Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Tumpukan Sampah di Cibinong Capai 230 Ton, DLH Temukan Kulkas hingga Kasur di Dalamnya

BOGOR, Cinta-news.com – Pemandangan memilukan masih menyelimuti aliran Kali Baru di jalur strategis Jalan Raya Jakarta-Bogor, Cibinong. Tumpukan sampah yang menggunung ternyata menyimpan kejutan yang sangat tidak terduga. Selain bau menyengat dan tumpukan plastik, tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi justru menemukan berbagai limbah rumah tangga berukuran raksasa yang jelas-jelas bukan sembarang sampah. Rupanya, warga yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja membuang barang-barang elektronik dan perabotan besar ke sungai, sehingga memperparah bencana ekologis yang sedang terjadi.

Bukan Sekadar Plastik dan Sampah Dapur, Petugas Temukan Benda Raksasa!

Petugas di lapangan sontak terkejut ketika ekskavator mulai menggali tumpukan sampah yang padat. Mereka tidak hanya menjumpai sisa makanan atau kemasan plastik, melainkan juga benda-benda keras seperti lemari es alias kulkas, televisi tabung tua, hingga kasur bekas yang sudah lapuk dan penuh lumpur. Bayangkan, betapa sengsaranya sungai ini menampung segala limbah yang seharusnya dibuang di tempat pembuangan akhir. Penemuan ini secara gamblang menunjukkan bahwa masih banyak oknum yang memperlakukan aliran sungai seperti tempat pembuangan sampah pribadi yang tanpa batas.

Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Agus Budi, mengungkapkan bahwa timbunan di lokasi tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, ketebalan yang menumpuk mencapai kedalaman sekitar dua meter, bahkan jika dihitung secara keseluruhan, volumenya diperkirakan menyentuh angka fantastis, yaitu 230 ton. Sungguh angka yang luar biasa besar dan sulit dibayangkan oleh masyarakat awam. Berdasarkan hasil pengamatan tim di lapangan, proses pembersihan ini dipastikan tidak akan mudah dan membutuhkan kerja ekstra keras.

Agus Budi dengan tegas menyampaikan bahwa pembersihan di lokasi ini bukanlah pekerjaan biasa. Mengingat kedalaman yang mencapai dua meter, pihaknya terpaksa mengerahkan seluruh kemampuan yang ada. “Kedalaman timbunan sampah mencapai sekitar dua meter, karena itu proses pembersihan membutuhkan upaya yang sangat ekstra, baik dari sisi personel, armada, maupun penggunaan alat berat,” ujar Agus dengan nada serius saat ditemui di Cibinong pada Minggu (12/7/2026). Untuk diketahui, kedalaman ini setara dengan tinggi orang dewasa, sehingga mengindikasikan bahwa sampah sudah mengendap sangat lama dan memadat.

Pohon Tumbang hingga Kasur Busa, Semua Menumpuk Jadi Satu!

Menurut penuturan Agus, petugas yang bekerja di bawah terik matahari harus berhadapan dengan berbagai macam material berat. Mereka tidak hanya mengangkut sampah rumah tangga biasa, tetapi juga menemukan batang dan dahan pohon berukuran besar yang dengan liar tersangkut di aliran sungai. Material-material keras tersebut harus dipotong terlebih dahulu menggunakan gergaji mesin sebelum dievakuasi, karena ukurannya sangat besar dan tidak mungkin diangkat utuh. Kondisi ini jelas memperlambat proses evakuasi dan menguras tenaga para petugas yang sudah bekerja siang dan malam.

Selain ranting dan batang pohon yang membandel, kejutan paling mencengangkan datang ketika petugas mulai menggali lebih dalam. Alih-alih menemukan sampah organik biasa, mereka justru menemukan berbagai barang berukuran super besar yang diduga sengaja dibuang oleh pemiliknya untuk menghemat biaya pengangkutan. Bayangkan, ada kulkas dua pintu, televisi tabung berukuran 21 inci, dan puluhan kasur busa tebal yang ikut memenuhi dasar sungai. “Kondisi itu memperparah penumpukan yang menghambat aliran air dan berpotensi menimbulkan banjir serta pencemaran lingkungan,” ucap Agus sambil menggelengkan kepala.

Akibat dari ulah tidak bertanggung jawab ini, aliran Kali Baru menjadi sangat sempit dan dangkal. Air yang seharusnya mengalir deras justru terhambat oleh gundukan yang padat, sehingga menimbulkan genangan di sepanjang tepi sungai. Tidak hanya itu, pencemaran limbah dari kulkas dan televisi yang rusak juga dikhawatirkan meracuni ekosistem air, membunuh biota sungai, dan bahkan membahayakan kesehatan warga yang tinggal di bantaran sungai. Situasi ini benar-benar memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

Target Lima Hari, Puluhan Truk Dikerahkan!

Pemerintah Kabupaten Bogor melalui DLH bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) akhirnya bergerak cepat. Mereka menggelar operasi besar-besaran sejak Jumat (10/7/2026) atas perintah langsung Bupati Bogor, Rudy Susmanto, yang sangat terkejut dengan kondisi sungai tersebut. Untuk mempercepat penanganan bencana sampah ini, pemerintah mengerahkan puluhan truk dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) DLH yang tersebar di Kabupaten Bogor. Bahkan, dua alat berat canggih berupa ekskavator amfibi juga diterjunkan untuk mengangkat sampah-sampah berat yang terendam lumpur.

Agus menjelaskan bahwa hingga hari ketiga pembersihan, progres yang dicapai sudah cukup signifikan meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pada hari pertama, tim berhasil mengangkut tujuh truk sampah penuh, yang kemudian meningkat drastis menjadi 37 truk pada hari kedua. Memasuki hari ketiga, sebanyak 32 truk sampah kembali diangkut dari lokasi ke tempat pembuangan akhir. “Perkiraan sementara, volume sampah mencapai sekitar 230 ton. Jika proses berjalan lancar, kami menargetkan pembersihan dapat selesai dalam waktu kurang lebih lima hari,” kata Agus dengan optimisme.

Namun, perjuangan ini masih jauh dari kata selesai karena tumpukan sampah di dasar sungai ternyata sangat padat dan bercampur dengan lumpur hitam pekat. Ekskavator amfibi pun bekerja keras mengaduk dan mengangkat sampah yang sudah membatu, sementara puluhan petugas terjun ke sungai dengan perlengkapan seadanya untuk memilah sampah yang tidak bisa dijangkau alat berat. Proses ini sangat melelahkan dan penuh risiko, mengingat bau metana yang menyengat serta kemungkinan adanya benda tajam di antara tumpukan sampah. Meskipun demikian, semangat para petugas tidak pernah surut demi mengembalikan fungsi sungai.

Di sisi lain, Agus dengan tegas mengimbau masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai. Menurutnya, keberhasilan menjaga kebersihan aliran air tidak hanya bergantung pada kerja keras pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh warga. “Seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah karena keberhasilan normalisasi sungai tidak hanya bergantung pada kerja pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh warga agar sungai tetap bersih, aliran air lancar, serta risiko banjir dapat diminimalkan,” pungkasnya.

Imbauan ini disampaikan dengan harapan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Bupati Bogor bahkan berjanji akan menindak tegas siapapun yang tertangkap tangan membuang sampah besar ke sungai, karena dampaknya sangat merugikan masyarakat banyak. Jika kesadaran kolektif tidak segera dibangun, maka bukan tidak mungkin biaya pembersihan sungai akan terus membengkak dan menguras anggaran daerah yang seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan lainnya. Untuk itu, mari kita jaga sungai kita agar tetap bersih dan bebas dari sampah.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *