Cinta-news.com – Pasar keuangan global benar-benar terkejut ketika Rupee India mencatatkan rekor terendah baru sepanjang masa pada Jumat (30/8/2025). Nilai tukarnya bahkan menembus level psikologis 88 per dollar AS untuk pertama kalinya. Kekhawatiran atas tarif tambahan dari Washington memicu semua tekanan ini. Kebijakan ini tidak hanya berpotensi memperlambat ekonomi India, tetapi juga menekan aliran modal asing.
Pemicu Utama: Kenaikan Tarif AS
Pemerintah AS secara resmi memberlakukan kenaikan bea masuk untuk barang-barang India sebesar 25 persen. Akibatnya, total tarif impor untuk India melonjak hingga 50 persen. Pada penutupan perdagangan, Rupee berada di posisi 88,1950 per dolar AS. Nilai ini menunjukkan pelemahan harian sebesar 0,65 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam hampir tiga bulan terakhir.
Rekor Terendah dan Intervensi Bank Sentral
Selama sesi perdagangan, Rupee bahkan menyentuh level terendah di 88,3075 per dollar AS. Rekor ini memicu spekulasi kuat bahwa Bank Sentral India akan segera turun tangan. Performa Rupee sepanjang Agustus benar-benar suram. Mata uang ini mengalami penurunan kumulatif 0,68 persen, dengan sebagian besar kerugian terjadi di akhir pekan. Tekanan ini memperpanjang tren penurunan selama empat bulan berturut-turut.
Analis Memperkirakan Dampak Lebih Dalam
Dhiraj Nim, ahli strategi valuta asing di ANZ Bank, menyatakan tarif AS akan memperpanjang tekanan pada neraca pembayaran India. Kebijakan ini akan melemahkan aliran keuangan dan memperlebar defisit perdagangan. “Saya tetap bearish terhadap rupee,” tegas Nim. “Saya memperkirakan dolar/rupee akan terus naik meskipun dolar AS secara umum melemah.”
Sejumlah ekonom juga memproyeksikan dampak makro yang serius. Mereka memperkirakan tarif baru ini bisa memangkas pertumbuhan PDB India sebesar 60-80 basis poin jika berlaku penuh selama satu tahun. Sebagai perbandingan, Bank Sentral India memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026.
Dampak pada Industri dan Ketenagakerjaan
Ekspor India ke AS menyumbang 2,2 persen dari total PDB mereka. Tekanan terberat akan menghantam industri padat karya seperti tekstil dan perhiasan. Penurunan ekspor yang tajam berpotensi memicu gelombang PHK yang luas. Hal ini akan membebani perekonomian domestik India yang sudah tertekan.
Defisit Perdagangan dan Pelarian Modal
Kebijakan tarif juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan India. Situasi ini semakin memburuk dengan melemahnya arus portofolio asing. Sejak awal tahun, investor asing telah melepas obligasi dan saham India senilai 9,7 miliar dolar AS. Yang lebih mengejutkan, dalam dua hari setelah pengumuman tarif, lebih dari 1 miliar dolar AS dana asing keluar dari pasar saham India.
Dampak pada Pasar Saham
Tekanan jual yang masif ini langsung berdampak pada bursa saham India. Indeks utama negara tersebut mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Maret. Di sisi lain, Rupee juga menyentuh rekor terendah terhadap yuan China pada hari Jumat. Namun, sebagian analis melihat sisi positif dari depresiasi ini. Mereka berpendapat bahwa pelemahan nilai tukar dapat meredam dampak negatif tarif AS.
Sisi Positif: Meningkatkan Daya Saing Ekspor
Analis dari J.P. Morgan menulis dalam catatan risetnya, “Pelemahan Rupee sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya buruk.” Mereka menjelaskan bahwa tingkat tukar efektif riil kini berada di level terendah dalam dua tahun. Kondisi ini seharusnya dapat membantu meningkatkan daya saing ekspor India ke depannya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com