Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kudeta Tak Berhasil di Benin, Tentara yang Terlibat Kini Diburu Negara

COTONOU, Cinta-news.com – Militer Benin kini memburu habis para tentara pengkhianat. Mereka menjadi buron setelah gagal total mengkudeta pemerintah akhir pekan lalu. Sumber militer loyalis memberi tahu AFP, aparat sudah meringkus setidaknya 12 pelaku. Kabar baiknya, pasukan pembebas berhasil menyelamatkan seluruh sandera, termasuk dua perwira senior, pada Senin (8/12/2025).

Kondisi Cotonou, ibu kota ekonomi, perlahan kembali normal. Lalu lintas sudah lancar hanya sehari setelah aksi pemberontak. Sebelumnya, sekelompok tentara sempat membuat geger dengan menyatakan kudeta lewat televisi nasional.

Presiden Patrice Talon langsung tampil di televisi pada Minggu (7/12) malam. Ia menegaskan, situasi negara sudah sepenuhnya terkendali. Padahal, masa jabatan Talon akan berakhir secara konstitusional pada April 2026. Namun, gangguan keamanan dari pemberontak di utara memang sering mengancam Benin belakangan ini.

Bentrokan sengit sempat terjadi di kediaman presiden. Garda Republik bertempur melawan para pelaku kudeta. Pertempuran itu memakan korban dari kedua belah pihak. Tragisnya, Kepala Staf Militer Presiden, Jenderal Bertin Bada, beserta istrinya menjadi korban tewas dalam peristiwa terpisah.

Nigeria, tetangga Benin, langsung bertindak cepat. Mereka mengirim pasukan dan bahkan meluncurkan serangan ke Cotonou pada Minggu malam. Blok regional Afrika Barat, ECOWAS, juga memberi dukungan militer. Sebelumnya, ECOWAS pernah mengancam intervensi serupa di Niger pada 2023.

Pemimpin Kudeta Masih Kabur, Pasukan Asing Berdatangan

Sumber militer menyebut, jumlah pasti pelaku kudeta yang masih buron belum bisa dipastikan. Mereka menduga, sebagian pelaku melarikan diri ke wilayah pedesaan. “Pencarian masih sangat intens,” kata sumber itu. Sumber lain mengonfirmasi sekitar 12 orang sudah ditahan. Namun, otak kudeta, Letnan Kolonel Pascal Tigri, masih berhasil menghilang.

Di sisi lain, dua perwira tinggi yang sempat disandera akhirnya bebas. Kepala Staf Angkatan Darat Abou Issa dan Kolonel Faizou Gomina terbebas pada malam hari. Dalam pidatonya, Talon menyatakan negara berhasil menumpas kantong perlawanan terakhir.

Meski begitu, jalan menuju istana presiden masih ditutup pada Senin sore. Beberapa titik kota juga masih dijaga ketat oleh tank. ECOWAS mengerahkan pasukan dari Ghana, Pantai Gading, Nigeria, dan Sierra Leone ke Benin. Mereka bertugas membantu menjaga ketertiban konstitusional.

Komunitas internasional pun bereaksi. PBB, Uni Afrika, dan Perancis bersama-sama mengutuk keras upaya kudeta ini. Konstitusi Benin melarang Talon maju lagi pada pilpres April 2026. Kata pendukung utama menunjuk Menteri Keuangan Romuald Wadagni sebagai calon kuat. Namun, pemerintahan tidak mengizinkan partai oposisi utama, Partai Demokrat, untuk ikut pemilu karena alasan administratif.

Partai Demokrat justru mengutuk kudeta melalui pernyataannya ke AFP. Mereka menegaskan penolakan terhadap segala bentuk perebutan kekuasaan secara paksa. “Peristiwa tragis ini mengingatkan kita semua akan pentingnya dialog politik,” bunyi pernyataan mereka.

Patrice Talon kerap mendapat pujian atas pertumbuhan ekonominya. Kritik pun mengalir deras terhadap gaya kepemimpinannya yang dinilai semakin otoriter. Sejarah mencatat, Benin memang rentan goncangan. Sejak merdeka dari Perancis tahun 1960, negara ini telah mengalami serangkaian kudeta dan percobaan kudeta militer yang berulang.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version