SOLO, Cinta-news.com – Sebuah aksi memilukan terjadi di Taman Sriwedari. Seekor rusa dengan nekat memakan sampah plastik, dan seorang warganet berhasil mengabadikan momen tersebut melalui lensa kameranya.
Aksi Viral yang Menggugah Hati Warganet
Foto rusa itu langsung viral setelah diunggah di akun Instagram @diantarasolo pada Jumat (5/6/2026). Dalam narasinya, si pengunggah dengan jelas menuliskan bahwa rusa malang itu sedang mengorek-ngorek tumpukan sampah untuk dijadikan santapan. Miris sekali, ya?
Tak pelak, warganet pun ramai-ramai menyayangkan kejadian ini. Mereka mulai mempertanyakan, “Apa rusa-rusa di Taman Sriwedari nggak diurus dengan baik, sih, sampai harus mengais sampah demi mengisi perut?”
Nah, menanggapi hebohnya foto tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo, Maretha Dinar Cahyono, akhirnya buka suara. Ia dengan tegas membenarkan bahwa rusa dalam foto tersebut memang benar-benar rusa yang selama ini dilepasliarkan di Taman Sriwedari.
“Kalau dari gambarnya, ya betul itu rusa Taman Sriwedari,” ujar Maretha dengan nada prihatin, Jumat. “Setelah foto itu viral, kami langsung berkoordinasi dengan Dispangtan (Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan).”
Koordinasi Dadakan: Disbudpar dan Dispangtan Gerak Cepat
Lalu, langkah konkret apa yang segera diambil pemerintah? Mari kita simak.
Maretha menjelaskan bahwa koordinasi dengan Dispangtan sudah berjalan cepat. Kedua instansi ini berdiskusi panas untuk mencari solusi terbaik menangani rusa-rusa yang diduga kuat memakan sampah plastik tersebut.
“Terkait nasib rusa-rusa ini nanti akan kami atur seperti apa, karena kami sudah mengantongi izin resmi dari BKSDA terkait penangkaran rusa. Lokasinya tersebar di Balekambang dan juga di Sriwedari,” terangnya.
Lebih lanjut, Maretha mengungkapkan rencana yang lebih matang. Pihaknya kini mulai memikirkan serius opsi pembuatan kandang sebagai upaya melokalisir 32 ekor rusa yang berkeliaran bebas di Taman Sriwedari.
“Tadi kami sudah komunikasi intensif. Senin depan kami akan rapat koordinasi lagi untuk memutuskan bagaimana perlakuan terbaik bagi rusa-rusa ini. Apakah nanti akan kami kandangkan sendiri, lalu kami lokalisir? Kami juga harus menyiapkan tempat khusus dengan kapasitas yang pas untuk 32 ekor rusa,” ujarnya dengan tegas.
Kandang Darurat: Upaya Lokalisir 32 Rusa yang Makin Mendesak
Maretha pun mulai menyusun strategi lokalisasi yang paling tepat. Ia memperhitungkan berbagai aspek penting, mulai dari kapasitas kandang, luasan tanah Taman Sriwedari yang tersedia, hingga bentuk fisik kandang rusa yang benar-benar dibutuhkan.
“Nanti kami desain lokalisirnya seperti apa supaya layak huni. Dengan luasan berapa meter? Apakah lahan di Sriwedari cukup luas untuk menampung 32 ekor rusa agar mereka tetap bisa bergerak bebas?” ungkapnya.
“Kemudian, apakah di dalam kandang itu harus kami sediakan tempat khusus untuk eyup-eyupnya (berteduh)? Atau mungkin kami bangunkan rumah-rumahan kecil supaya mereka nyaman berlindung dari panas dan hujan? Semua detail ini akan kami bahas tuntas. Senin depan kami koordinasi lagi ke Dispangtan untuk membahas teknis memelihara rusa di Sriwedari secara profesional,” tambah Maretha dengan penuh semangat.
Kenapa Dilepasliarkan? Begini Alasan di Balik Kebijakan Taman Sriwedari
Lantas, mengapa rusa-rusa itu sengaja dilepasliarkan pada siang hari? Simak penjelasan resmi dari Disbudpar berikut ini.
Menurut Maretha, pelepasan rusa di siang hari ternyata punya tujuan strategis. Pihak sengaja melakukannya untuk menarik minat pengunjung agar datang berbondong-bondong ke Taman Sriwedari.
“Rusa-rusa di Sriwedari sengaja kami lepasliarkan. Tujuannya dulu memang murni untuk memikat pengunjung. Ini kan wisata murah bahkan gratis, sehingga warga atau masyarakat bisa dengan leluasa memberi makan rusa secara langsung di Sriwedari,” ujar Maretha.
Namun, situasi berbalik tragis saat malam tiba. Rusa-rusa di Taman Sriwedari terpaksa dibiarkan berkeliaran lagi karena pemerintah belum memiliki kandang khusus.
“Kami belum punya tempat khusus untuk menahan rusa-rusa itu. Belum ada rumah-rumahan khusus bagi mereka. Kami tidak punya lokalisir rumah rusa untuk yang di Sriwedari. Jadi, ketika malam datang, mereka tetap lepas liar sampai pagi. Mereka tidak punya tempat berteduh yang layak,” katanya dengan nada sedikit frustrasi.
Eits, jangan salah sangka dulu! Maretha juga menjelaskan bahwa sebenarnya rusa-rusa di Taman Sriwedari sudah diberi makan secara terjadwal, lho. Simak faktanya di bawah ini.
“Kami memiliki jadwal pemberian makan dua kali dalam sehari. Kami sediakan satu lokasi khusus, lalu para rusa itu datang sendiri. Hanya saja, mungkin pada sore hari banyak juga pengunjung yang ikut memberi makan,” ungkap Maretha.
“Cuma masalahnya, kalau malam hari, mungkin mereka kelaparan atau bagaimana. Itulah yang tidak bisa kami pantau secara langsung. Insting kehewanan mereka kan bekerja. ‘Oh, aku luwe (lapar)’, ya mereka cari makan sendiri, termasuk mengais-ngais tempat sampah. Itu skenario yang paling mungkin terjadi,” tambahnya dengan analisis yang logis.
APBD Perubahan Disiapkan, Kandung Rusa Segera Dibangun?
Menutup pernyataannya, Maretha mengatakan bahwa semua keputusan masih akan menunggu hasil koordinasi final dengan Dispangtan pada Senin, 8 Juni 2026. Termasuk di dalamnya adalah kemungkinan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan, jika pengajuan pembangunan kandang resmi disepakati bersama.
“Kalau nanti saran dari para ahli mewajibkan adanya kandang, ya kami harus segera menganggarkannya di APBD Perubahan. Anggarannya untuk apa? Untuk membangun kandang yang layak. Tingginya berapa, materialnya pakai apa, lalu kami juga harus merekrut tenaga khusus yang membersihkan kotoran rusa setiap hari, dan lain sebagainya,” pungkas Maretha dengan penuh perhitungan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
