MEDAN, Cinta-news.com – Langit Medan mendung menyelimuti Rumah Sakit Umum Haji saat Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, melangkahkan kaki memasuki ruang perawatan. Wajahnya tampak serius, matanya menerawang jauh menyusuri lorong rumah sakit yang dipenuhi aroma antiseptik. Bukan tanpa alasan, pria yang akrab disapa Bobby itu datang dengan membawa beban berat—sebuah permintaan maaf yang harus ia sampaikan langsung kepada para pelajar yang menjadi korban keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (13/8/2026).
Bayangkan, sebanyak 353 pelajar harus berjuang melawan mual dan pusing yang menyerang secara tiba-tiba setelah menyantap menu MBG yang seharusnya menyehatkan. Angka fantastis itu terus bertambah hingga Jumat (14/8/2026) malam, membuat seluruh pihak terkait bergerak cepat memberikan penanganan darurat.
Bobby tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan para pelajar ini. Jumat malam, ia segera melesat menuju Rumah Sakit Umum Haji Medan untuk melihat langsung kondisi korban yang masih menjalani perawatan intensif. Langkahnya terburu-buru, tatapannya penuh kekhawatiran saat melewati pintu masuk rumah sakit yang ramai oleh keluarga korban.
Yang paling memilukan, seorang siswi kelas 12 SMK 1 Karo harus mengalami penurunan kesadaran yang cukup mengkhawatirkan. Kondisinya sangat kritis hingga tim medis terpaksa merujuknya dari RS Efarina Berastagi ke RS Haji. Bayangkan, seorang gadis remaja yang seharusnya bersemangat menimba ilmu, kini harus terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menempel di lengannya.
“Secara medis silakan tanya dokter, tapi secara visual saya sampaikan bahwa adik kita ini memang lebih parah dibandingkan yang lain,” ujar Bobby dengan nada suara bergetar saat ditemui awak media, Sabtu (15/8/2026). Dari raut wajahnya, tampak jelas kekhawatiran mendalam yang ia rasakan sebagai pemimpin daerah.
Sambil sesekali mengusap keringat di dahinya, Bobby menjelaskan bahwa kabar baik mulai terlihat dari para pelajar lain. Sejumlah korban sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan intensif. Namun, perhatiannya tetap tertuju pada siswi yang kini masih terbaring di RS Haji—gadis yang sempat kehilangan kesadarannya dan harus berjuang ekstra keras melawan racun yang masuk ke tubuhnya.
“Yang lain sudah ada yang bisa pulang, tapi adek ini awalnya di RS Efarina Berastagi dan dirujuk ke sini karena sempat mengalami penurunan kesadaran,” jelas Bobby sambil menghela napas panjang.
Pemprov Sumut Siap Tanggung Jawab Penuh Atas Korban
Kunjungan Bobby ke rumah sakit bukan sekadar silaturahmi biasa. Dengan tegas, ia meminta pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan terbaik dan memantau kondisi siswi tersebut setiap menitnya. Ketegasan itu menunjukkan komitmen pemerintah provinsi untuk bertanggung jawab penuh atas kejadian yang mencoreng program MBG ini.
“Jadi, saya minta tadi agar dirawat secara intensif, setiap menit dan reaksinya masih harus diperhatikan dengan seksama,” imbuhnya sambil menatap tajam ke arah tim medis yang berdiri di sampingnya.
Momen haru terjadi ketika Bobby bertemu langsung dengan orangtua siswi yang baru saja tiba di rumah sakit. Wajah kedua orangtua itu tampak pucat pasi, mata mereka sembab menahan tangis melihat anak tercinta terbaring lemah. Mereka datang terburu-buru tanpa sempat membawa perlengkapan pakaian untuk menemani sang buah hati selama masa perawatan.
Melihat kondisi itu, hati Bobby tersentuh. Dengan penuh ketulusan, ia menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya. “Orangtuanya juga baru sampai dan belum ada persiapan bawa baju segala macam, tapi kami sampaikan permohonan maaf dan minta jangan salahkan siapa pun,” ucap Bobby dengan nada rendah.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa pemerintah provinsi akan menanggung seluruh biaya perawatan siswi tersebut hingga dinyatakan pulih total. Bukan sekadar janji kosong, pernyataan ini menjadi bentuk tanggung jawab moral pemerintah atas program yang menjadi andalan dalam meningkatkan gizi pelajar.
“Kami dari pemerintah provinsi tetap sampaikan permintaan maaf dan pastikan akan merawat siswa ini sampai pulih total,” tandas Bobby dengan penuh keyakinan. Dari intonasi suaranya, terdengar tekad bulat untuk tidak mengulangi kejadian serupa di masa mendatang.
Kontroversi Pernyataan Bupati Karo: Tak Ada yang Mengkhawatirkan?
Sebelum permintaan maaf Bobby menggema, sebuah pernyataan kontroversial justru datang dari Bupati Karo, Antonius Ginting. Alih-alih menunjukkan keprihatinan, Antonius justru menjadi sorotan publik karena menganggap kondisi para pelajar tidak mengkhawatirkan. Padahal, rekaman video yang beredar liar di media sosial memperlihatkan adegan mengerikan di mana korban kehilangan kesadaran dan mengalami kejang-kejang hebat.
“Dari 255 anak sekolah yang kemungkinan mengalami gejala keracunan ini, semuanya tidak ada yang mengkhawatirkan,” ujar Antonius dengan percaya diri di depan RS Amanda Berastagi, Kamis.
Pernyataan itu ia sampaikan setelah melakukan inspeksi bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Karo untuk mengecek kondisi para pelajar. Banyak pihak menilai pernyataan Bupati terlalu dini dan terkesan meremehkan situasi yang sebenarnya cukup serius.
Dinkes Gerak Cepat: Sampel Makanan Diambil, Ikan Tongkol Jadi Tersangka?
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, dr. Immanuel Sinuhaji, Sp.PA, bergerak cepat melakukan penyelidikan mendalam. Timnya langsung mengambil sampel makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas memasok program MBG. Langkah ini diambil untuk mengungkap penyebab pasti dari insiden keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar.
“Sampel makanan sudah kami ambil, sekarang tinggal penanganannya. Nanti selanjutnya akan kami kirim ke laboratorium untuk diuji lebih lanjut,” kata Immanuel dengan nada profesional.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Kepala Dapur SPPG Kodim sebagai pemasok makanan, menu yang disajikan pada hari nahas itu terdiri dari sayur dan ikan tongkol. Menu yang seharusnya kaya protein dan gizi ini justru menjadi biang keladi dugaan keracunan.
Immanuel menjelaskan bahwa bahan makanan yang dijadikan sampel merupakan menu serupa yang memang disiapkan SPPG setiap kali melakukan pengantaran. “Biasanya ada bahan makanannya yang disiapkan setiap hari, itulah yang sudah kami ambil. Sementara dugaan sementara kami, penyebabnya adalah karena ikan itu,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.
Dengan langkah investigasi yang transparan dan penanganan korban yang maksimal, masyarakat berharap kejadian serupa tidak akan terulang kembali. Program MBG yang diharapkan menjadi solusi peningkatan gizi pelajar justru harus dievaluasi ulang untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











