Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Modus Perusahaan di Cilincing: THR Dibayar Kalau Buruh Mau Resign

JAKARTA, Cinta-news.com – Ribut-ribut soal THR lagi-lagi bikin panas suasana di kawasan industri! Kamis (12/3/2026) kemarin, kurang lebih 200 buruh PT Amos Indah Indonesia yang beroperasi di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cilincing, Jakarta Utara, memutuskan turun ke jalan dan mogok kerja. Bukan tanpa alasan, aksi ini meledak karena perusahaan main curang dengan menjadikan tunjangan hari raya (THR) sebagai alat pemerasan. Yang lebih parah, status pekerjaan para buruh pun digantung tanpa kejelasan, membuat situasi semakin panas dan tidak menentu.

Modus Perusahaan di Cilincing: THR Dibayar Kalau Buruh Mau Resign

Saat ditemui langsung di lokasi, Lindah, seorang buruh pabrik yang juga menjabat sebagai Ketua Basis Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI), membuka suara. Dengan nada kesal, ia menceritakan bahwa konflik berkepanjangan antara pekerja dan perusahaan ini sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan sejak beberapa tahun terakhir. Tidak main-main, akar masalahnya sudah tumbuh sejak 2017 lalu.

Menurut penjelasan Lindah, pada tahun 2017 para buruh dan perusahaan sebenarnya sudah sepakat membuat Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Dalam kesepakatan suci itu, salah satu poin krusial yang dijanjikan adalah perusahaan wajib mengangkat pekerja kontrak menjadi karyawan tetap setelah mereka melewati masa kerja tertentu. Janji manis itulah yang selama ini membuat para pekerja bertahan dan bekerja keras. Namun, siapa sangka, perusahaan justru menarik janjinya begitu saja.

Lindah mengungkapkan, sejak tahun 2022 mendadak perusahaan menghentikan proses pengangkatan pekerja kontrak menjadi karyawan tetap. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah lama mengabdi dan masa kerjanya sudah memenuhi syarat. Bukannya mendapat status tetap, nasib para buruh malah jungkir balik. Alih-alih diangkat, masa kontrak mereka justru terus diperpanjang dengan durasi yang kian pendek dan tidak masuk akal.

“Coba bayangkan, teman-teman ini terus diperpanjang kontraknya dengan waktu yang pendek-pendek. Sebulan, lalu diperpanjang sebulan lagi, lalu sebulan lagi. Bahkan sekarang ini ada loh yang masa kontraknya cuma tiga hari! Tiga hari! Ini bukan kerja, ini namanya main-main,” ujar Lindah dengan mata berkaca-kaca menahan emosi saat ditemui di tengah aksi mogok, Kamis siang.

Perusahaan Kalah di Pengadilan tapi Bandel

Konflik yang memanas ini rupanya sudah sampai meja hijau. Lindah menceritakan, para buruh sebenarnya sudah tidak tinggal diam. Pada 2023 lalu, mereka kompak menolak perpanjangan kontrak yang aneh itu dan menuntut perusahaan memenuhi kewajibannya sesuai PKB, yaitu mengangkat mereka sebagai karyawan tetap. Karena perusahaan tetap ngotot dan mengabaikan tuntutan buruh, perselisihan ini akhirnya berlanjut ke proses perundingan hingga jalur hukum yang panjang dan melelahkan.

Perjuangan para buruh pun membuahkan hasil manis. Lindah dengan bangga menyebutkan, serikat buruh mereka sempat memenangkan putusan pengadilan pada akhir 2024. Artinya, secara hukum perusahaan dinyatakan bersalah dan harus mematuhi isi PKB. Namun, kemenangan di atas kertas ternyata belum berarti apa-apa. Sampai detik ini, perusahaan disebut-sebut bandel dan belum menjalankan putusan tersebut. Alibi yang diberikan, mereka mengajukan kasasi. Lagi-lagi, nasib buruh kembali digantung.

Menjelang Lebaran, Perusahaan Keluarkan Jurus Maut

Puncak kekesalan terjadi menjelang Lebaran ini. Alih-alih membahas THR dengan baik, pihak perusahaan justru mengeluarkan jurus yang sangat kejam. Lindah mengungkapkan, manajemen secara terang-terangan meminta para pekerja untuk menandatangani surat pengunduran diri. Ini adalah taktik licik yang langsung menohok jantung para pekerja.

“Karena tidak ada yang mau mengundurkan diri, saya sendiri jelas-jelas menolak, akhirnya perusahaan mencoba cara lain yang lebih keji. Mereka bilang, THR tidak akan diberikan. Upah sisa bulanan pun juga tidak akan dibayarkan. Ini namanya penyanderaan!” tegas Lindah.

Tidak berhenti di situ, ancaman makin menjadi-jadi. Lindah menyebutkan, perusahaan menyampaikan ultimatum yang membuat bulu kuduk merinding. “Mereka bilang, tidak ada kepastian kami akan bisa kembali bekerja setelah libur Lebaran. Pokoknya, kalau tidak tanda tangan surat pengunduran diri, maka THR, upah, semuanya lenyap. Kami dianggap tidak pernah kerja,” ungkapnya menirukan ancaman pihak perusahaan.

Tekanan psikologis ini jelas membuat para pekerja, terutama yang sudah berkeluarga, berada di ujung tanduk. Lindah memperkirakan, karena tidak kuat dengan tekanan dan ancaman kehilangan hak, lebih dari 100 buruh akhirnya terpaksa menandatangani surat pengunduran diri tersebut. Mereka mengambil jalan pahit demi mendapatkan THR dan sisa upah yang menjadi haknya, meskipun harus kehilangan pekerjaan.

Mogok Kerja Hingga Dapat Kepastian

Sementara itu, para buruh yang memilih tetap bertahan dan tidak gentar dengan ancaman, kini kompak melakukan mogok kerja. Rencananya, aksi mogok ini akan berlangsung hingga Selasa (17/3/2026) mendatang. Mereka punya satu tuntutan sederhana namun sangat prinsipil, yaitu kepastian status pekerjaan sebelum mereka bersedia kembali bekerja.

“Kami tidak mau dibodohi terus. Sebelum ada kepastian yang jelas tentang status kami, kami mogok. Jangan suruh kami kerja seperti biasa tapi besok-besok nasib kami masih gelap. Berikan kami kepastian kerja dulu! Itu saja yang kami minta,” seru Lindah mewakili rekan-rekannya.

Situasi ini makin memilukan karena mayoritas pekerja di pabrik tersebut adalah perempuan. Mereka bukan pekerja sampingan, melainkan tulang punggung keluarga yang menopang hidup suami dan anak-anaknya. Ketidakpastian pekerjaan ini jelas menghancurkan sendi-sendi ekonomi rumah tangga mereka.

“Bagaimana dengan kelanjutan hidup kami? Jangankan untuk memikirkan Lebaran yang tinggal hitungan hari, untuk hidup besok saja sudah tidak jelas. Ketika status kerja saja tidak ada kepastian, itu sudah menjadi beban pikiran yang luar biasa. Bagaimana kami harus bayar kontrakan? Bagaimana membayar uang sekolah anak? Terus makan sehari-hari untuk keluarga, bagaimana? Coba pikirkan,” keluh Lindah dengan suara bergetar, menyisakan pertanyaan besar yang hingga kini belum dijawab oleh perusahaan.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *