Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Tiga Petugas Kebersihan Kampus UNIDA Gontor Ditangkap Polisi Usai Kuras ATM Mahasiswi

NGAWI, Cinta-news.com – Aksi bejat tiga petugas kebersihan di lingkungan kampus ternama akhirnya terbongkar. Tim Satreskrim Polres Ngawi meringkus mereka setelah dengan keji menguras habis tabungan seorang mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Putri 2 Mantingan. Korban, AZ (19), harus gigit jari saat melihat saldonya raib hingga Rp 10 juta hanya dalam hitungan hari.

Bayangkan, tiga orang yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan kampus justru menodai lingkungan pendidikan dengan ulah kriminal. Mereka bukan perampok profesional, melainkan AAP (21), YTP (34), dan AS (32). Namun, kelicikan mereka mampu melumpuhkan sistem keamanan perbankan milik sang mahasiswi hanya bermodal nyali dan satu buah dompet.

Kasatreskrim Polres Ngawi, AKP Aris Gunadi, mengungkapkan bahwa kasus ini mulai terkuak ketika orang tua korban mencurigai aktivitas aneh di ponsel anaknya. Saat memeriksa histori ponsel tersebut, sang ayah langsung terbelalak. Mutasi rekening menunjukkan puluhan transrasi mencurigakan yang tidak pernah dilakukan oleh AZ. Segera setelah itu, mereka pun melaporkan kejadian ini ke polisi.

Polres Ngawi langsung bergerak cepat. Dari penyelidikan awal, tim menemukan fakta mengejutkan: kronologi kejahatan ini bermula dari sebuah kelalaian kecil. Korban ternyata pernah kehilangan dompet usai meninggalkannya di ruang kuliah. Tanpa diduga, bukan teman atau dosen yang menemukan, melainkan tangan-tangan petugas kebersihan yang seharusnya menjaga fasilitas kampus.

Dari sinilah para pelaku mulai menjalankan aksinya. Alih-alih mengembalikan barang temuan, mereka justru duduk bersama dan merancang aksi pencurian. Dengan santainya, mereka mengeluarkan kartu ATM milik korban dari dompet tersebut. Kemudian, mereka pun nekat mencoba-coba kombinasi angka untuk membobol rekening.

Lantas, bagaimana mereka bisa berhasil? Sungguh di luar dugaan. Para pelaku hanya menebak PIN berdasarkan tanggal lahir yang tertera jelas di kartu identitas korban. Tanpa hambatan berarti, satu percobaan langsung membawa mereka masuk ke dalam sistem rekening. Akses masuk pun mereka dapatkan dengan mudah.

Setelah berhasil, mereka tak menyia-nyiakan kesempatan. Bergantian, mereka mendatangi ATM dan mulai menarik uang tunai dalam jumlah besar. Tak hanya itu, mereka juga bertransaksi secara non-tunai hingga batas maksimal. Dalam waktu singkat, saldo Rp 10 juta pun ludes tak bersisa.

Aris menambahkan, hasil kejahatan itu tidak mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang wajar. Justru, para pelaku dengan gegas berbelanja ponsel baru. Tiga unit telepon genggam berbagai merek berhasil mereka borong menggunakan uang hasil kurasan ATM. Barang bukti itulah yang kini diamankan polisi sebagai alat bukti kuat di meja hijau.

Tak hanya ponsel, petugas juga menyita satu buah dompet milik korban, kartu identitas, kartu ATM BNI, dan satu unit sepeda motor yang diduga digunakan saat beraksi. Semua barang kini tersimpan rapi di Mapolres Ngawi untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Saat ini, ketiga tersangka sudah mendekam di balik jeruji besi. Polisi menjerat mereka dengan Pasal 477 ayat (1) huruf g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Ancaman hukumannya tidak main-main: pidana penjara maksimal tujuh tahun. Dengan kata lain, masa depan mereka kini berada di ujung tanduk.

Kasus ini pun menjadi tamparan keras bagi pihak kampus dan masyarakat luas. AKP Aris Gunadi menegaskan bahwa kejadian seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika masyarakat lebih cermat. Ia pun mengimbau agar setiap orang mulai sekarang lebih serius menjaga data pribadi, terutama data perbankan.

Bayangkan, hanya karena PIN berupa tanggal lahir yang mudah ditebak, Rp 10 juta raib dalam sekejap. Padahal, uang sebanyak itu bisa menjadi bekal kuliah korban selama berbulan-bulan. Namun karena kecerobohan kecil, para pelaku dengan mudahnya menggasak habis harta milik orang lain.

Yang lebih menyedihkan, pelaku adalah orang-orang yang setiap hari bekerja di lingkungan korban. Mereka tahu situasi kampus, tahu kebiasaan mahasiswa, dan tahu titik-titik rawan. Namun, semua pengetahuan itu justru mereka gunakan untuk hal yang merugikan. Betapa ironisnya ketika petugas kebersihan yang seharusnya menjaga lingkungan justru menodainya dengan tindakan tak terpuji.

Kini, pihak kampus pun ikut angkat bicara. Mereka menyatakan kekecewaan mendalam atas insiden ini. Sebagai institusi pendidikan yang menjunjung akhlak mulia, kasus ini menjadi cambuk untuk meningkatkan sistem keamanan internal. Pasalnya, kepercayaan publik terhadap lingkungan kampus perlahan bisa luntur jika kejadian serupa terus terulang.

Meski demikian, polisi memastikan proses hukum tetap berjalan profesional. Mereka juga terus mengembangkan penyidikan untuk menggali apakah ada pihak lain yang terlibat atau apakah aksi serupa pernah dilakukan sebelumnya. Pasalnya, ketiga pelaku diketahui sudah cukup lama bekerja di kawasan kampus tersebut.

Publik pun ramai mengomentari kasus ini di berbagai platform media sosial. Sebagian besar warganet menyayangkan perilaku pelaku yang begitu tega. Mereka menilai bahwa profesi bukanlah alasan untuk berbuat curang. Bahkan, sebagai petugas kebersihan, seharusnya mereka lebih terlatih untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab.

Dari sisi forensik digital, polisi juga masih menganalisis perangkat ponsel milik pelaku. Tim siber tengah mendalami kemungkinan adanya transaksi lain yang belum terungkap. Siapa tahu, masih ada rekening lain yang ikut dikuras atau ada korban lain yang belum melapor.

Sementara itu, korban sendiri kini lebih waspada. Ia mengaku trauma dan enggan membawa kartu ATM ke kampus dalam waktu dekat. Orang tuanya pun memutuskan untuk mengganti PIN dan memblokir sementara akses mobile banking hingga situasi benar-benar aman.

Kasus ini sejatinya mengingatkan kita semua bahwa keamanan data itu mahal. Jangan pernah menganggap remeh hal sepele seperti menempelkan tanggal lahir di dompet yang sama dengan kartu ATM. Satu kelengahan bisa berubah menjadi petaka finansial yang panjang.

Maka dari itu, para pakar keamanan siber pun angkat bicara. Mereka mendorong masyarakat agar tak hanya mengandalkan sistem perbankan, tetapi juga memperkuat lapisan keamanan pribadi. Ganti PIN secara berkala, gunakan kombinasi angka acak, dan jangan pernah menyimpan kartu identitas dalam satu tempat yang sama dengan kartu ATM.

Polisi juga tak bosan mengingatkan agar masyarakat segera melapor jika kehilangan dompet yang di dalamnya terdapat akses perbankan. Semakin cepat laporan masuk, semakin besar peluang untuk membekukan rekening sebelum pelaku sempat menarik uang.

Kisah pilu mahasiswi Gontor ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah cerminan nyata dari betapa pentingnya kewaspadaan digital di era modern. Bahkan, ancaman kini bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang paling dekat secara fisik sekalipun.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *