di lokasi saat detik-detik eskalator runtuh dan meluncur mundur itu terjadi. Ia baru mengetahui adanya musibah setelah tiba di Stasiun Duri dan mendapati salah satu akses peron sudah tertutup rapat oleh garis pengaman petugas.
Akhirnya, meskipun gangguan eskalator ini tidak sampai menghentikan perjalannya menuju Tangerang karena masih ada pilihan tangga konvensional, Putra tetap menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Oleh karena itu, ia mengetuk hati pihak pengelola agar lebih serius menjaga kelaikan fasilitas stasiun demi menjamin keselamatan jiwa para calon penumpang yang selalu terburu-buru di masa mendatang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











