TAPANULI TENGAH, Cinta-news.com – Betapa mengejutkan nasib menimpa proyek Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang baru saja menggeliat di Desa Simpang Labingke, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pasalnya, pondasi bangunan yang dianggarkan mencapai sekitar Rp 1,6 miliar itu sudah lebih dulu roboh sebelum pembangunannya benar-benar menunjukkan wujud yang kokoh. Ironisnya, kejadian memilukan ini terjadi ketika proyek tersebut masih berada dalam tahap awal pembangunan, sehingga menyisakan pertanyaan besar bagi banyak pihak.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi kejadian, terlihat dengan jelas bahwa pondasi bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari satu meter itu sudah tidak lagi berdiri dengan gagah. Bekas-bekas konstruksi yang ambruk kini berserakan, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah proyek yang baru saja dimulai sejak April 2026 lalu. Warga pun hanya bisa bergumam heran, bagaimana mungkin sebuah bangunan dengan nilai investasi fantastis bisa runtuh di awal perjalanannya.
Pengakuan Mengejutkan Ketua Kopdes: Kami Tak Pernah Dilibatkan!
Soaloan Tumanggor, selaku Ketua Kopdes Merah Putih Simpang Labingke, melontarkan pernyataan yang cukup mengagetkan. Menurut pengakuannya, para pengurus koperasi sama sekali tidak dilibatkan dalam pelaksanaan pembangunan gedung tersebut. Padahal, mereka adalah orang-orang yang seharusnya menjadi ujung tombak dan penanggung jawab utama atas segala proses yang berlangsung di koperasi.
“Kalau pembangunan anggaran sekitar Rp1,6 miliar, kami sebagai pengurus sama sekali tidak dilibatkan,” ujar Soaloan dengan nada prihatin saat ditemui Jumat (28/8/2026).
Rasa penasaran pun akhirnya mendorong para pengurus untuk mempertanyakan proses pembangunan kepada pihak-pihak yang terkait dengan proyek tersebut, termasuk PT Agrinas Pangan Nusantara. Namun, jawaban yang mereka terima justru semakin membingungkan.
“Kami sudah pernah konfirmasi, dan mereka bilang ada pihak ketiga dengan pengawasan anggota pihak TNI dan pemborong,” jelasnya menambahkan.
Sungguh sebuah situasi yang pelik, di mana para pengurus yang sah justru merasa seperti penonton dalam proyek yang menjadi tanggung jawab mereka. Keadaan ini tentu saja menimbulkan kecurigaan dan tanda tanya besar di benak semua pihak.
Hujan atau Kelalaian? Dua Faktor yang Diduga Jadi Biang Kerok
Mencoba menelusuri penyebab kejadian nahas ini, Soaloan mengungkapkan bahwa pembangunan Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke sebenarnya sudah dimulai sejak April 2026. Menariknya, berdasarkan pengetahuannya, proyek ini bahkan sudah mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan rencana awal yang telah ditetapkan.
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab utama robohnya pondasi adalah tingginya intensitas hujan yang melanda wilayah tersebut belakangan ini. Soaloan menduga bahwa curah hujan yang tinggi telah menyebabkan tanah penopang pondasi menjadi labil dan tidak mampu menahan beban konstruksi di atasnya.
Namun, bukan berarti faktor alam menjadi satu-satunya biang kerok. Soaloan juga dengan tegas menyoroti struktur bangunan yang menurut pandangannya terlihat kurang sesuai dengan standar operasional prosedur atau SOP yang seharusnya berlaku.
“Namun, tidak luput juga dari masalah struktur bangunan yang kurang sesuai SOP. Itu menurut pandangan saya, dan mungkin karena itulah pembangunan ini sementara tidak dilanjutkan,” tegasnya.
Meskipun demikian, Soaloan menegaskan bahwa penilaian tersebut merupakan pandangan pribadinya terhadap kondisi bangunan yang ia saksikan langsung di lapangan. Sebuah pernyataan yang cukup berani, namun juga sarat akan kekhawatiran akan kualitas pembangunan yang sedang berlangsung.
Tugas Pengurus Hanya Seputar Dokumen, Tak Lebih!
Lebih lanjut, Soaloan membeberkan fakta bahwa keterlibatan pengurus Kopdes Merah Putih selama proses pembangunan sangat terbatas, bahkan bisa dibilang minim. Pengurus hanya diminta untuk menyiapkan lahan serta sejumlah dokumen administrasi yang diperlukan, seperti MoU dan IMB, untuk kelancaran pembangunan.
“Kami hanya menyediakan tempat, berkas seperti MoU, IMB dan sebagainya yang kami siapkan. Pernah kami sampaikan supaya kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Bangunan Kopdes ini tiba-tiba sudah dibangun seperti itu,” katanya dengan nada kecewa.
Komunikasi yang terjalin pun praktis terputus setelah pengurus menunjukkan lokasi lahan dan menyelesaikan dokumen yang diminta. Sejak saat itu, mereka seolah kehilangan kendali dan akses informasi terhadap perkembangan proyek.
“Setelah kami menunjukkan lahan dan melakukan berkas, kami tidak ada lagi berhubungan atau dilibatkan. Kami sudah pernah menyampaikan agar kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali,” ujarnya dengan nada getir.
Akibat minimnya keterlibatan ini, para pengurus mengaku tidak mengetahui secara rinci bagaimana proses pengerjaan gedung berlangsung, hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan kabar bahwa bagian pondasi bangunan mengalami kerusakan parah.
Suara Rakyat: Kecewa dan Keberatan!
Kekecewaan yang sama juga dirasakan oleh warga Desa Simpang Labingke, yang merasa bahwa pembangunan Kopdes Merah Putih telah berlangsung tanpa melibatkan mereka secara memadai. Amiruddin Hasugian, seorang warga Lorong Enam, dengan lantang mempertanyakan pembangunan gedung Kopdes Merah Putih yang kini mengalami kerusakan.
“Kami sangat kecewa melihat pembangunan Kopdes kami di Desa Simpang Labingke ini ambruk. Kami keberatan!” ujar Amiruddin dengan ekspresi kesal.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak memperoleh informasi yang memadai sejak awal pembangunan, bahkan hingga kegiatan peletakan batu pertama sekalipun.
“Semenjak dibangun Kopdes ini, kami tidak mengetahui. Peletakan batu pertama pun kami tidak tahu sama sekali. Kami warga Desa Labingke tidak ada undangan dan bangunan tersebut sudah dibangun begitu saja tanpa pemberitahuan kepada kami selaku masyarakat di sini,” katanya mengeluh.
Amiruddin pun mempertanyakan minimnya keterlibatan warga lokal dalam proses pembangunan. Ia melihat sendiri bahwa mayoritas pekerja yang terlibat justru berasal dari kalangan aparat, bukan dari masyarakat setempat.
“Mereka saya lihat semena-mena saja bekerja. Kami masyarakat tidak dilibatkan. Kami lihat juga yang bekerja hanya aparat,” ungkapnya dengan nada tidak terima.
Harapan Warga: Libatkan Kami, Buka Lapangan Kerja!
Di tengah rasa kecewa dan kekecewaan, masyarakat Desa Simpang Labingke tetap menyuarakan harapan. Mereka berharap agar dapat dilibatkan dalam pengerjaan proyek tersebut, mengingat banyak warga setempat yang membutuhkan pekerjaan dan berharap mendapatkan kesempatan untuk turut serta membangun gedung Kopdes Merah Putih.
“Kami dari masyarakat banyak yang membutuhkan pekerjaan. Banyak masyarakat berharap dilibatkan bekerja dalam progres pengerjaan Gedung Kopdes itu. Kami juga sangat keberatan karena apa yang kami lihat kondisinya sudah ambruk dan tidak sesuai dengan yang kami harapkan,” tegas Amiruddin.
Kini, para pengurus koperasi dan warga masyarakat menaruh harapan besar akan adanya penjelasan terbuka dari pihak-pihak terkait mengenai proyek tersebut. Informasi yang mereka harapkan antara lain mencakup besaran anggaran yang digunakan secara transparan, rincian rencana anggaran biaya atau RAB, identitas pihak yang mengerjakan proyek, sistem pengawasan yang diterapkan, progres pembangunan secara jelas, serta penyebab pasti robohnya pondasi.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Agrinas Pangan Nusantara maupun pihak pelaksana pembangunan belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi gedung Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke tersebut. Masyarakat dan pengurus koperasi pun masih menunggu dengan sabar, berharap agar kasus ini segera mendapatkan titik terang dan keadilan. Akankah ada penjelasan yang memuaskan? Hanya waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











