Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Langkah Berani Australia, Akui Kedaulatan Palestina

CANBERRA, Cinta-news.com – Pemerintah Australia membuat keputusan berani dengan mengakui kedaulatan Palestina. Akibatnya, langkah ini mengubah peta politik luar negeri Canberra. Bahkan, Australia nekat bersikap meski berisiko merusak hubungan dengan Israel.

Kemudian, pemerintah mengumumkan keputusan ini pada 11 Agustus 2025. Pemerintah akhirnya mengumumkan keputusan bersejarah ini hanya selang beberapa hari dari aksi unjuk rasa besar-besaran yang menyatukan puluhan ribu rakyat Australia di Jembatan Pelabuhan Sydney. Dalam aksi itu, massa menyerukan perdamaian dan mendesak bantuan segera ke Gaza. Perlu dicatat, Gaza telah menjadi medan perang selama dua tahun.

Data terbaru menunjukkan otoritas kesehatan Gaza mencatat 60.000 warga Palestina tewas. Selain itu, PBB terus memperingatkan ancaman kelaparan di wilayah tersebut. “Membela Israel kini tidak populer secara politik,” ujar Martin Kear, akademisi Universitas Sydney.

Hubungan Bilateral Memburuk

Keputusan Canberra langsung merusak hubungan Australia-Israel. Merespons hal ini, PM Israel Benjamin Netanyahu mengkritik keras PM Anthony Albanese. Bahkan, Israel mencabut visa diplomat Australia dan melarang anggota parlemen Israel ke Australia.

Politisi kedua negara saling serang secara verbal. Netanyahu menuding Albanese sebagai pengkhianat Israel. “Rekam jejaknya ternoda karena lemah terhadap Hamas,” katanya.

Dukungan Publik Meningkat

Sementara, dukungan masyarakat Australia untuk Palestina meningkat tajam. Survei DemosAU menunjukkan 45% responden mendukung pengakuan tanpa syarat. Sebaliknya, hanya 23% yang menolak.

Media setempat menilai simpati publik terhadap Israel terkikis. “Citra dan footage yang menyayat hati dari konflik Gaza telah secara langsung mempengaruhi persepsi dan pertimbangan para elite politik di Canberra,” jelas Charles Miller.

Kekhawatiran Komunitas Yahudi

Ketegangan ini memicu kecemasan komunitas Yahudi Australia. Dewan Eksekutif Yahudi Australia mengirim surat kepada kedua pemimpin. Mereka meminta pengurangan ketegangan dengan bahasa santun.

“Pernyataan publik harus menggunakan bahasa terukur,” tulis surat tersebut. Rabi Eli Feldman mengkhawatirkan retorika keras membahayakan komunitas Yahudi. “Kritik media berimbas pada kami,” katanya.

Australia juga menghadapi lonjakan serangan antisemit sejak perang dimulai.

Pragmatisme Albanese

Australia sebenarnya pendukung awal Israel. Namun, pragmatisme Albanese membuatnya menunggu dukungan publik memuncak.

“Albanese pragmatis dan hati-hati,” ujar Jessica Genauer. Kemenangan besar dalam pemilu memberi ruang untuk keputusan berisiko. Dukungan sekutu mempermudah langkah Canberra. “Mereka tidak ingin tertinggal,” pungkas Genauer.

Dapatkan Berita Terupdate Lainnya di Exposenews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *