Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sultan HB X Akan Terapkan Pendidikan Khas Kejogjaan dari Anak Usia Dini hingga Mahasiswa

YOGYAKARTA, Cinta-news.com – Siap-siap, warga Jogja! Dunia pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal berubah total. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, akan secara resmi meluncurkan program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) pada 4 Mei 2026. Program super keren ini langsung menyasar seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi!

Momentum peluncuran ini menjadi langkah nyata Pemerintah DIY dalam membentuk karakter anak didik. Negeri Gudeg ini tak main-main. Mereka menjadikan nilai-nilai luhur budaya lokal sebagai fondasi utama sistem pendidikan. Tujuannya jelas: menyiapkan generasi masa depan yang tangguh menghadapi arus globalisasi, tetapi tetap berakar kuat pada identitas kejogjaan.

Wah, apa saja sih istimewanya program ini? Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, dengan penuh semangat membuka tabir gagasan brilian tersebut. Menurutnya, ide besar PKJ ini lahir langsung dari pemikiran cemerlang Gubernur DIY, Ngarsa Dalem Sultan HB X. Momen pentingnya terjadi ketika beliau menerima pidato pengukuhan Dr. Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2019.

“Saat itu, Ngarsa Dalem dengan gamblang menyampaikan perlunya pendidikan berbasis budaya yang benar-benar mendapat ‘roh Jogja’,” ujar Sutrisna dengan nada penuh kekaguman, Jumat (24/4/2026). Lalu, apa saja tiga filosofi utama yang beliau tanamkan? Sutrisna mengingatkan kembali tiga pilar penting tersebut. Pertama, Hamemayu Hayuning Bawana —semangat untuk terus membangun dan memperindah dunia. Kedua, Sangkan Paraning Dumadi—memahami asal-usul dan tujuan hidup sebagai manusia. Ketiga, Manunggaling Kawula Gusti—harmoni antara pemimpin dan rakyat, atau hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Tiga fondasi inilah yang kemudian diolah menjadi kurikulum PKJ yang kita nantikan.

Wacana PKJ Sudah Bergaung Sejak 2020!

Jangan bayangkan program ini disusun secara instan, ya! Sutrisna menjelaskan lebih jauh bahwa benih-benih PKJ telah mulai dirancang sejak tahun 2020. Kala itu, Dewan Pendidikan dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY langsung bergerak cepat. Mereka membangun kolaborasi yang apik untuk menyusun konsep yang matang. Setelah melewati berbagai proses penyusunan, barulah pada tahun 2022, konsep ini diimplementasikan secara bertahap. Mereka tak mau gegabah, program ini diuji coba terlebih dahulu di sejumlah sekolah percontohan.

Hasilnya? Di luar dugaan! Dari uji coba tersebut, diperoleh capaian yang sangat positif. Tim pengukur karakter menggunakan skala 1 hingga 5. Hasil analisis menunjukkan rata-rata nilai fantastis, yaitu 4,1. Angka ini termasuk dalam kategori sangat baik. Dapat dipastikan, respon dari para guru, murid, bahkan orang tua pun luar biasa antusias.

“Kami berharap setelah uji coba tuntas, implementasi bisa meluas ke seluruh sekolah,” jelas Sutrisna optimistis. “Insya Allah, tepat tanggal 4 Mei nanti, Bapak Gubernur akan meresmikan PKJ dan langsung berlaku untuk seluruh DIY,” tambahnya dengan penuh keyakinan. Bahkan, kelengkapan administrasi sudah disiapkan secara maksimal. Buku panduan, modul ajar, hingga e-book telah dicetak dan siap diunduh oleh siapa pun.

H-7 Peluncuran: Buku dan E-Book PKJ Sudah di Ujung Jari!

Bayangkan, mulai dari anak PAUD yang masih asyik bermain, hingga mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, semuanya akan merasakan sentuhan PKJ. Sutrisna dengan lantang menegaskan bahwa buku fisik dan digital (e-book) untuk semua jenjang itu sudah tersedia. Masyarakat tak perlu menunggu lama. Cukup dari genggaman tangan, materi pendidikan karakter khas Jogja bisa langsung diunduh dan dipelajari.

Implementasi PKJ Dimulai Serentak 4 Mei 2026, Integrasi Penuh ke Semua Mata Pelajaran!

Lantas, bagaimana bentuk implementasinya di kelas nanti? Apakah akan menambah beban siswa dengan mata pelajaran baru? Tenang, program ini dirancang dengan pendekatan cerdas. Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dikpora DIY, Suci Rohmadi, menjelaskan secara rinci bahwa PKJ tidak berdiri sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Pendidikan karakter dan muatan lokal akan diintegrasikan dengan mulus ke dalam seluruh mata pelajaran yang sudah ada.

Artinya, ketika guru mengajar Matematika, nilai kejujuran dan ketelitian ala Jogja bisa masuk. Saat pelajaran IPA, semangat Hamemayu Hayuning Bawana untuk menjaga alam akan ditanamkan. Pendekatan holistik ini membuat siswa tidak merasa dijejali, tetapi justru dibiasakan. Suci menegaskan bahwa tujuannya lebih besar dari sekadar transfer ilmu.

“Kita harapkan tujuan akhirnya adalah terbentuknya generasi yang berkarakter ke-Jogja-an,” ujar Suci dengan penuh semangat. Merekalah yang disebut sebagai “Jalma Kang Utama”. Apa itu Jalma Kang Utama? Yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur, berkarakter kuat, dan bertanggung jawab penuh terhadap diri, masyarakat, serta lingkungannya.

Kabar Gembira dari Sekolah Percontohan: SD Negeri Kasihan Bantul Sudah Membuktikan!

Tak perlu ragu. Implementasi konsep PKJ ini bukan sekadar wacana di atas kertas. Di lapangan, sejumlah sekolah percontohan sudah mulai menjalankannya dengan hasil menggembirakan. Salah satu pionir yang paling menonjol adalah SD Negeri Kasihan yang terletak di Kabupaten Bantul. Sekolah dasar ini mulai menerapkan nilai-nilai PKJ sejak akhir tahun 2023. Para guru di sana sudah merasakan perubahan positif. Anak-anak menjadi lebih gotong royong, lebih santun dalam bertutur kata, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Ini bukti nyata bahwa ‘roh Jogja’ benar-benar bisa diajarkan dan dihayati.

Jadi, catat tanggalnya! 4 Mei 2026. Hari bersejarah bagi dunia pendidikan DIY. Siapkan diri menjadi generasi berkarakter Jogja yang mendunia!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version