Cinta-news.com – Perancis langsung mengerahkan kapal induk kebanggaannya, Charles de Gaulle, ke Samudra Atlantik pada Selasa (27/1/2026). Mereka sengaja melancarkan aksi militer ini di tengah ketegangan memanas antara Amerika Serikat dan sekutu Eropa tentang Greenland.
Kementerian Pertahanan Perancis sengaja tidak membocorkan detail tujuan kapal induk itu. Namun, sumber intelijen yang dikutip AFP membocorkan rahasia besar: armada tempur itu sedang menuju jantung lokasi panas, Atlantik Utara. Kawasan ini kini menjadi episentrum ketegangan geopolitik yang mencemaskan.
Secara resmi, pemerintah Perancis mengemas misi ini sebagai latihan rutin. “Grup penerbangan angkatan laut telah berlayar dari pangkalan angkatan laut Toulon untuk ambil bagian dalam Orion 26,” jelas kementerian pertahanan. Mereka menambahkan latihan gabungan skala besar ini akan mempertemukan pasukan Perancis dengan sekutu di zona Atlantik. Intinya, latihan besar-besaran ini sengaja mereka rancang untuk menunjukkan kekuatan dan solidaritas.
Kekuatan yang dikerahkan pun bukan main-main. Gugus tempur ini bukan cuma Charles de Gaulle dan puluhan pesawat tempur canggih. Armada tersebut juga diperkuat oleh fregat pertahanan udara, kapal perbekalan, dan kapal selam serang. Meski begitu, tidak satu pun sumber berani memastikan seberapa jauh armada ini akan menembus Atlantik Utara.
Perlu dicatat, ketegangan di kawasan ini bukannya tanpa preseden. Kapal selam Rusia dari Armada Baltik, misalnya, secara teratur melintasi perairan yang sama. Aktivitas ini menambah kompleksitas keamanan di wilayah tersebut. Jadi, langkah Perancis bisa kita baca sebagai respons terhadap aktivitas militer berbagai kekuatan global.
Pengiriman armada ini juga bertepatan dengan agenda diplomasi panas di Paris. Presiden Perancis Emmanuel Macron, pada Rabu (28/1/2026), menjadwalkan pertemuan penting dengan para pemimpin Denmark dan Greenland. Pertemuan tiga pihak ini jelas akan membahas masa depan Greenland dan menegaskan posisi Eropa.
Lantas, apa yang memicu krisis ini? Akar masalahnya berawal dari ancaman Presiden AS Donald Trump awal bulan ini. Ia secara serius mengancam akan “merebut” Greenland dan mengenakan tarif pada negara Eropa yang menentangnya. Ancaman ekspansionis inilah yang memaksa kekuatan Eropa bersatu. Mereka harus melindungi kepentingan bersama setelah aliansi transatlantik dilemahkan oleh sekutunya sendiri.
Alasan Greenland begitu diperebutkan sangat jelas. Pulau es raksasa ini memiliki lokasi strategis yang super vital. Posisinya terletak persis di persimpangan antara Samudra Arktik dan Samudra Atlantik Utara. Lokasi unik ini menjadikannya kunci kendali bagi jalur pelayaran, sumber daya, dan dominasi militer.
Meski ancaman aneksasi militer akhirnya Trump tarik kembali, gelombang kejut dan ketidakpercayaan yang ia ciptakan masih kuat. Ancaman itu telah membuka luka lama dan mempertanyakan komitmen keamanan AS.
Dalam vakum kepemimpinan ini, dua narasi keamanan saling bertarung. Di satu sisi, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memperingatkan bahwa Eropa tidak mungkin bisa membela diri tanpa dukungan AS. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot membantah dan menegaskan bahwa warga Eropa harus bertanggung jawab penuh atas keamanan mereka sendiri. Pernyataan Barrot ini merefleksikan keinginan kuat Eropa untuk mandiri.
Oleh karena itu, kehadiran kapal induk Charles de Gaulle di Atlantik Utara bukan sekadar latihan biasa. Armada kebanggaan Perancis ini menjadi simbol nyata dari tekad Eropa yang baru. Mereka ingin menunjukkan kekuatan militer mandiri dan menegaskan kedaulatan strategis. Pesannya jelas untuk Washington dan Moskow: Eropa siap mengambil alih kendali atas keamanan di pelatarnya sendiri. Akhirnya, krisis Greenland telah mempercepat transformasi besar dalam peta kekuatan pertahanan global.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











