JEMBER, Cinta-news.com — Para petani di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, akhirnya melangkah ke DPRD Jember. Mereka melaporkan dugaan pencemaran lahan pertanian yang menyebabkan gagal panen berulang kali. Situasi ini semakin memprihatinkan dan membuat para petani putus asa.
“Bayangkan saja, biasanya petani di sini bisa panen tiga kali dalam setahun. Namun, karena gagal terus-menerus, otomatis penghasilan mereka lenyap,” jelas Koordinator Aliansi Petani Desa Kertosari, Didik Rudi Hartono (47), saat ditemui pada Senin (20/4/2026). Ia menyampaikan aduan tersebut melalui Fraksi PDI Perjuangan. Aduan ini mencuat setelah mereka menduga kuat limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari mencemari saluran irigasi sawah.
Baca Juga: Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus, AS dan Tokoh Politik Konservatif Ikut Mengecam Keras
Produktivitas Lahan Anjlok Drastis, Petani Merugi Besar
Selanjutnya, Didik mengungkapkan kondisi lahan pertanian di sekitar TPA yang semakin memburuk selama dua tahun terakhir. Menurut pengamatannya, tanaman padi yang baru saja ditanam kerap mengering hanya dalam hitungan hari. Sungguh menyedihkan melihat harapan petani sirna secepat itu.
“Untuk lahan yang dekat dengan irigasi, tingkat hidup tanamannya hanya sekitar 10 sampai 20 persen. Itu pun tidak maksimal, sebab banyak tanaman yang tumbuh tetapi gabahnya kosong alias kopong,” tambah Didik dengan nada kecewa. Ia pun membandingkan produktivitas normal yang mencapai 6 ton per hektar. Akan tetapi, kini hasil panen merosot tajam, bahkan ada yang hanya tinggal sekitar 1 ton per hektar. Bayangkan, penurunan hingga 80 persen lebih!
Baca Juga: 3 Mantan Petinggi Google Bantah Dakwaan Jaksa Terkait Peran Nadiem dalam Kasus Chromebook
Lebih lanjut, Didik mengakui sebagian lahannya yang seluas sekitar 1.000 meter persegi—tepatnya yang paling dekat dengan TPA—sudah tidak ia garap lagi selama hampir 10 tahun. “Sekarang saya sudah tidak menanam lagi di lahan itu. Pasti rugi besar jika saya memaksakan diri,” tegasnya. Ia pun menduga kuat pencemaran berasal dari air lindi TPA yang merembes ke saluran irigasi. Coba bayangkan, air yang mengalir ke sawah terlihat hitam kekuningan dan mengeluarkan bau tak sedap.
“Airnya sudah seperti kecap pekat. Tanaman baru saya tanam, langsung menguning, lalu mengering. Ada sih yang tumbuh, tapi hasilnya tidak berisi,” keluhnya. Menurut Didik, ia bersama petani lain sudah berusaha mati-matian. Mereka mengadu ke pengelola TPA dan dinas terkait. Namun, sampai sekarang belum ada solusi konkret yang mereka terima. “Kami ini sudah capek menunggu janji. Janji terus-menerus, tapi tidak pernah ada realisasi di lapangan,” ujarnya kesal.
DPRD Gerak Cepat, Segera Gelar RDPU untuk Petani
Di sisi lain, Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, membenarkan pihaknya sudah menerima aduan tersebut. “Kami menyarankan para petani agar segera mengirimkan surat resmi ke DPRD. Dengan begitu, kami bisa menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU). Nanti, persoalan ini akan kami bahas bersama lintas komisi dan dinas terkait,” ujar Candra. Menurutnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan secara parsial alias sepotong-sepotong. Sebab, kasus ini menyangkut dua sektor penting sekaligus, yaitu pertanian dan lingkungan hidup.
Baca Juga: Gugatan PB XIV Purboyo ke PTUN Lawan Menteri Kebudayaan Soal Keraton Solo
Ia pun menjelaskan bahwa isu pertanian menjadi lingkup Komisi B. Sementara itu, persoalan lingkungan hidup adalah kewenangan Komisi A. Oleh karena itu, kolaborasi sangat diperlukan. Candra menilai penurunan produktivitas yang dialami para petani sangat signifikan. Bahkan, kondisi ini berpotensi mengancam ketahanan pangan di Kabupaten Jember. Jangan sampai masalah ini dibiarkan berlarut-larut.
Yang menarik, Candra juga menegaskan bahwa dugaan pencemaran dari TPA ini bertentangan dengan upaya perlindungan lahan produktif. Padahal, lahan-lahan tersebut merupakan penopang utama ekonomi masyarakat pedesaan. “Termasuk juga, kami harus menyelaraskan apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto tentang ketahanan pangan, swasembada pangan, hingga kedaulatan pangan. Ini komitmen serius yang harus kami wujudkan bersama,” pungkas Candra dengan tegas. Para petani pun kini berharap RDPU segera direalisasikan agar penderitaan mereka tidak berkepanjangan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
