Cinta-news.com – Pada Selasa (20/1/2026) dini hari, tanggul Sungai Citarum di Desa Pantai Bakti, Muara Gembong, Bekasi, jebol. Debit air yang melonjak menerobos tanggul yang sudah kritis dan tua. Luapan air sungai langsung menyapu pemukiman warga.
Bencana ini berdampak luas. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyatakan ratusan kepala keluarga (KK) menghadapi genangan banjir setinggi 60 sentimeter. Data pemerintah mencatat 553 KK menjadi korban. Namun, belum ada laporan warga mengungsi atau korban jiwa. Ratusan KK tersebut tersebar di lima kampung. Kampung Singkil RT 02/06 terdampak 152 KK, diikuti Kampung Bendungan RT 03/05 (141 KK), Kampung Biyombong RT 03/06 (125 KK), Kampung Gedung Cinde RT 01/05 (105 KK), dan Kampung Gedung Bokor RT 03/03 (30 KK).
Kerusakan tanggul cukup parah. Dodi memaparkan banjir terjadi setelah debit sungai meningkat dan membuat tanggul amblas delapan meter. BPBD masih menyiagakan personel di lokasi. Dodi merekomendasikan pembangunan turap permanen untuk mencegah kejadian serupa.
Warga yang mengalami langsung membagikan cerita mencekam. Satibi (40), warga Desa Pantai Bakti, mengungkapkan tanggul jebol sekitar pukul 00.30 WIB. Tanda kerusakan sudah terlihat sejak Senin siang. Berbagai pihak sudah berusaha menanggulangi. Namun, hujan deras tanpa henti menjadi pukulan telak. “Tanggulnya sudah bocor-bocor dan hujan enggak berhenti, jadi enggak kuat,” ujarnya.
Kepanikan langsung melanda. Satibi melihat air mengalir sangat deras dan cepat dari rumahnya yang berjarak 200 meter. Arus deras ini menimbulkan kerusakan fisik. Satu rumah mengalami kerusakan parah pada tembok. Pagar rumah lain runtuh terdorong air. “Ada rumah yang temboknya jebol karena tepat di depan titik jebol,” papar Satibi.
Tanpa titik pengungsian resmi, banyak warga menyelamatkan diri sendiri. Sejumlah warga memilih mengungsi ke rumah kerabat terdekat. Bencana serupa bukan pertama kali di Muara Gembong. Satibi pun mengaku trauma.
Camat Muara Gembong, Sukarmawan, menyoroti penyebab utama. Tanggul jebol karena tidak pernah mendapat perbaikan permanen selama puluhan tahun. “Selama ini hanya menggunakan karung dan bambu,” ungkapnya. Ia menilai BBWS Citarum seharusnya melakukan kajian rutin. “Paling tidak lima tahun sekali dicek. Tapi ini tidak dilakukan maksimal,” kritiknya.
BBWS Citarum melalui Jaya Sampurna menyatakan perbaikan darurat sedang dikerjakan. Mereka menargetkan pekerjaan rampung dalam tiga hari. Namun, penanganan di Muara Gembong tidak mudah. Wilayah ini kerap terdampak banjir rob dan memiliki tanah aluvial yang labil. “Penanganannya memang harus ekstra,” paparnya.
Untuk penanganan sementara, BBWS Citarum memasang geobag yang diperkuat dolken. Sebanyak 1.000 unit geobag telah diturunkan. Namun, kondisi masih rawan. “Muka air belum sepenuhnya surut,” pungkas Jaya. Warga masih harus waspada.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











