TEL AVIV, Cinta-news.com – Rakyat Israel benar-benar gerah! Ratusan demonstran dengan berani membanjiri jalan-jalan Tel Aviv pada Sabtu (4/4/2026). Mereka meluapkan amarahnya dengan lantang. Target protes mereka tertuju jelas pada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kebijakan perang brutal melawan Iran. Di tengah situasi mencekam, mereka mengibarkan spanduk anti-perang dan meneriakkan tuntutan untuk segera menghentikan pertumpahan darah.

Meskipun pemerintah memberlakukan pembatasan ketat terhadap pertemuan massal selama masa perang, para demonstran tetap nekat berkumpul di alun-alun pusat kota. Mereka mengacungkan papan-papan besar bertuliskan pesan keras: “Jangan mengebom, bicaralah! Akhiri perang tanpa akhir ini!”. Aksi ini menjadi pukulan telak bagi narasi pemerintah yang mengklaim rakyatnya solid mendukung perang.
Polisi Bertindak Kasar, Tokoh Protes Langsung Dibekuk!
Suasana semakin memanas saat aparat kepolisian bergerak cepat membungkam aksi demo tersebut. Alon-Lee Green, salah satu direktur kelompok akar rumput Israel-Palestina Standing Together, dengan getir menyuarakan kekecewaannya kepada media AFP. “Polisi saat ini sedang berusaha mati-matian membungkam suara kami,” ujarnya penuh emosi.
Dalam hitungan menit, Green dan beberapa pengunjuk rasa lainnya langsung digelandang dan ditahan secara paksa oleh polisi. Penahanan ini semakin membakar semangat para demonstran yang tersisa. Mereka terus menyuarakan skeptismenya yang mendalam terhadap alasan perang yang diklaim pemerintah.
Seorang demonstran bernama Cecile (62) dengan sinis melontarkan kecurigaannya kepada Netanyahu. “Saya sangat tidak percaya dengan alasan-alasan perang mereka. Saya pikir motif utamanya sangat kentara: Bibi hanya ingin menghentikan persidangan korupsinya sendiri!” Cecile menyebut nama panggilan Netanyahu dengan nada mengejek. Perlu diketahui, Netanyahu saat ini sedang menjalani sidang kasus korupsi yang telah berlarut-larut. Bahkan ia telah meminta pengampunan presiden. Presiden AS Donald Trump, menurut sumber, berulang kali menekan Presiden Israel Isaac Herzog untuk mengabulkan permintaan tersebut.
Netanyahu Nekat! Janji Perang Berdarah Lewat Video
Di malam yang sama, Netanyahu justru melancarkan serangan balik melalui pernyataan video. Dengan wajah dingin, dia bersumpah untuk terus memacu kampanye militer melawan Iran. “Saya dengan tegas berjanji kepada Anda bahwa kami akan terus menghantam rezim teror di Teheran,” kata Netanyahu. “Hari ini, kami menghancurkan pusat petrokimia mereka. Kedua target itu merupakan mesin uang mereka untuk mendanai perang teror melawan kita dan seluruh dunia. Kita tidak akan berhenti!”
Pernyataan nekat ini langsung disambut dengan hujatan baru dari para demonstran. Menurut mereka, alasan pemerintah menyerang Iran telah berubah-ubah secara membingungkan. “Kami rakyat sipil tidak pernah tahu apa yang akan dianggap sebagai keberhasilan atau kegagalan,” Cecile kembali bersuara dengan frustrasi. “Kami juga tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perang gila ini.”
Rudal Balasan Iran Hantam Tel Aviv, Demonstran Kocar-Kacir!
Ketegangan semakin menjadi-jadi ketika serangan balasan Iran mulai mengoyak langit malam Israel. Sejak tengah malam, beberapa gelombang rudal Iran berhasil diluncurkan dan menghantam berbagai target, termasuk wilayah Tel Aviv dan daerah lain di Israel tengah. Petugas medis Israel melaporkan setidaknya lima orang mengalami luka-luka akibat rentetan serangan rudal tersebut.
Saat peringatan serangan udara mulai melolong, para demonstran di alun-alun terpaksa bubar dan berlarian menyelamatkan diri. Beberapa menit setelah alun-alun kosong, militer Israel kembali mendeteksi rudal baru yang datang dari arah Yaman. Situasi ini membuktikan bahwa eskalasi perang semakin tidak terkendali.
Sejak 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan gabungan besar-besaran terhadap Iran. Sebagai balasan, Iran setiap hari meluncurkan serangan rudal yang menargetkan Israel dan beberapa negara tetangga di seluruh kawasan. Neraka perang ini terasa semakin dekat dengan warga sipil, dan tuntutan untuk menghentikannya terus bergema meskipun dibungkam dengan kekerasan dan teror rudal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











