Cinta-news.com – Pengadilan Liverpool akhirnya memberi keadilan! Paul Doyle (54), pria yang mengamuk dan menabrakan mobilnya ke kerumunan suporter Liverpool yang sedang merayakan parade juara, harus merasakan dinginnya penjara selama 21,5 tahun. Sungguh, keputusan hakim ini langsung membuat Doyle menangis tersedu-sedu di kursi terdakwa. Terlebih, ia terpaksa mendengar secara langsung pernyataan para korban yang penuh luka. Ia juga menyimak betul kisah-kisah pilu tentang cedera permanen, mimpi buruk yang tak berkesudahan, serta kenangan menyakitkan yang terus menghantui.
Hakim Andrew Menary pun dengan tegas menyatakan, “Apa yang seharusnya menjadi hari perayaan bersama malah berubah menjadi warisan abadi berupa ketakutan, cedera, dan kehilangan bagi seluruh komunitas ini.” Tidak berhenti di situ, Hakim Menary melanjutkan, “Tindakan Anda jelas menyebabkan kengerian dan kehancuran dalam skala yang belum pernah dihadapi pengadilan ini sebelumnya.”
Lalu, apa yang sebenarnya Doyle lakukan? Rekaman dashboard yang diputar di sidang selama dua hari pun membuka semua fakta mengerikan! Dalam video itu, kita bisa melihat Doyle membunyikan klakson dengan sangat agresif, berteriak, sekaligus mengumpat ke arah kerumunan supaya mereka menyingkir dari jalannya. “Dampak aksinya nyatanya meluas jauh melampaui korban yang tercantum dalam dakwaan,” jelas Hakim Menary lagi. “Orang tua, anak-anak, polisi, kakek-nenek, siswa, turis, sampai orang yang lewat pun menjadi korban. Semuanya terluka dan terjebak dalam peristiwa yang awalnya banyak orang kira sebagai serangan teror dengan korban massal!”
Singkat kata, Doyle dengan sadar menggunakan kendaraannya yang hampir dua ton sebagai senjata mematikan. Akibatnya, dalam waktu kurang dari 10 menit, ia berhasil melukai 134 orang! Kemudian, pihak pengadilan akhirnya mendakwanya dengan 31 pasal kriminal. Dakwaan itu mencakup menyebabkan luka berat dengan sengaja, melukai dengan niat, perkelahian, dan tentu saja, mengemudi secara berbahaya. Awalnya, Doyle berencana membantah semua tuduhan ini dengan alasan panik. Namun, di hari kedua persidangan, ia justru secara mengejutkan mengubah pengakuannya dan mengakui seluruh 31 dakwaan yang melibatkan 29 korban dengan rentang usia ekstrem, dari bayi 6 bulan sampai nenek 77 tahun!
Nah, berikut ini detik-detik kejadian yang bikin merinding! Selama tujuh menit penuh, Doyle dengan brutal mengemudikan mobilnya tanpa pandang bulu menabrak pejalan kaki. Beberapa korban bahkan sampai terlempar ke atas kap mobil! Menurut laporan polisi Merseyside, meski tidak ada korban jiwa, 50 orang dari kejadian itu harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Korban termuda adalah bayi ajaib berusia enam bulan yang terlempar dari kereta dorongnya, tapi secara ajaib ia tidak mengalami luka berarti. Sebagai informasi, polisi dengan cepat sudah menyatakan bahwa insiden mengerikan ini sama sekali bukan aksi terorisme.
Lebih seram lagi, setelah menabrak korban pertamanya, Doyle sama sekali tidak berhenti! Malah, ia meneruskan “aksi gila”-nya ke jalan lain dan menabrak lebih banyak orang lagi. Bahkan, ia sempat memundurkan mobilnya untuk menabrak kendaraan lain dan sebuah ambulans! Hakim Menary pun menyoroti hal ini, “Anda sebenarnya memiliki kesempatan berulang kali untuk menghentikan kendaraan, tapi Anda malah memilih untuk terus melaju dan mengabaikan semua kesempatan itu.”
Mobil maut itu akhirnya berhasil dihentikan setelah beberapa orang, termasuk anak-anak, terjebak di bawahnya. Pada momen kritis itu, seorang pejalan kaki yang nekat langsung melompat ke dalam mobil dan memindahkan tuas persneling ke posisi parkir. Aksi heroik inilah yang akhirnya membantu menghentikan laju kendaraan tersebut.
Para saksi mata yang hadir pun menggambarkan pemandangan saat itu benar-benar seperti di neraka. Mereka dengan jelas mendengar suara tubuh terlindas mobil dan melihat puluhan korban tergeletak tak berdaya di aspal. Kepala Inspektur Detektif Kepolisian Merseyside, John Fitzgerald, mengungkapkan keterkejutannya, “Dalam 20 tahun saya bertugas sebagai polisi, rekaman dashboard ini adalah yang paling menyedihkan dan mengerikan yang pernah saya saksikan. Sangat sulit bagi kami untuk memahami bagaimana seseorang bisa tega melindas banyak orang hanya karena emosi dan ingin mencapai tujuannya.”
Sebagai penutup, kita bisa melihat bahwa vonis 21,5 tahun ini bukan hanya sekadar angka. Vonis berat ini membuktikan aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus kompleks, sistem peradilan menegakkan hukuman setimpal demi mencegah pengulangan, serta memulihkan kepercayaan masyarakat. Kisah ini juga memberi pelajaran betapa berharganya keselamatan publik. Setiap pengemudi wajib memegang teguh tanggung jawab besar di balik kemudinya. Ingat, satu keputusan gegabah di jalanan bisa mengubah hari bahagia menjadi tragedi yang menyisakan luka seumur hidup bagi ratusan orang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
