Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Imbas Ketegangan Bertahun-tahun, Thailand Pasang Pagar Beton di Wilayah Batas Kamboja

Cinta-news.com – Aksi militer Thailand mendadak membikin geger kawasan perbatasan setelah mereka nekat mendirikan benteng beton masif di sepanjang garis batas Kamboja, menyusul tragedi pertempuran berdarah yang memakan korban jiwa pada tahun lalu.

Dinding raksasa yang menjulang setinggi 3,6 meter tersebut kini telah membentang sepanjang satu kilometer, di mana proyek awal ini menjadi bagian dari rencana besar benteng pertahanan sepanjang 8,4 kilometer di sektor timur Thailand.

Selain itu, gulungan kawat duri tajam melingkar rapat di bagian puncaknya, lantaran militer sengaja mengombinasikan struktur beton bertulang, jaring baja galvanis, serta lilitan kawat mematikan demi keamanan ekstra.

Alhasil, langkah drastis ini langsung memicu perhatian dunia internasional sebab perselisihan wilayah sepanjang 800 kilometer antara kedua negara tetangga ini memang telah bergolak panas selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Komandan Satuan Tugas Marinir Angkatan Laut Kerajaan Thailand di Chanthaburi, Kapten Prachya Hantiem, membeberkan fakta kepada awak media AFP bahwa tindakan tegas ini sengaja diambil demi membendung berbagai aktivitas ilegal.

“Kami sengaja mendirikan tembok ini guna memblokir aksi-aksi kejahatan terselubung,” cetus Prachya sewaktu menyambut kedatangan wartawan AFP di lokasi proyek pada Kamis (10/9/2026).

Di samping itu, beliau menegaskan bahwa fokus utama aparat pertahanan adalah menghentikan maraknya tindak kejahatan penyelundupan manusia serta arus perdagangan barang ilegal di perbatasan.

Prahara Pertempuran Berdarah Thailand vs Kamboja

Memang, bentrokan senjata mematikan sempat meletus hebat pada Juli serta Desember 2025 lalu, hingga akhirnya mendorong sekitar 500.000 warga ketakutan dan terpaksa melarikan diri meninggalkan rumah mereka.

Lantas, diplomasi kedua negara sempat menumbuhkan harapan baru sewaktu kesepakatan gencatan senjata berhasil ditandatangani pada pengujung Desember 2025.

Akan tetapi, situasi di lapangan nyatanya tetap memanas karena kedua belah pihak hingga kini masih saling tuduh terkait dugaan pelanggaran perjanjian perdamaian tersebut.

Bahkan, pihak Thailand langsung menempuh kebijakan ekstrem dengan menutup rapat seluruh pintu perbatasan dengan Kamboja sesaat setelah kecamuk pertempuran mereda.

Meskipun mayoritas pengungsi perlahan sudah kembali ke rumah, namun fakta memprihatinkan mencatat bahwa sekitar 20.000 warga Kamboja terpaksa masih terlunta-lunta di pengungsian.

Kini, pengerjaan tembok terus digenjot di kawasan perkebunan Provinsi Chanthaburi, di mana lokasinya berdampingan langsung dengan pemukiman mungil yang dihuni kurang dari 200 jiwa.

Padahal, warga lokal di kawasan tersebut menggantungkan urat nadi ekonomi mereka sebagai petani jagung serta pemetik buah-buahan lokal seperti durian, dan lengkeng.

Akibatnya, sejumlah warga desa mengonfirmasi bahwa pembangunan benteng tersebut secara tak terelakkan telah mencaplok sebagian dari lahan pertanian produktif milik mereka.

Kendati demikian, masyarakat setempat justru kompak pasrah dan mendukung penuh proyek ini sebab mereka sangat mendambakan jaminan rasa aman dari ancaman bentrokan susulan.

“Kami merelakannya dengan ikhlas, lagipula kehilangan sedikit tanah tidak sebanding dengan jaminan keselamatan jiwa kami,” tutur Suwin Muangmeung, pemilik toko kelontong di desa tersebut.

Di sisi lain, wanita berusia 62 tahun ini mengaku jujur bahwa dirinya kerap bingung dan tidak tahu pasti di titik mana patok resmi perbatasan kedua negara berada.

Selaras dengan pandangan warga, Kepala Desa Itchira Aranchaiyasiri menyatakan bahwa keberadaan benteng tinggi ini berhasil menghadirkan ketenangan baru bagi warga yang berladang tepat di garis depan perbatasan.

“Pagar tinggi ini benar-benar membawa rasa aman dalam kehidupan sehari-hari kami, terutama karena perkebunan kami menempel langsung di area perbatasan,” jelasnya.

Selain itu, Itchira mengungkapkan bahwa warga desa sebenarnya tidak pernah bisa memastikan kapan hubungan Thailand dan Kamboja benar-benar pulih atau kapan komunikasi dapat kembali normal.

Oleh sebab itu, hadirnya tembok raksasa ini setidaknya langsung memberikan rasa aman nyata yang sangat dibutuhkan warga saat ini.

Meskipun begitu, struktur tinggi ini tak dimungkiri telah merombak total gaya hidup warga lokal yang selama bertahun-tahun terbiasa bebas bergerak menyeberangi perbatasan.

“Dahulu kami sangat gampang lalu-lalang atau sekadar berkunjung ke rumah tetangga di seberang,” kenang Itchira dengan nada nostalgia.

“Namun kini situasi menuntut kami untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini,” lanjutnya pasrah.

Berdiri Kokoh di Tanah Kedaulatan Thailand

Jika merunut sejarah, penetapan garis perbatasan Thailand dan Kamboja sejatinya merupakan warisan negosiasi panjang antara Siam—nama kuno Thailand—dengan pihak kolonial Prancis.

Sebab, Prancis sempat mencaplok Kamboja sebagai bagian dari wilayah jajahannya di Indochina sejak tahun 1863 hingga pertengahan era 1950-an.

Maka dari itu, proyek pembangunan tembok modern ini wajib disesuaikan dengan posisi batu-batu penanda perbatasan bersejarah yang sudah tertanam sejak era kolonial.

Oleh karena itu, tim arsitek militer sengaja merancang gerbang khusus pada tembok demi mengakomodasi batu bersejarah yang bertuliskan kata “Siam” dan kata Prancis “frontiere” yang bermakna perbatasan.

Selanjutnya, Kapten Prachya memberikan garansi mutlak bahwa seluruh fisik dinding pembatas berdiri murni di dalam kedaulatan Thailand.

“Seluruh bangunan tembok berdiri seratus persen di dalam wilayah kedaulatan Thailand,” tegas Prachya dengan penuh keyakinan.

Di samping itu, beliau menambahkan bahwa setiap tahap konstruksi dikerjakan secara transparan sesuai aturan hukum yang berlaku serta siap diperiksa kapan saja.

“Malahan, pihak tentara Kamboja terus memantau dan memeriksa pekerjaan kami di setiap tahapannya,” imbuh Prachya secara terbuka.

Bayang-Bayang Trauma Perang Masih Menghantui Warga

Bagi warga lokal yang bermukim di garis depan perbatasan, gejolak pertempuran terbaru ini bukanlah trauma perang pertama yang melukai kehidupan mereka.

Sebab, Suwin masih mengingat jelas detik-detik mengerikan ketika gelombang pengungsi membanjiri wilayah Thailand guna melarikan diri dari kebrutalan rezim Khmer Merah pada tahun 1979.

Seiring bergantinya waktu, wanita senior ini menyadari bahwa sudut pandangnya terhadap kengerian perang telah berubah drastis dibanding masa mudanya.

“Perasaan saya sewaktu melihat perang dulu berbeda dengan sekarang saat saya masih muda, dahulu dampaknya tidak terlalu terasa,” ungkap Suwin kepada awak media AFP.

Akan tetapi, sewaktu menyaksikan banyaknya korban jiwa jatuh dalam konflik bersenjata terbaru, jiwanya langsung terpukul hebat dan merasa trauma.

“Hati saya amat sakit dan dada saya terasa sesak,” tuturnya menahan kesedihan.

Oleh karena itu, Suwin rajin berdiskusi dan menggali informasi dari para tentara Thailand yang sering mampir berbelanja di warung kelontong miliknya.

“Para tentara selalu menasihati saya agar terus berhati-hati dan selalu waspada,” ucapnya menirukan pesan aparat.

Alhasil, demi mengantisipasi potensi perang meletus kembali di kemudian hari, bunker perlindungan bawah tanah telah disiapkan oleh Suwin secara mandiri di rumahnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *