Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Venezuela Perkuat Militer dengan 5.600 Prajurit Baru, Antisipasi Ancaman AS di Karibia

CARACAS, Cinta-news.com – Pada Sabtu (6/12/2025), Venezuela secara resmi melantik 5.600 prajurit baru. Acara ini menjadi respons langsung atas tekanan militer Amerika Serikat yang kian memanas.

Latar belakangnya adalah seruan Presiden Nicolas Maduro untuk meningkatkan rekrutmen. Seruan ini muncul ketika AS mengerahkan armada perang besarnya ke Karibia. Alasan resmi Washington adalah memerangi narkoba. Namun, Venezuela menolak dalih tersebut. Dalam upacara di Fuerte Tiuna, Kolonel Gabriel Alejandro Rendon Vilchez menegaskan, “Kami tidak akan mengizinkan invasi oleh kekuatan imperialis.” Venezuela mengerahkan kekuatan militer sebesar 200.000 tentara dengan dukungan 200.000 anggota polisi.

Sementara itu, Amerika Serikat telah melakukan serangkaian operasi militer. Intelijen militer melaporkan bahwa pasukan AS telah menyerang sedikitnya 22 kapal. Serangan itu menewaskan minimal 83 orang. Washington juga menuduh Presiden Maduro memimpin “Cartel of the Suns”. Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menetapkan organisasi ini sebagai kelompok teroris. Maduro membantah semua tuduhan itu. Ia justru menegaskan bahwa tujuan AS adalah untuk menggulingkan pemerintahannya. Target lain adalah menyita cadangan minyak Venezuela yang besar.

Ketegangan kian memuncak dengan detail serangan terbaru AS. Komando Selatan AS merilis pernyataan di media sosial X. Mereka menyebut menargetkan kapal di perairan internasional. Kapal tersebut diklaim milik organisasi teroris dan membawa narkotika. Pernyataan itu disertai video dramatis. Video menunjukkan kapal bermesin ganda melaju kencang, lalu terkena ledakan dan terbakar. Komando Selatan AS mengonfirmasi empat orang di kapal tewas.

Yang menarik, video yang beredar hanya cuplikan singkat. Pejabat intelijen AS justru menunjukkan rekaman lengkap itu kepada anggota parlemen dalam sebuah pengarahan rahasia. Hal ini memicu kritik dari dalam negeri AS sendiri. Misalnya, Jim Himes dari Partai Demokrat menyebut rekaman itu sangat meresahkan. Ia menggambarkan, “Ada dua orang yang jelas-jelas dalam kesulitan. Kapal mereka hancur, namun mereka dibunuh oleh Amerika Serikat.”

Kritik juga datang dari kubu Republik. Perwakilan Don Bacon menyatakan kedua orang dalam video sedang berusaha bertahan hidup. Ia mengingatkan aturan perang AS. “Aturan kita tidak mengizinkan membunuh penyintas. Mereka harus menimbulkan ancaman mendesak. Saya pikir kita bisa katakan mereka tidak mengancam negara kita,” ujarnya.

Meski demikian, aksi militer AS ini juga mendapat dukungan. Senator Republik Tom Cotton membela operasi tersebut. Ia menyatakan semua serangan yang dilakukan sepenuhnya sah dan perlu. “Itu persis seperti yang kami harapkan dari komandan militer kami,” tuturnya.

Akhirnya, laporan ini mengungkap konflik yang sangat kompleks. Venezuela memperkuat pertahanan melalui rekrutmen massal. Mereka bersiap menghadapi ancaman invasi. Di sisi lain, kebijakan militer AS menuai kontroversi di dalam negeri. Isu hukum humaniter internasional menjadi pertanyaan besar. Krisis geopolitik ini mempertemukan narasi ‘perang terhadap narkoba’ dengan klaim ‘pertahanan kedaulatan’. Bukti di lapangan menimbulkan pertanyaan etis yang pelik. Nasib prajurit baru Venezuela dan stabilitas Karibia kini menunggu keputusan politik berikutnya dari kedua pihak.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version