Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Aksi Buruh PT Pakerin di Mojokerto, Tuntut Kejelasan Upah dan Status Karyawan

MOJOKERTO, Cinta-news.com — Suasana di ruas jalan provinsi penghubung Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo mendadak berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan berat pada Senin pagi (22/6/2026). Ratusan buruh PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) di Kecamatan Pungging tiba-tiba membanjiri akses masuk perusahaan, yang langsung memicu kemacetan panjang hingga lebih dari 300 meter. Aksi demonstrasi ini ternyata bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan bentuk keputusasaan para pekerja yang sudah berbulan-bulan menahan derita karena gaji mereka tak kunjung dibayar.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa sejak pagi hari, dua kendaraan berat sengaja diparkir melintang di depan gerbang pabrik, sehingga akses masuk dan keluar perusahaan benar-benar tertutup rapat. Di sisi lain, aparat keamanan juga tampak berjaga di sekitar area pabrik untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemacetan yang terjadi ternyata cukup parah, sehingga polisi terpaksa menerapkan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan arus kendaraan dan memberlakukan sistem buka tutup jalan secara bergantian.

Buruh Bantah Sengaja Blokade Jalan, Ini Alasannya!

Ketua PC SPAI FSPMI Mojokerto, Eka Hernawati, dengan tegas membantah tuduhan bahwa para buruh sengaja memblokade jalan raya. Menurutnya, niat awal para pekerja sebenarnya hanya ingin menggelar aksi demonstrasi di dalam area perusahaan. Namun, karena akses masuk ternyata sudah lebih dulu ditutup oleh pihak PT Pakerin sendiri, maka massa terpaksa berkumpul di depan gerbang pabrik dan akhirnya meluber hingga ke badan jalan.

“Sebenarnya kami sama sekali tidak berniat memblokade jalan raya, kok. Tapi karena akses perusahaan sudah ditutup oleh PT Pakerin, sementara mobil komando yang kami gunakan ini ukurannya juga besar, sehingga posisinya sangat mengganggu arus lalu lintas. Sekali lagi saya tekankan, ini bukan keinginan kami untuk membuat macet atau menutup jalan ini,” jelas Eka dengan nada frustrasi di hadapan awak media, Senin.

Eka kemudian menjelaskan bahwa aksi nekat ini sebenarnya merupakan langkah terakhir yang harus ditempuh para buruh setelah berbagai upaya musyawarah menemui jalan buntu. Mereka terpaksa bertindak lebih keras agar perusahaan segera merespons tuntutan pembayaran upah yang sudah tertunda berbulan-bulan. “Kami melakukan ini karena sudah tidak ada pilihan lain. Ada tekanan besar dari kami semua agar perusahaan segera membayar upah yang menjadi hak kami,” tambahnya dengan suara lantang.

Gaji Januari-Maret 2026 Masih Menggantung, Buruh Mulai Kalang Kabut!

Yang paling memprihatinkan, para karyawan PT Pakerin ternyata masih menunggu pembayaran upah untuk periode Januari hingga Maret 2026. Bayangkan, sudah memasuki pertengahan tahun, tetapi gaji mereka selama tiga bulan pertama masih tertahan tanpa kejelasan kapan akan dicairkan. Kondisi ini tentu semakin memperparah beban ekonomi yang harus ditanggung para buruh dan keluarga mereka sehari-hari.

Lebih mengkhawatirkan lagi, buruh juga baru-baru ini memperoleh informasi mengejutkan mengenai rencana penjualan sejumlah aset perusahaan. Kabar ini tentu saja langsung membuat para pekerja semakin panik dan was-was. Mereka khawatir jika aset perusahaan dijual terlebih dahulu, maka hak-hak mereka sebagai pekerja akan sulit untuk ditagih. Karena itulah, mereka bersikeras meminta agar tidak ada satu pun aset perusahaan yang dikeluarkan sebelum seluruh hak pekerja diselesaikan dengan tuntas.

“Beberapa hari yang lalu, kami mendengar informasi bahwa ada mesin-mesin pabrik yang hendak dijual. Bahkan saat ini proses pemotongan dan pengeluaran mesin tersebut sudah mulai berjalan. Kami sampai menggelar aksi di sini karena kawan-kawan semua belum menerima upah dari Januari hingga Maret. Pada kesempatan ini, kami juga berniat mengamankan aset-aset perusahaan itu karena kawan-kawan belum mendapatkan haknya,” tutur Eka dengan nada tegas.

Ia pun menegaskan bahwa perusahaan tidak boleh mengeluarkan aset sedikit pun sebelum seluruh kewajiban kepada pekerja dipenuhi. Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah menyelesaikan pembayaran upah yang tertunda, bukan malah menjual aset yang justru bisa digunakan untuk memenuhi hak-hak karyawan.

Nasib Ribuan Karyawan Masih Misterius, PHK Mengintai!

Sementara itu, hingga saat ini para pekerja juga masih dibiarkan dalam ketidakpastian mengenai status hubungan kerja mereka. Sebagian besar karyawan masih menunggu kejelasan apakah mereka akan tetap dipekerjakan atau justru terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam waktu dekat. Ketidakjelasan ini tentu semakin menambah kekhawatiran di kalangan buruh yang sudah terpuruk secara ekonomi.

Eka menjelaskan bahwa para pekerja sebenarnya masih menantikan tindak lanjut dari hasil pertemuan dengan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, yang digelar pada pertengahan Juni lalu. Pada pertemuan tersebut, sempat disampaikan bahwa langkah strategis yang akan diambil adalah bagaimana menyelamatkan PT Pakerin beserta ribuan karyawannya agar nasib mereka bisa terselamatkan.

“Kemarin saat konsolidasi, kami diberi tahu bahwa langkah ke depan adalah bagaimana menyelamatkan PT Pakerin dengan ribuan karyawan ini agar nasib mereka tidak terkatung-katung. Namun, jika perusahaan ini ternyata tidak bisa diselamatkan lagi, maka hak-hak karyawan baik upah maupun pesangon harus didahulukan pembayarannya,” jelas Eka dengan nada serius.

Konflik Internal dan Produksi Tersendat, Hanya 400 Buruh yang Masih Bekerja!

Diketahui, PT Pakerin saat ini tengah dilanda konflik internal yang cukup parah dan berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan. Meskipun pabrik masih terlihat beroperasi, aktivitas produksi ternyata hanya berjalan di satu divisi saja, yaitu bagian soda kimia yang melibatkan sekitar 400 pekerja. Sementara itu, lebih dari 2.000 karyawan lainnya kini masih terkatung-katung menunggu kepastian mengenai kelangsungan pekerjaan mereka.

Konflik internal yang berkepanjangan ini jelas menjadi pukulan telak bagi kelangsungan hidup ribuan karyawan yang menggantungkan hidup pada PT Pakerin. Dengan produksi yang hanya berjalan di satu divisi, maka pendapatan perusahaan pun kemungkinan besar menurun drastis, yang akhirnya berimbas pada ketidakmampuan membayar gaji karyawan tepat waktu.

Buruh Mendesak Pemerintah Turun Tangan!

Para buruh kini berharap agar pemerintah segera turun tangan dan mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka meminta agar ada kejelasan kepastian hukum dan jaminan bahwa hak-hak mereka sebagai pekerja akan dipenuhi. Tidak hanya itu, para buruh juga mendesak agar perusahaan transparan mengenai kondisi keuangan dan rencana bisnis ke depan.

Jika tidak ada solusi yang segera ditemukan, bukan tidak mungkin aksi serupa akan terus berlanjut dan bahkan semakin massif. Para buruh sudah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika hak-hak mereka terus diabaikan. Akankah pemerintah dan perusahaan segera menemukan jalan keluar terbaik untuk menyelamatkan nasib ribuan karyawan PT Pakerin? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *