Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Macron Desak Dunia Kurangi Ketergantungan pada AS Usai Tegang dengan Trump

SEOUL, Cinta-news.com – Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan berani melontarkan seruan mengguncang dunia! Di tengah ketegangan memanas dengan Amerika Serikat, Macron secara gamblang mengajak seluruh negara di planet ini untuk bersatu padu membangun tatanan global yang sama sekali baru. Ia memperingatkan dengan lantang agar masyarakat dunia tidak terjebak dalam posisi pasif dan hanya terdiam, sementara di depan mata kekacauan global terus merajalela dan persaingan antar kekuatan besar kian brutal.

Saat berpidato di hadapan mahasiswa Universitas Yonsei dalam kunjungannya yang penuh makna ke Korea Selatan, Macron dengan tegas menyoroti fakta bahwa stabilitas dunia yang sudah mapan selama berpuluh-puluh tahun kini tengah mengalami guncangan hebat di segala lini. “Selama beberapa dekade, kita semua menikmati apa yang disebut stabilitas berdasarkan tatanan internasional ini berikut sejumlah kepastian yang kita miliki.

Namun sekarang, situasinya benar-benar naik turun bagaikan roller coaster,” ujarnya dengan penuh semangat, sebagaimana dikutip dari Anadolu. “Kita tidak boleh hanya berdiam diri dan pasif di tengah kekacauan baru ini. Sebaliknya, kita harus secara aktif membangun tatanan dunia yang sama sekali baru,” sambungnya dengan nada menggelora.

Tolak Jadi Boneka! Macron dengan Berani Menolak Dominasi AS dan China

Salah satu poin paling mengguncang yang ditekankan Macron adalah perlunya membentuk apa yang ia sebut sebagai “koalisi kemerdekaan”. Ia dengan penuh semangat mendesak seluruh negara di dunia untuk segera mengurangi ketergantungan mereka, baik pada dominasi ekonomi China yang mencekik maupun pada ketidakpastian politik Amerika Serikat yang membingungkan. “Saya rasa tujuan kita bersama bukanlah untuk menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik,” tegasnya dengan lugas, seraya secara terang-terangan merujuk pada Amerika Serikat dan China sebagai dua raksasa yang selama ini mendikte dunia.

Lebih lanjut, Macron pun dengan penuh tekanan menyerukan agar persaingan sengit antarnegara dihentikan sejenak. Ia ingin semua pihak duduk bersama membangun kompromi yang nyata dan tidak sekadar basa-basi. Seruan berani ini meluncur hanya beberapa hari setelah ia dan Presiden AS Donald Trump terlibat ketegangan sengit, akibat Prancis dengan keras kepala menolak mengerahkan pasukan untuk membuka blokade di Selat Hormuz. Konflik kecil ini tampaknya menjadi pemicu yang membakar semangat Macron untuk berbicara lantang.

Selain itu, ia juga menyoroti betapa krusialnya kerja sama internasional yang diperbarui secara mendesak, terutama di bidang penelitian dan sains yang selama ini jadi tulang punggung kemajuan manusia. “Apa yang kita alami selama beberapa tahun terakhir adalah semacam fragmentasi yang mengerikan dari kerja sama ini. Banyak negara mulai saling memblokir beberapa bentuk kerja sama yang seharusnya menguntungkan semua pihak,” jelasnya dengan nada frustrasi.

Macron menambahkan bahwa beberapa negara bahkan telah mulai memangkas pendanaan di bidang-bidang yang sangat vital. Menurut penilaiannya, ini merupakan bentuk pengkhianatan yang keji terhadap semangat koordinasi dan kerja sama yang sangat kita butuhkan saat ini. “Jadi, kita semua harus berhenti bersaing untuk sementara waktu. Kita harus segera membahas bagaimana cara membangun kompromi yang tepat dan kemudian bekerja sama secara sungguh-sungguh,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Sorotan Pedas! Macron Kecam Tarif Gila-Gilaan AS dan Kelebihan Kapasitas China

Di hari yang sama, ketika berbicara di sebuah forum ekonomi bergengsi, Macron kembali melancarkan seruannya. Ia dengan keras menyerukan perlindungan ketat terhadap kapasitas produksi Eropa di tengah gempuran apa yang ia sebut sebagai tarif gila-gilaan dari AS dan kebijakan kelebihan kapasitas yang dihasilkan China.

Ia menyatakan dengan bangga bahwa Eropa saat ini tengah memajukan pendekatan ambisius bernama “Made in Europe”, sebuah kebijakan yang sebenarnya serupa dengan pendekatan yang sudah diterapkan di Amerika Utara. “Kami sama sekali tidak melakukan ini untuk melawan siapa pun. Justru sebaliknya, kami ingin melakukannya bersama dengan orang lain,” paparnya dengan nada bersahabat namun tetap tegas.

Macron dengan penuh percaya diri menggambarkan Eropa sebagai “sebuah benua yang sangat menarik” yang saat ini sedang mengalami proses modernisasi dan penyederharaan birokrasi yang masif. Ia menekankan bahwa benuanya selalu mengutamakan prediktabilitas dan kepatuhan yang ketat pada aturan main bersama. Dia juga mengatakan bahwa Eropa tidak pernah percaya pada hukum yang terkuat atau siapa yang paling besar dialah yang menang.

“Kami mungkin bukanlah yang terkuat secara militer atau ekonomi, tetapi kami sangat percaya bahwa siapa pun yang mengandalkan hukum yang terkuat akan melakukan kesalahan besar pada hari mereka menerapkan hukum rimba itu dan dengan gegabah meninggalkan kerangka kerja bersama yang sudah disepakati,” katanya dengan analitis.

Lebih dalam lagi, Macron memperingatkan adanya tekanan paralel yang sangat berbahaya yang datang dari China dan AS. Ia menyebut bahwa Beijing dengan agresif berupaya untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas rantai nilai global melalui subsidi besar-besaran, penciptaan kelebihan kapasitas produksi yang merusak pasar, serta kontrol ketat atas mineral-mineral penting dunia.

Sementara di sisi lain, Washington mencoba mengatasi ketidakseimbangan perdagangan tersebut melalui kebijakan tarif yang mematikan dan langkah-langkah ekstrateritorial yang kerap memicu kemarahan negara lain. “Pada intinya, apa yang menyatukan kita semua adalah keyakinan kita yang kuat pada supremasi hukum, hukum internasional yang adil, perdagangan bebas dan adil, serta kepatuhan penuh pada aturan Organisasi Perdagangan Dunia,” tutupnya dengan penuh wibawa.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *