JAKARTA, Cinta-news.com — Kabar mengejutkan datang dari panggung energi nasional, sebab Indonesia sedang merancang langkah raksasa dengan membuka pintu kerja sama luas bagi berbagai negara adidaya demi menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Langkah berani ini sengaja pemerintah ambil karena Indonesia memang mematok target sangat ambisius, yaitu mengoperasikan reaktor nuklir pertama secara penuh (on-stream) persis pada tahun 2032 mendatang.
Guna mewujudkan rencana spektakuler tersebut, Satya Widya Yudha selaku Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) membeberkan fakta menarik. Beliau menegaskan bahwa sejumlah negara maju kini sedang gencar-gencarnya menyodorkan berbagai penawaran teknologi nuklir teranyar milik mereka agar pemerintah Indonesia bersedia meliriknya.
Tidak main-main, deretan raksasa global yang antre mencakup Amerika Serikat (AS), Rusia, Korea Selatan, Jepang, hingga China. Raksasa-raksasa teknologi dunia tersebut saling sikut menawarkan inovasi terbaik mereka demi memikat hati pemerintah Indonesia.
“Peluang ini memang masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja. Hal ini terjadi karena pihak asing yang giat mendekati kita jumlahnya tidak sedikit, mulai dari Amerika Serikat, Rusia, lalu disusul Korea Selatan, Jepang, sampai China,” ungkap Satya dengan nada optimistis saat menghadiri agenda bergengsi Energy Leaders’ Talk di Graha Bimasena, Jakarta.
Babel dan Kalbar Jadi Prioritas Utama dari 28 Lokasi Potensial
Meski begitu, Satya secara tegas meluruskan bahwa pemerintah Indonesia sampai saat ini belum mengunci keputusan. Pemerintah sengaja belum menentukan investor mana atau teknologi siapa yang bakal terpilih secara eksklusif untuk mendominasi megaproyek nuklir ini.
Lebih jauh lagi, Satya menjelaskan bahwa tim ahli pemerintah sudah melangkah sangat jauh hingga membahas pemetaan lokasi strategis untuk penempatan reaktor tersebut.
Khusus untuk pemenuhan target jangka pendek, pihak pengambil kebijakan memprioritaskan dua wilayah utama yang paling siap, yakni Kepulauan Bangka Belitung serta Kalimantan Barat (Kalbar). Kedua daerah ini dinilai memiliki potensi geografis yang sangat ideal.
Menariknya, apabila kita membedah hasil riset mendalam yang sudah ada, para pakar sebenarnya telah memetakan kurang lebih 28 titik lokasi berpotensi besar di seluruh penjuru tanah air yang sangat layak didirikan fasilitas PLTN.
“Lembaga riset seperti BRIN memang sudah merilis kajian ilmiah bahwa ada 28 titik potensial. Akan tetapi, untuk eksekusi jangka pendek, kita akan memfokuskan perhatian pada Bangka Belitung dan Kalimantan Barat terlebih dahulu. Alhasil, kemungkinan besar dua lokasi inilah yang akan memimpin rintisan awal,” jelas Satya secara gamblang.
Adu Canggih Reaktor SMR: Dari Darat Kalimantan hingga Nuklir Terapung Rusia
Sebagai langkah awal yang sangat cermat, pemerintah akan mengarahkan fokus pembangunan PLTN ini dengan menerapkan teknologi kecerdasan tingkat tinggi berupa Small Modular Reactor (SMR). Teknologi ini sangat efisien, ringkas, dan jauh lebih aman daripada reaktor konvensional berukuran raksasa.
Sejalan dengan prioritas tersebut, Satya mengungkapkan bahwa salah satu korporasi global yang bertindak sangat agresif melakukan manuver komunikasi intensif dengan pemerintah Indonesia adalah NuScale, pengembang teknologi nuklir terkemuka asal Amerika Serikat.
Pihak pemerintah bersama NuScale sedang serius mendiskusikan penerapan teknologi SMR canggih ini untuk membangkitkan energi bersih di kawasan Pantai Gosong, Kalimantan Barat.
“Pihak investor yang paling rajin berdiskusi secara konkret dengan kita memang berasal dari Amerika Serikat, yaitu NuScale. Mereka memproyeksikan instalasi teknologi ini khusus untuk kawasan Pantai Gosong di Kalimantan Barat,” beber Satya merinci progres lapangan.
Tak mau kalah gertak, Rusia juga gencar menyodorkan opsi tak kalah memukau berupa teknologi Floating SMR atau reaktor nuklir terapung. Menurut penuturan Satya, inovasi Rusia ini sangat fleksibel karena menempatkan reaktor di atas kapal atau fasilitas terapung, sehingga pemerintah tidak perlu pusing memikirkan pembebasan lahan daratan yang rumit.
“Keunggulan Rusia terletak pada rekam jejak mereka yang sudah proven mengoperasikan SMR, apalagi mereka memiliki teknologi floating. Berkat konsep fasilitas terapung ini, reaktor tidak terikat pada satu titik daratan saja, melainkan sanggup berpindah-pindah (mobile) sesuai kebutuhan pasokan energi,” puji Satya terhadap teknologi Negeri Beruang Merah tersebut.
Konstruksi Fisik Dimulai 2027, Targetkan 44 GW Energi Bersih di 2060
Di sisi lain, target pengoperasian komersial PLTN pada tahun 2032 bukanlah sekadar rumor belaka, melainkan sudah tertuang secara sah dalam dokumen resmi Kebijakan Energi Nasional (KEN) serta Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Oleh sebab itu, Satya memastikan bahwa tenggat waktu tahun 2032 tetap menjadi pegangan utama dan komitmen mutlak bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat transisi energi bersih ini.
“Pemerintah sudah mengetok keputusan final bahwa PLTN wajib on-stream pada 2032. Oleh karena itu, kita semua patut mengawal proses ini sampai berhasil merealisasikannya. Bahkan seandainya ada sedikit hambatan teknis, keterlambatan yang terjadi dipastikan tidak akan meleset jauh dari jadwal semula,” tegas Satya penuh keyakinan.
Sebelum pernyataan dari DEN ini mencuat ke publik, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun sempat membocorkan bahwa pemerintah bakal mengawali pengerjaan fisik bangunan PLTN pada tahun 2027 mendatang demi mengejar target operasional tahun 2032.
Berdasarkan panduan RUPTL terbaru, pemerintah mematok target awal agar fasilitas nuklir ini sanggup menyuplai daya listrik sebesar 500 Megawatt (MW) ke dalam jaringan nasional dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.
“Kementerian ESDM saat ini sudah merampungkan sejumlah payung hukum pendukung. Oleh sebab itu, kami merancang agar konstruksi fisiknya bisa langsung memakan waktu sekitar 4 sampai 5 tahun mulai 2027. Meskipun kita mengawali proyek ini dari skala kecil (small reactor), kita optimistis seluruh pekerjaan rampung total pada 2032,” papar Bahlil saat memberikan keterangan resmi di kantornya.
Sebagai bagian dari visi jangka panjang transisi energi bersih, pemerintah Indonesia memasang target fantastis dengan mematok kapasitas terpasang PLTN mencapai 44 Gigawatt (GW) pada tahun 2060 mendatang.
Guna membagi pasokan raksasa tersebut, pemerintah bakal mengalokasikan sekitar 35 GW untuk menjamin keandalan listrik masyarakat umum, sedangkan sisa daya sebesar 9 GW akan difokuskan khusus untuk mendukung industri produksi hidrogen hijau secara nasional.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
