Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Makin Meluas, Kini Capai Bahu Jalan Alternatif

BENER MERIAH, Cinta-news.com – Warga Kampung Pondok Balik, Aceh Tengah, kini hidup dalam ketakutan. Bagaimana tidak? Lubang raksasa yang terus melahap tanah di desa mereka kini makin brutal! Bukan hanya lahan kosong, kali ini sang raksasa mulai menyentuh badan jalan alternatif yang baru saja dibangun beberapa waktu lalu untuk menyelamatkan akses warga. Situasinya benar-benar kritis!

Sebelumnya, tim gabungan sempat berjibaku membuka jalur alternatif. Mereka memanfaatkan bekas badan jalan milik PT Alasilo (KKA) yang sudah mati dan ditelan semak belukar selama bertahun-tahun. Jalan darurat itu menjadi satu-satunya harapan untuk mengalihkan arus transportasi setelah jalan utama ambles total beberapa pekan lalu. Sayangnya, harapan itu kini sirna.

“Sore ini, lubang raksasa sudah menyentuh badan jalan, jadi tidak bisa dilewati lagi,” ucap Aliyono, Kepala Desa Kampung Pondok Balik dengan suara bergetar saat dihubungi, Jumat (20/2/2026). Ia menjelaskan, kejadian ini berlangsung cepat. Hanya dalam hitungan jam, tanah di pinggir lubang retak lalu ambrol, ikut merenggut badan jalan alternatif tersebut. Ini mimpi buruk yang menjadi nyata!

Akibatnya, sambung Aliyono, jalur vital yang menghubungkan Simpang Balik menuju Kecamatan Ketol putus total. Jangan bayangkan kendaraan roda empat bisa melintas, karena jalur yang tersisa kini hanyalah tebing-tebing curam di sekitar lubang. Para sopir dan warga pun terpaksa memutar otak mencari rute lain.

Untuk sementara, transportasi dialihkan melalui jalan Kampung Blang Paku menuju Segene Balik. Namun, jangan dulu berpikir jalan mulus. Rute ini hanya ramah untuk kendaraan roda dua. Pasalnya, banyak bagian jalan dan jembatan di sana yang ambruk dan rusak parah akibat terjangan banjir bandang dan bencana hidrometeorologi hebat pada November tahun lalu. Kondisinya memprihatinkan.

“Kalau mobil harus memutar jauh melewati Kecamatan Kute Panang, jaraknya sangat jauh,” tambah Aliyono sambil menghela napas panjang. Rute memutar itu tidak hanya memakan waktu tempuh berjam-jam, tapi juga menguras kantong lantaran konsumsi bahan bakar membengkak. Ini pukulan telak bagi perekonomian warga.

Putusnya jalur alternatif ini jelas pukulan berat bagi masyarakat Kecamatan Ketol. Bayangkan, mayoritas warga di sana menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka setiap hari mengandalkan jalur tersebut untuk mengangkut komoditas unggulan mereka. Jika akses terputus, maka rantai distribusi ikut kacau.

Kecamatan Ketol sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung cabai terbesar di Provinsi Aceh. Bukan hanya untuk konsumsi lokal, cabai merah berkualitas dari Ketol sudah malang melintang di pasar Sumatra. Setiap harinya, truk-truk bermuatan cabai segar meluncur ke Medan, Padang, bahkan hingga ke Pekanbaru, Batam, Jambi, dan Palembang.

“Terputusnya jalur utama dan jalur alternatif menjadi beban berat bagi petani, proses pengangkutan hasil panen jadi lebih sulit dan mahal,” ucap Salmiati, seorang petani cabai asal Kampung Buntul dengan mata berkaca- kaca. Ia menceritakan, kini petani harus berpikir ekstra keras. Biaya operasional naik, sementara harga jual belum tentu stabil.

Salmiati pun tak kuasa menahan harap. Ia berharap pemerintah segera turun tangan. Bukan hanya janji, tapi solusi konkret yang bisa menyentuh langsung akar masalah. “Sudah cukup saat bencana kemarin, petani harus menggendong cabai puluhan kilo dari kampung Buntul sampai kampung Seni Antara Kem agar bisa di jual di Lhokseumawe, yang jaraknya sampai beberapa kilometer. Jangan lagi jalur transportasi menjadi kendala para petani mendistribusikan hasil panen cabai mereka,” harap Salmiati lirih, mewakili ratusan petani lain yang nasibnya kini menggantung di ujung lubang raksasa.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version