PALANGKA RAYA, Cinta-news.com – Dunia pemasyarakatan Kalimantan Tengah benar-benar dibuat gempar! Seorang mantan anggota kepolisian yang tengah mendekam di Lapas Kelas IIA Palangka Raya nekat mencoba kabur dengan cara yang sangat dramatis—sambil mengacungkan pistol tajam ke arah petugas jaga.
Ya, Anton Kurniawan, mantan polisi yang kini menyandang status narapidana kasus penembakan sopir ekspedisi di Kabupaten Katingan, memilih aksi nekat pada Sabtu (23/5/2026) siang. Vonis seumur hidup yang harus ia jalani seolah tak mampu ia terima dengan lapang dada. Namun yang lebih mencengangkan: dari mana ia mendapatkan pistol berisi tujuh peluru tajam di dalam sel tahanan?
Pistol Diselundupkan Istri: Siasat Licin di Balik Tas Putih
Ternyata, penyelundupan senjata api itu dilakukan dengan modus yang sangat licin! Petugas mendapati fakta mengejutkan bahwa pistol tersebut masuk ke dalam lapas melalui kunjungan istri Anton, Juwita. Istrinyalah yang berperan sebagai aktor kunci dalam rencana pelarian ini.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, mengungkapkan kepada wartawan Selasa (26/5/2026) bahwa situasi kunjungan akhir pekan memang lebih longgar karena tingginya jumlah pengunjung. “Di hari Sabtu, lonjakan kunjungan terjadi karena liburan, sehingga keramaian itu menjadi celah yang dimanfaatkan,” jelas Murdiana.
Lantas, bagaimana persisnya siasat itu berjalan? Mari kita bedah!
Sekitar pukul 08.55 WIB, Juwita melangkah masuk kawasan lapas. Petugas wanita langsung melakukan pemeriksaan badan dan barang bawaan secara standar. Awalnya, tak ditemukan satu pun benda mencurigakan pada diri maupun tas yang ia bawa. Semua tampak normal, hingga akhirnya rahasia kelam terkuak.
Murdiana menjelaskan bahwa sebelum pemeriksaan utama dimulai, Juwita dengan sengaja meninggalkan sebuah tas putih di atas meja kayu dekat toilet di luar area pemeriksaan. Perempuan ini seolah berpura-pura ingin buang air kecil. Tas itu ia titipkan di tempat yang tidak terjangkau penggeledahan petugas.
Setelah urusan pura-puranya selesai, ia kembali masuk ke ruang kunjungan untuk bertemu Anton sekitar pukul 09.13 WIB. Namun pertemuan itu tak berlangsung lama. Sekitar 11 menit kemudian, tepat pukul 09.24 WIB, ia kembali keluar dengan alasan hendak ke kamar mandi lagi. Kali ini, ia masuk lagi sambil membawa tas putih yang sebelumnya tidak ikut diperiksa!
“Itulah kelemahan kami. Ramainya pengunjung membuat petugas tidak menyadari bahwa tas tersebut belum melalui pemeriksaan keamanan. Situasi inilah yang diduga dimanfaatkan istri narapidana untuk menyelundupkan pistol ke dalam,” papar Murdiana dengan nada kesal.
Aksi Nekat di Siang Bolong: Pistol Ditodongkan, Pelatuk Ditarik Dua Kali!
Setelah tas putih berisi senjata itu berhasil masuk, waktu menunjukkan pukul 10.18 WIB. Juwita kemudian dengan tenang meninggalkan ruang kunjungan menuju area luar lapas, seolah tak terjadi apa-apa. Sementara Anton tetap berada di dalam dengan membawa barang haram tersebut.
Nah, baru sekitar pukul 11 siang, aksi pelarian dimulai! Anton, bukannya kembali ke sel melalui jalur biasa, justru berbalik arah menuju pintu 2. Ia kemudian menerobos akses keluar sambil menodongkan pistol ke arah petugas yang tengah berjaga.
“Yang bersangkutan dengan nekat menerobos Pengamanan Pintu Utama (P2U) sambil mengancam petugas menggunakan pistol. Sebelum petugas berhasil melumpuhkannya, ia sempat menarik pelatuk pistol sebanyak dua kali!” ungkap Murdiana dengan ekspresi masih terkejut.
Syukurlah, pistol tersebut tidak meletus meski pelatuk telah ditekan hingga dua kali. Diduga karena macet atau kondisi senjata organik yang kurang sempurna. Keberuntungan masih berpihak pada petugas yang sigap. Mereka langsung bertindak cepat, melumpuhkan Anton, dan menggagalkan upaya pelarian itu sebelum ia sempat menginjakkan kaki di luar lapas.
Setelah pemeriksaan lebih lanjut, tim menemukan fakta mengerikan: pistol yang dibawa Anton adalah senjata api rakitan (organik) yang terisi tujuh butir peluru tajam! Sungguh bahaya yang nyaris merenggut nyawa petugas.
Kini, Anton langsung digelandang ke ruang isolasi dan diborgol ketat. Ia tidak akan kemana-mana lagi.
Istri Menunggu di Mobil, Siap Jadi Penjemput Kabur?
Rekaman CCTV yang kemudian dianalisis petugas memperlihatkan fakta lain yang tak kalah mencengangkan. Ternyata, setelah kunjungan resmi selesai, Juwita tidak langsung pulang. Ia tertangkap kamera berada di dalam mobil yang terparkir di kawasan luar lapas selama hampir satu jam!
Petugas menduga kuat bahwa ia sedang menunggu suaminya berhasil kabir untuk kemudian dibawa melarikan diri. Namun rencana licik itu gagal total. Polisi kini telah mengamankan Juwita untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Pemindahan ke Nusakambangan Terganjal Proses Pemeriksaan
Menariknya, Kanwil Ditjenpas Kalimantan Tengah sebenarnya sudah memiliki rencana pemindahan Anton ke penjara super ketat Nusakambangan sebelum insiden percobaan kabur ini terjadi. Namun, proses birokrasi dan pemeriksaan internal menghambat langkah tersebut.
“Surat usulan pemindahannya sudah ada, kok,” kata Murdiana. “Kami hanya menunggu proses dari pihak terkait selesai. Setelah status hukumnya jelas, barulah pimpinan bisa mengambil kebijakan apakah yang bersangkutan akan dipindahkan ke Nusakambangan.”
Saat ini, Kanwil Ditjenpas Kalimantan Tengah masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap Anton serta petugas lapas yang berjaga saat kejadian. Siapa tahu ada kelalaian atau bahkan keterlibatan oknum internal?
“Masih berlangsung pemeriksaan terhadap warga binaan dan pegawai kami,” ujar Murdiana, Rabu (27/5/2026).
Anton Diduga Belum Terima Vonis Seumur Hidup
Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, yang berbicara kepada wartawan Senin (25/5/2026), memberikan analisis psikologis mengapa mantan polisi ini nekat kabur. Menurutnya, tekanan mental akibat vonis penjara seumur hidup yang dijatuhkan kemungkinan besar menjadi pemicu utama.
“Secara psikologis, yang bersangkutan tampaknya belum sepenuhnya menerima vonis yang dijatuhkan pengadilan. Hukuman seumur hidup tentu memberikan tekanan batin yang luar biasa. Rasa tidak terima dan putus asa itulah yang didorongnya untuk melakukan aksi nekat,” tambah Hisam.
Untunglah petugas berhasil menggagalkan aksi tersebut sebelum Anton benar-benar kabur. “Situasi tetap aman dan terkendali. Narapidana tidak sempat keluar dari area penjara,” tegasnya.
Kini, publik pun bertanya-tanya: Akankah Anton akhirnya benar-benar dipindahkan ke Nusakambangan? Dan apa hukuman tambahan yang akan dijatuhkan kepada Juwita yang tega menyelundupkan pistol ke dalam penjara? Kita tunggu perkembangan selanjutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
