Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sapi Peternak Humbahas Diduga Diterkam Harimau, Jejak 13 Cm Ditemukan

MEDAN, Cinta-news.com – Lagi-lagi, konflik antara manusia dan satwa liar bikin heboh di Sumatera Utara. Kali ini, seorang peternak di Desa Tukka, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), harus gigit jari. Pasalnya, satu ekor sapi miliknya ditemukan tewas mengenaskan. Nah, yang bikin merinding, kematian si sapi ini diduga kuat akibat diterkam oleh harimau sumatera. Kejadian nahas ini berlangsung pada Kamis, 3 September 2026. Waduh!

Dugaan Serangan di Kawasan Habitat Satwa Liar

Tentu saja, peristiwa ini langsung mencuri perhatian. Apalagi, penyebab utama dari serangan tersebut diduga karena sapi malang itu sedang berada di kawasan habitat satwa liar. Jadi, semacam ‘salah kamar’ gitu, ya. Alih-alih mencari makan dengan aman, si sapi justru masuk ke wilayah yang menjadi ‘rumah’ bagi si raja hutan.

Menanggapi laporan warga yang masuk, Kepala Bagian Tata Usaha, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Andar Abdi Saragih, langsung bergerak cepat. Bekerja sama dengan lembaga Center for Orangutan Protection (COP), pihaknya pun terjun ke lapangan untuk melakukan penanganan. Penanganan intensif ini mereka lakukan pada 5 hingga 6 September 2026. Tidak main-main, mereka menelusuri lokasi kejadian bersama kepala desa dan masyarakat setempat. Keren, kan?

Andar menjelaskan, lokasi kejadian berada di ladang milik warga. Area tersebut berupa hamparan rerumputan seluas kurang lebih 100 x 100 meter. Menariknya, lokasi ini berada di kawasan Areal Penggunaan Lainnya (APL). Jaraknya sekitar 300 meter dari kawasan Hutan Lindung Sibatu Minyak. “Lokasi kejadian berada di ladang milik warga, area tersebut berupa hamparan rerumputan seluas kurang lebih 100 x 100 meter dan berada di kawasan Areal Penggunaan Lainnya (APL), dengan jarak sekitar 300 meter dari kawasan Hutan Lindung Sibatu Minyak,” ujar Andar dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 11 September 2026.

Sebelum kejadian, Andar mengungkapkan bahwa awalnya ada lima ekor sapi di lokasi tersebut. Kelima sapi itu terdiri atas dua ekor induk dan tiga ekor anak. Namun, sialnya, salah seekor anak sapi tiba-tiba hilang. Warga pun menduga anak sapi itu telah diterkam oleh satwa liar. Hmm, mulai terasa misterinya.

Jejak Kaki 13 Cm dan Pemasangan Kamera Trap

Kemudian, dalam penelusuran lapangan, tim menemukan bukti yang cukup kuat. Mereka menemukan jejak kaki satwa liar dari famili felidae atau kucing besar. Ukuran jejak kaki itu sekitar 13 cm. Temuan ini menjadi salah satu indikasi adanya aktivitas satwa liar di sekitar lokasi. Berdasarkan karakteristik jejak dan kondisi habitat di sekitar lokasi, tim menduga satwa tersebut merupakan harimau sumatera. “Dalam penelusuran lapangan, tim menemukan jejak kaki satwa liar dari famili felidae (kucing besar) berukuran sekitar 13 cm. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi adanya aktivitas satwa liar. Berdasarkan karakteristik jejak dan kondisi habitat di sekitar lokasi, tim menduga satwa tersebut merupakan harimau sumatera,” kata Andar.

Meskipun demikian, Andar menegaskan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, BBKSDA pun langsung memantau dengan kamera trap. Lokasinya dipasang di dekat bangkai sapi yang diduga diterkam harimau. Koordinatnya berada di 2.121982 N dan 98.468075 E, atau sekitar 127 meter dari titik yang diduga menjadi lokasi penerkaman. Selain itu, BBKSDA juga menemukan jejak harimau di radius sekitar 20 meter dari lokasi bangkai. Kamera trap pun dipasang di sana. Tidak hanya itu, mereka juga memantau menggunakan drone. Drone ini digunakan untuk memetakan kondisi tutupan lahan serta mengidentifikasi jalur yang berpotensi menjadi lintasan satwa.

Pada 6 September 2026, tim BBKSDA melakukan pengecekan kamera trap. Hasilnya, di kamera I yang dipasang di sekitar bangkai sapi, hanya terekam aktivitas anjing yang memakan bangkai tersebut. Sedangkan kamera II yang ditempatkan di jalur perlintasan belum merekam keberadaan satwa liar. “Pada 6 September 2026, tim BBKSDA melakukan pengecekan kamera trap, di kamera I yang dipasang di sekitar bangkai sapi, hanya terekam aktivitas anjing yang memakan bangkai tersebut, sedangkan kamera II yang ditempatkan di jalur perlintasan belum merekam keberadaan satwa liar,” ujar Andar.

Selanjutnya, kata dia, kamera kedua dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih strategis. Pemantauan melalui kamera akan dilanjutkan hingga tujuh hari ke depan. Tentu saja, ini menjadi momen yang mendebarkan. Warga pun diminta untuk lebih waspada.

Mitigasi dan Imbauan untuk Warga

Andar mengatakan, selain melakukan pemantauan, BBKSDA juga melakukan mitigasi melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat. “Dalam kegiatan penyuluhan, tim menjelaskan kepada masyarakat bahwa lokasi penggembalaan ternak berbatasan dengan kawasan hutan lindung yang merupakan habitat alami satwa liar,” kata Andar.

Oleh karena itu, penanganan dilakukan dengan mengedepankan mitigasi dan pencegahan interaksi negatif. Salah satu caranya adalah melalui pengelolaan ternak yang lebih aman. “Oleh karena itu, penanganan dilakukan dengan mengedepankan mitigasi dan pencegahan interaksi negatif, termasuk melalui pengelolaan ternak yang lebih aman,” tambahnya.

Masyarakat juga diimbau untuk membawa ternak kembali ke sekitar permukiman pada sore hari. Selain itu, mereka tidak boleh meninggalkan ternak dalam waktu yang lama di lokasi yang berdekatan dengan habitat satwa liar. Jadi, mari kita jaga bersama, ya! Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *