TANGERANG SELATAN, Cinta-news.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) lagi sibuk banget nih memantau lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tiba-tiba naik drastis di wilayah tersebut. Gimana nggak, fenomena ini langsung jadi sorotan tajam karena kenaikan jumlah kasusnya terjadi barengan dengan sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang melintas di wilayah Tangsel. Waduh, bahaya nggak sih?
Lonjakan 19,8 Persen dalam Sepekan, Totalnya Bikin Merinding!
Nah, berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) per 9 September 2026, kasus ISPA di Tangsel melonjak 19,8 persen dalam sepekan lho. Jumlah kasusnya meningkat dari 4.844 kasus pada minggu ke-34 menjadi 5.802 kasus pada minggu ke-35. Secara kumulatif, sejak 1 Januari hingga pekan ke-35 2026, total kasus ISPA di Kota Tangerang Selatan telah mencapai 148.370 kasus. Angka yang fantastis dan bikin merinding, kan?
Benarkah Disebabkan Abu Vulkanik? Eits, Jangan Buru-buru Simpulkan!
Meski lonjakan kasus bertepatan dengan melintasnya paparan abu vulkanik di Tangsel, Dinkes menegaskan bahwa kenaikan tersebut tidak bisa serta-merta disimpulkan disebabkan oleh abu vulkanik. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan dokter Allin Hendalin Mahdaniar menjelaskan, hubungan sebab-akibat secara langsung masih dalam tahap analisis epidemiologis. Jadi, jangan panik dulu ya!
Menurut Allin, grafik kasus ISPA sebenarnya telah menunjukkan tren peningkatan sebelum insiden sebaran abu vulkanik terjadi. “Peningkatan tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik, karena tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” ujar Allin dalam keterangan resminya, Rabu (9/9/2026). Nah, ini nih yang perlu kita cermati bersama.
Sebaran Kasus ISPA di Tangsel, Mana Saja yang Terdampak?
Data Dinkes Tangsel mencatat ribuan kasus ISPA tersebut tersebar di tujuh kecamatan. Berikut rincian jumlah kasus secara kumulatif: Kecamatan Serpong mencapai 38.366 kasus, Kecamatan Pamulang 27.293 kasus, Kecamatan Ciputat 26.895 kasus, Kecamatan Pondok Aren 22.170 kasus, Kecamatan Ciputat Timur 19.694 kasus, Kecamatan Setu 8.637 kasus, dan Kecamatan Serpong Utara 5.315 kasus. Gila, angka-angkanya bikin kita makin waspada!
Abu Vulkanik Berisiko bagi Kelompok Rentan, Siapa Saja Mereka?
Merujuk Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026, paparan abu vulkanik berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Gangguan tersebut antara lain iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, sesak napas, iritasi mata, gangguan kulit, hingga pencemaran air dan bahan pangan. Serem banget, kan?
Karena itu, Allin menegaskan bahwa Dinkes Tangsel memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang paling berisiko terdampak. “Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis), penyakit paru, dan penyakit kronis lainnya menjadi perhatian khusus,” kata Allin. Partikel debu dan abu berukuran halus, lanjut dia, berisiko memperburuk kondisi kesehatan masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan kronis. Jadi, buat kalian yang masuk kategori rentan, tolong ekstra hati-hati ya!
Dinkes Pantau Kualitas Udara, Ini yang Harus Kamu Lakukan!
Untuk mencegah memburuknya kualitas udara, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka karena aktivitas tersebut dapat memperparah emisi polusi udara. Dinkes Tangsel bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memantau konsentrasi partikel udara, terutama PM2,5 dan PM10. Selain itu, seluruh jaringan puskesmas dan rumah sakit di Kota Tangsel disiagakan untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat juga diimbau tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan. “Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkas Allin. Ingat, kesehatan itu mahal, jadi jangan tunda-tunda ya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











