Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Megawati Ucapkan Selamat untuk Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

JAKARTA, Cinta-news.com – Sebuah babak baru dalam hubungan Indonesia-Iran ditorehkan Megawati Soekarnoputri. Presiden ke-5 RI yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PDI-P ini secara resmi menyambut hangat kepemimpinan baru di Teheran. Ia mengirimkan ucapan selamat langsung kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang baru saja menggantikan sang ayah, Almarhum Ayatollah Ali Khamenei.

Momen Penuh Sejarah di Kediaman Menteng

Momen bersejarah itu berlangsung di kediaman Megawati di kawasan Menteng, Jakarta, pada Selasa (10/3/2026). Saat itu, ia menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Suasana hangat langsung terasa ketika Mega—sapaan akrabnya—menyerahkan sebuah amplop penting. Isinya? Surat ucapan selamat yang ditujukan langsung untuk Mojtaba Khamenei.

“Ini adalah surat kedua, saya merasa gembira bahwa karena Iran sekarang sudah punya pemimpin kembali,” ujar Megawati dengan nada antusias saat menyerahkan surat tersebut kepada Dubes Boroujerdi. Pernyataan ini dikutip dari siaran pers yang diterima awak media pada Rabu (11/3/2026).

Pertemuan strategis itu tidak hanya melibatkan kepala negara kelima RI. Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, turut mendampingi bersama jajaran pengurus DPP lainnya. Mereka adalah Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Eriko Sotarduga, dan Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDI-P, Andi Widjajanto. Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya hubungan baik dengan Iran bagi partai berlambang banteng tersebut.

Kenangan 2004 dan Surat Duka Cita

Bukan sekadar seremonial, Megawati juga membuka album kenangannya. Dengan penuh semangat, ia menunjukkan foto-foto lawas saat berkunjung ke Teheran pada tahun 2004. Dalam foto itu, ia tampak berdiri berdampingan dengan Almarhum Ayatollah Ali Khamenei, ayah dari pemimpin baru Iran. Momen itu menjadi bukti nyata ikatan emosional yang telah lama terbangun.

“Ini bukti saya punya hubungan persahabatan dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei,” tegas Megawati kepada sang Dubes sambil menunjuk foto bersejarah tersebut.

Sebelum pengangkatan pemimpin baru ini, Megawati ternyata sudah lebih dulu menunjukkan kepeduliannya. Pada 3 Maret 2026, ia telah mengirimkan surat duka cita melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Surat pertama itu berisi ungkapan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Ali Khamenei. Wafatnya sang Ayatollah terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, sebuah peristiwa yang mengguncang dunia.

Mojtaba Khamenei Resmi Memegang Kendali Tertinggi Iran

Dari sudut lain pemberitaan, lanskap politik Iran baru saja mengalami perubahan besar. Pada Senin (9/3/2026), Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Ia menggantikan posisi ayahnya yang telah memimpin selama puluhan tahun.

Keputusan penting ini dihasilkan melalui mekanisme internal negara. Majelis Ahli Iran, sebuah lembaga elite yang terdiri dari 88 ulama terkemuka, menggelar sidang khusus. Mereka memiliki tugas konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi jika posisi tersebut kosong. Hasilnya pun bulat.

“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Penunjukan ini membawa konsekuensi besar bagi tata kelola negara di Persia. Jabatan pemimpin tertinggi memberinya wewenang final dalam seluruh urusan negara. Mulai dari politik, militer, hingga masalah keagamaan, semua berada di bawah pengawasannya.

Uniknya, dalam sistem politik Iran, rakyat tidak memilih langsung pemimpin tertinggi. Prosesnya justru melalui mekanisme perwakilan oleh para ulama. Majelis Ahlilah yang memegang kunci untuk memilih melalui pemungutan suara internal.

Lembaga Majelis Ahli sendiri terdiri dari ulama-ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali. Namun, ada filter ketat di depan. Seluruh kandidat yang maju harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga, sebuah badan kuat lainnya di Iran.

Konstitusi Iran mengatur secara rinci kriteria seorang pemimpin tertinggi. Calon haruslah seorang ahli hukum Islam Syiah dengan pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi. Selain itu, ia juga harus memiliki kecakapan politik, keberanian, serta kapasitas administrasi yang mumpuni.

Sesuai aturan, jika posisi pemimpin tertinggi lowong—baik karena meninggal atau mundur—Majelis Ahli wajib segera bersidang. Mereka kemudian akan memilih pengganti melalui proses voting sederhana namun sarat makna politik.

Sejarah peralihan kekuasaan di posisi puncak Iran ini terbilang singkat. Sebelum Mojtaba Khamenei, hanya pernah terjadi satu kali suksesi. Saat itu, Ruhollah Khomeini, ikon Revolusi Iran 1979, meninggal dunia pada tahun 1989. Posisinya kemudian digantikan oleh Ali Khamenei, yang kini telah berpulang dan mewariskan tampuk kepemimpinan kepada putranya, Mojtaba.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version