Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Menkeu Purbaya: Stok Energi Aman, APBN Masih Perkasa Hadapi Tekanan Harga Dunia

Jakarta, Cinta-news.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan tegas membantah isu bahwa Indonesia tengah terjerembab dalam kondisi darurat energi. Di tengah panasnya gejolak global yang membuat sejumlah negara mulai panik dan mengumumkan status darurat, pemerintah Indonesia memilih tetap tenang. Purbaya mengingatkan bahwa status genting tersebut tidak ditentukan oleh seberapa besar tekanan yang dirasakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan semata-mata bergantung pada ketersediaan pasokan energi di dalam negeri.

Bukan Masalah APBN, Tapi Pasokan

“Jangan keliru membedakan mana yang sakit dan mana yang cuma lecet. Darurat energi itu bukan urusan APBN. Darurat energi terjadi kalau pasokan listrik atau BBM tiba-tiba berhenti mengalir. Itulah mimpi buruk yang sungguh saya takuti. Bukan karena mahalnya harga, tapi karena barangnya tidak ada,” ujar Purbaya dengan nada tegas saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Ia ingin publik memahami bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga kelancaran distribusi, bukan sekadar berhitung angka di atas kertas.

Menurutnya, hingga detik ini, rantai pasok energi di seluruh penjuru Nusantara masih terjaga dengan baik. Stok aman, distribusi lancar. Karena itu, pemerintah tak menemukan alasan sedikit pun untuk menetapkan status darurat yang hanya akan membuat resah masyarakat. Ketenangan ini, lanjutnya, adalah hasil dari perencanaan matang yang dilakukan jauh-jauh hari.

APBN Masih Tangguh, Subsidi Belum Berubah

Beralih ke sisi fiskal, Menteri Keuangan pun memastikan bahwa APBN masih kokoh berdiri meski diterpa gelombang kenaikan harga energi global. Banyak pihak mungkin bertanya-tanya, apakah pemerintah akan panik dan mengubah skema subsidi? Purbaya menjawabnya dengan santai namun penuh keyakinan. Hingga kini, pemerintah belum memiliki rencana untuk mengubah skema subsidi maupun struktur anggaran dalam waktu dekat. Semua berjalan sesuai peta jalan yang sudah dirancang.

Bendahara negara itu pun membeberkan data yang membuat hati lega. Dengan asumsi harga energi yang berlaku saat ini, pihaknya telah menghitung dan memperkirakan kondisi fiskal akan tetap aman terkendali hingga akhir tahun. “Sampai sekarang, dengan harga yang ada, kita masih tahan APBN sampai akhir tahun. Jadi, kondisi masih aman,” tegasnya, seolah ingin mengusir segala spekulasi liar yang beredar di masyarakat.

Namun, meski di atas angin, pemerintah tidak sedang terlena. Purbaya mengingatkan bahwa kewaspadaan harus tetap dijaga. Pemerintah terus mencermati potensi gangguan ke depan, terutama jika krisis global ini ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan atau bahkan berulang. “Kami tidak tidur. Kami terus memantau,” imbuhnya.

Fokus ke 90 Persen Ekonomi, Bukan Cuma Belanja Negara

Selanjutnya, dalam paparannya yang cukup menarik, Purbaya menyoroti sebuah fakta penting tentang peran belanja pemerintah dalam perekonomian nasional. Ia menyebutkan bahwa kontribusi belanja pemerintah hanya sekitar 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini relatif kecil dibandingkan dengan porsi sektor lainnya. Lantas, siapa pemain utama dalam perekonomian Indonesia? Jawabannya adalah sektor swasta dan masyarakat itu sendiri, yang menyumbang hingga 90 persen aktivitas ekonomi.

Karena itu, ia menekankan bahwa fokus kebijakan pemerintah tidak boleh hanya berkutat pada efisiensi belanja negara yang 10 persen itu. Lebih dari itu, pemerintah harus bergerak lebih strategis, yaitu menjaga stabilitas sektor ekonomi yang lebih luas, yang mencakup 90 persen aktivitas nasional. “Kalau saya bisa jaga yang 90 persen itu, kenapa kita ribut di bagian yang kecil? Itu pun bukan tidak efektif, hanya belum 100 persen efisien seperti yang diharapkan,” ungkapnya, memberikan perspektif baru tentang skala prioritas dalam mengelola ekonomi.

Purbaya juga menambahkan bahwa semua kebijakan fiskal yang ditempuh selama ini—mulai dari refocusing anggaran hingga pemberian insentif—terbukti ampuh menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid. Di tengah ancaman resesi dan perlambatan global yang menerpa banyak negara, Indonesia justru melaju dengan kecepatan yang membanggakan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di kisaran 5,4 persen, sebuah pencapaian yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G20.

“Kalau ekonomi tetap tumbuh, berarti kita tidak dalam kondisi resesi. Itu yang selama ini kita jaga. Ini hasil kerja keras bersama,” ucapnya menutup pernyataan dengan optimisme. Dengan menjaga kestabilan 90 persen sektor non-pemerintah, Purbaya optimis fondasi ekonomi tetap kuat dan mampu menahan segala goncangan yang datang dari luar.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *