WASHINGTON, Cinta-news.com — Donald Trump kembali bikin geger! Presiden Amerika Serikat itu tiba-tiba membuka opsi mengirim pasukan darat ke Iran. Bukan tanpa alasan, langkah nekat ini rencananya untuk mengamankan persediaan uranium yang telah diperkaya di sana. Ia menyebut ini sebagai bagian dari misi besar membongkar program nuklir Teheran yang selama ini bikin Israel dan Barat gelisah.
“Suatu saat nanti, mungkin kita akan melakukannya. Itu bakal jadi hal yang luar biasa!” ujar Trump dengan percaya diri kepada wartawan saat pengarahan singkat di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Sabtu (7/3/2026) kemarin, seperti dikutip dari AFP.
Ia menambahkan, “Kami belum benar-benar mengejar opsi ini sekarang, tapi ini bukan hal yang mustahil untuk kita lakukan nanti.”
Pernyataan Trump ini sontak memicu spekulasi liar di kalangan pengamat. Apakah AS benar-benar siap membuka front baru di Timur Tengah?
Kritikus Ragukan Efektivitas Serangan AS
Banyak kritikus perang yang selama ini mengamati ketegangan AS-Israel terhadap Iran langsung angkat bicara. Mereka menilai, serangan udara saja—bagaimanapun dahsyatnya—kemungkinan besar tidak akan mencapai target utama yang dicanangkan Washington, yaitu menghancurkan mesin perang Iran sekaligus menghentikan ambisi nuklirnya untuk selamanya. Sebab, fasilitas nuklir Iran tersebar dan banyak yang dibangun di bawah tanah.
Saat awak media mengorek lebih dalam soal kemungkinan pengerukan pasukan darat, Trump pun tak menampik. Ia justru membuka pintu lebar-lebar.
“Mungkin saja? Ya, mungkin saja. Tapi harus untuk alasan yang sangat, sangat bagus. Alasan yang benar-benar kuat,” tegasnya, mencoba meredam kepanikan namun tetap membangkitkan rasa penasaran.
Ia kemudian menambahkan pernyataan yang cukup mengancam, “Saya bisa bilang, jika kita sampai melakukan itu, mereka akan hancur lebur. Sampai titik di mana mereka tidak punya kekuatan lagi untuk bertempur di tingkat akar rumput.”
AS Dulang Dukungan dari Kurdi?
Nah, yang lebih menarik perhatian, ternyata wacana pengiriman pasukan ini bukan sekadar omong kosong belaka. Sebelum pernyataan Trump mencuat, beredar kabar bahwa AS sedang menjalin komunikasi intensif dengan pasukan oposisi Kurdi. Tujuannya? Untuk mempersenjatai mereka dan memantik api pemberontakan di dalam negeri Iran.
Sumber pejabat AS yang enggan disebut namanya membocorkan, strategi ini dirancang untuk menggunakan kekuatan Kurdi guna menggerogoti pasukan Iran dari dalam, sekaligus memberi ruang bagi gelombang protes rakyat. Lebih dari itu, AS berharap kelompok Kurdi bisa membantu mereka merebut dan mengendalikan wilayah utara Iran. Bayangkan, jika itu terjadi, maka secara otomatis akan tercipta zona penyangga yang bisa dimanfaatkan Israel.
Seorang pejabat Kurdi bahkan mengungkapkan fakta mengejutkan: Trump telah berbicara langsung dengan Mustafa Hijri, pemimpin Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), pada Selasa (3/3/2026) lalu. Artinya, gerakan di bawah meja sudah berjalan sebelum pernyataan resmi ke publik dilontarkan.
Media AS, Axios, juga mengonfirmasi bahwa Trump sudah menjalin komunikasi dengan dua tokoh kunci Kurdi di Irak. Mereka adalah Masoud Barzani dari Partai Demokrat Kurdistan dan Bafel Talabani dari Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK).
Bafel Talabani sendiri sudah angkat bicara dan mengonfirmasi adanya percakapan telepon dengan Trump tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis PUK, disebutkan bahwa Trump menawarkan kesempatan untuk menggali lebih dalam tujuan strategis AS di kawasan. Ia juga membahas penguatan kemitraan antara AS dan Irak, meskipun enggan merinci detail operasional yang lebih sensitif.
Tentu saja, ini bukan kali pertama Amerika bermain api dengan mempersenjatai oposisi di Timur Tengah. Sejarah panjang Afghanistan dan Suriah membuktikan hal itu. Kini, Kurdi kembali menjadi bidak catur di papan geopolitik yang jauh lebih berisiko.
Perlu diketahui, Kurdi adalah kelompok etnis minoritas yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah seperti Iran, Irak, Suriah, dan Turki. Mereka tidak memiliki negara sendiri dan selama bertahun-tahun kerap mengalami marginalisasi serta penindasan di berbagai negara tempat mereka tinggal. Karena itu, janji otonomi atau dukungan senjata dari AS kerap menjadi daya tarik yang sulit mereka tolak.
Dengan semua manuver ini, pertanyaannya kini: apakah Trump benar-benar serius menginvasi Iran, atau ini hanya gertakan diplomatik untuk menekan Teheran agar tunduk di meja perundingan? Yang jelas, dunia kembali menahan napas menyaksikan drama baru di Timur Tengah.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
