TANGERANG, Cinta-news.com – Sebuah aksi iseng yang nyaris berujung petaka akhirnya menemui titik terang. Tiga pemuda yang videonya sempat viral karena melemparkan petasan ke arah sopir angkutan kota (angkot) di Cipondoh, Kota Tangerang, akhirnya menyerah dan meminta maaf secara langsung. Mereka adalah DA (20), RDS (16), dan UPT (21). Dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi oleh Polres Metro Tangerang Kota pada Kamis (26/2/2026), ketiganya mengakui perbuatan mereka dan memohon maaf kepada korban yang sempat mereka teror.
Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota, AKBP Parikhesit, saat memberikan keterangannya pada Jumat (27/2/2026), mengonfirmasi bahwa proses mediasi berjalan dengan lancar. Pihak kepolisian dengan sigap mempertemukan kedua belah pihak setelah mengetahui video aksi para pemuda tersebut tersebar luas di media sosial. Dalam mediasi itu, para pelaku dengan suara lantang menyampaikan permintaan maaf mereka. “Para pelaku menyadari betul kesalahannya. Mereka tidak hanya meminta maaf kepada korban, tetapi juga kepada masyarakat yang merasa resah dengan ulah mereka,” ungkap AKBP Parikhesit.
Momen haru pun mewarnai pertemuan tersebut. Di hadapan para petugas, DA, RDS, dan UPT menundukkan kepala saat berhadapan dengan Muhamad Gazali (51) dan Marjono (51), dua orang sopir angkot jurusan Cikokol–Ciledug yang menjadi sasaran lemparan petasan mereka. Suasana yang awalnya tegang perlahan mencair setelah para pemuda itu mengulurkan tangan dan memohon maaf atas kelakuan mereka yang membahayakan orang lain.
Pihak korban pun menunjukkan jiwa besar mereka. Mendengar permintaan maaf yang tulus tersebut, Gazali dan Marjono sepakat untuk tidak memperpanjang masalah. Bahkan, mereka bersama-sama dengan para pelaku membuat surat kesepakatan bersama di atas materai. “Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan. Mereka membuat surat kesepakatan bersama sebagai tanda damai,” tambah AKBP Parikhesit. Keputusan ini sekaligus menutup celah adanya laporan polisi lebih lanjut, mengingat tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Lantas, bagaimana awal mula kejadian yang menghebohkan warga Cipondoh itu? Peristiwa ini terjadi pada Selasa (24/2/2026) dini hari, tepatnya sekitar pukul 02.00 WIB. Di Jalan Maulana Hasanudin, Kelurahan Cipondoh, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, suasana tengah malam yang sunyi mendadak berubah riuh oleh suara letusan.
Saat itu, ketiga pemuda ini dengan percaya diri memamerkan aksi mereka. Sebelum beraksi, mereka sempat mengabadikan segenggam petasan berwarna merah di tangan mereka dan mengunggahnya ke media sosial. Mereka seolah ingin menunjukkan “kebolehan” mereka kepada dunia maya. Setelah puas pamer, mereka pun langsung tancap gas menggunakan satu unit sepeda motor. Dengan berbonceng tiga, mereka melaju di jalan raya dan mulai melemparkan petasan yang sudah dinyalakan ke arah para sopir angkot yang sedang mangkal atau melintas.
Kapolsek Cipondoh, AKP Yudha Prakoso, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai motif di balik aksi nekat tersebut. Menurut hasil pemeriksaan, para remaja itu sama sekali tidak memiliki niat jahat atau tujuan tertentu. Mereka hanya merasa bosan dan tidak ada kegiatan. “Berdasarkan keterangan yang mereka berikan, aksi ini murni karena iseng. Mereka mengaku tidak ada kegiatan dan hanya ingin mencari keseruan semata,” jelas AKP Yudha. Alasan klasik yang seringkali menjadi biang kerok masalah di kalangan remaja.
Meskipun aksi mereka sempat membuat gempar dan videonya viral di berbagai platform media sosial, menariknya tidak ada satu pun korban yang membuat laporan resmi ke kantor polisi. Hal ini diakui langsung oleh Kapolsek. Namun, sebagai bentuk respons cepat terhadap keresahan masyarakat dan untuk mencegah aksi serupa terulang, pihak kepolisian tetap mengambil inisiatif. Mereka tidak tinggal diam. Polisi segera melacak keberadaan para pelaku dan para korban, lalu memfasilitasi pertemuan damai di Polres Metro Tangerang Kota.
Dengan adanya mediasi ini, masalah pun selesai secara kekeluargaan. Para pemuda itu pulang dengan membawa pelajaran berharga, bahwa sebuah “iseng” yang direkam dan disebarkan bisa berbuah konsekuensi yang tidak main-main. Sementara para sopir angkot pun bisa kembali bekerja dengan tenang tanpa rasa khawatir akan teror dari para pengendara iseng. Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di era digital, setiap tindakan sekecil apa pun akan selalu terekam dan berdampak luas.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
