Cinta-news.com – Cuaca ekstrem yang menggila selama sepekan terakhir ternyata telah memicu bencana banjir skala menengah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pada Rabu (15/1/2026) pagi, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak akhirnya mengonfirmasi fakta mencengangkan ini. Secara mengejutkan, delapan desa yang tersebar di empat kecamatan berbeda harus berjuang melawan genangan air yang menginvasi pemukiman mereka.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Demak, Suprapto, dengan tegas menyatakan variasi ketinggian air banjir yang sangat beragam. “Kami mencatat ketinggian air banjir ini sangat bervariasi, mulai dari 15 sentimeter yang cukup mengganggu, hingga 65 sentimeter yang sudah sangat berbahaya,” papar Suprapto. Lebih lanjut, ia membeberkan detail lokasi yang menjadi korban, “Banjir tersebar di Kecamatan Demak, Kecamatan Bonang, Kecamatan Sayung, dan Kecamatan Karanganyar,” jelas Prapto melalui pesan tertulisnya, Rabu lalu.
Berikut Rincian Lengkap Desa-Desa yang Jadi Korban Banjir:
- Kecamatan Demak
- Kelurahan Betokan, dilaporkan tenggelam oleh air setinggi 15-30 sentimeter.
- Desa Karangmelati, harus menghadapi genangan lebih dalam, yakni 20-50 sentimeter.
- Kecamatan Bonang
- Desa Tridonorejo, terendam air dengan ketinggian 20-35 sentimeter.
- Desa Jatirogo, dilanda banjir setinggi 20-30 sentimeter.
- Desa Bonangrejo, mengalami kenaikan air hingga 40 sentimeter.
- Kecamatan Karanganyar
- Desa Wonorejo, menjadi salah satu titik terdalam dengan air mencapai 50 sentimeter.
- Kecamatan Sayung
- Desa Sayung, menjadi EPISENTRUM banjir tertinggi dengan air mencapai 65 sentimeter!
- Desa Kalisari, juga tak luput dari genangan signifikan setinggi 45 sentimeter.
Lalu, Apa Sebenarnya Pemicu Banjir Luas Ini?
Suprapto dengan gamblang membeberkan rantai penyebab bencana ini. Menurutnya, cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi menjadi aktor utama yang memaksa debit air sungai meluap secara brutal ke permukiman warga. Sebagai contoh, ia menyoroti kondisi di Kecamatan Sayung yang paling parah. “Banjir di Sayung terjadi karena sungai sama sekali tidak mampu lagi menampung gempuran debit air yang datang tiba-tiba,” ungkapnya.
Namun, kondisi itu tidak berhenti di situ. Faktanya, tiga elemen lain justru memperparah situasi menjadi bencana berantai. Curah hujan tinggi, air laut yang sedang pasang (rob), serta kondisi topografi permukiman dan jalan yang lebih rendah dari sungai, akhirnya bersekongkol menciptakan kubangan raksasa. “Sayangnya, Kecamatan Sayung merupakan wilayah cekungan. Alhasil, air tidak bisa mereka buang ke Sungai Dombo karena permukaan rob laut sedang sangat tinggi,” tutur Suprapto dengan nada prihatin.
Imbauan Penting untuk Warga Demak
Menyikapi kondisi kritis ini, Suprapto mengeluarkan imbauan mendesak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Demak. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra dalam beberapa hari ke depan. “Saya mohon, masyarakat harus terus berhati-hati dan mewaspadai kemungkinan cuaca ekstrem yang masih mengancam,” pesannya penuh harap. Oleh karena itu, setiap keluarga diimbau untuk selalu memantau informasi terkini dari pihak berwenang, menyiapkan tas siaga bencana, dan segera mengungsi ke titik kumpul jika ketinggian air meningkat drastis.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
