JAKARTA, Cinta-news.com – Nuansa menjelang Lebaran di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendadak tidak lagi ceria. Pasalnya, harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting) mulai menunjukkan taringnya dengan merangkak naik. Situasi ini langsung membuat para ibu rumah tangga menarik napas panjang, karena sebagian komoditas bahkan kini dijual dengan banderol yang menerobos Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan pemerintah.
Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Jember merilis data terbaru yang cukup mencengangkan. Dari total 21 komoditas yang rutin mereka pantau, tim menemukan bahwa sebanyak 13 komoditas mengalami kenaikan harga secara signifikan. Dengan kata lain, lebih dari separuh bahan pokok yang dibutuhkan warga untuk menyambut hari raya kini harganya sedang tidak bersahabat.
Komoditas-komoditas yang harganya mulai panas antara lain adalah beras premium dan medium yang menjadi santapan pokok sehari-hari. Kemudian, gula pasir dan minyak goreng, baik yang curah maupun kemasan premium, juga ikut meroket. Tak berhenti di situ, harga daging sapi murni, daging ayam ras broiler, hingga telur ayam yang menjadi andalan protein murah pun ikut terkerek naik. Bumbu dapur seperti cabai merah besar, bawang putih, kentang, tomat, serta wortel juga masuk dalam daftar komoditas penyumbang inflasi jelang Lebaran.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Jember, Sartini, mengonfirmasi langsung lonjakan ini. Pihaknya bahkan menemukan fakta bahwa beberapa harga bahan pokok sudah tidak masuk akal karena melampaui batas HET yang seharusnya menjadi pagar pelindung daya beli masyarakat.
“Jadi, kami melihat ada beberapa komoditas yang kenaikannya itu cukup drastis hingga melebihi HET yang telah ditentukan. Contohnya seperti minyak goreng rakyat Minyakita, lalu kedelai impor, dan juga bawang merah,” ungkap Sartini saat ditemui di Pemdapa Wahyawibawagraha, pada Jumat (13/3/2026) yang lalu.
Minyakita Kebablasan, Jauh di Atas Batas Wajar
Dari sekian banyak komoditas, Minyakita menjadi sorotan paling tajam. Minyak goreng rakyat yang diandalkan masyarakat menengah ke bawah ini seharusnya dijual dengan HET Rp 15.700 per liter. Namun, kenyataan pahit di lapangan berkata lain. Pantauan terkini menunjukkan harga Minyakita di pasar tradisional telah menyentuh angka Rp 16.913 per liter. Artinya, ada selisih lebih dari seribu rupiah yang harus ditanggung konsumen.
Meskipun secara umum harga merangkak naik, kabar baik datang dari komoditas cabai rawit. Pemerintah daerah mencatat adanya sedikit angin segar di tengah tekanan inflasi ini. Harga cabai merah rawit yang sebelumnya menyentuh level tertinggi di kisaran Rp 95.185 per kilogram, kini perlahan mulai menunjukkan penurunan menjadi Rp 88.852 per kilogram. Penurunan ini sedikit memberi ruang lega bagi para pedagang sambal dan rumah makan.
Sartini menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat gejolak ini. Pihaknya bersama dengan Satgas Pangan Jember sudah bergerak cepat. Sepanjang bulan Ramadhan, mereka menggencarkan berbagai program intervensi pasar untuk menahan laju kenaikan harga.
“Kami bersama tim terus melakukan intervensi. Operasi pasar dan pasar murah itu kami gelar setiap hari di berbagai titik di Jember,” ucap Sartini, menegaskan komitmen mereka untuk menstabilkan harga.
Bulog Turun Tangan, Tegaskan Pedagang Tidak Boleh Serakah
Menanggapi isu Minyakita yang dijual di atas HET, Perum Bulog Cabang Jember langsung buka suara. Mereka menegaskan bahwa praktik tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan. Kepala Perum Bulog Cabang Jember, Ade Saputra, menjelaskan dengan gamblang mekanisme rantai pasok yang seharusnya. Menurutnya, para pedagang sebenarnya sudah mendapatkan margin keuntungan yang wajar sejak awal.
“Jadi begini, para pedagang itu sebenarnya sudah memiliki ruang keuntungan. Mereka membeli Minyakita dari Bulog hanya dengan harga Rp14.500 per liter,” ungkap Ade. Dengan selisih lebih dari Rp 1.200 dari HET, seharusnya pedagang bisa mendapatkan untung tanpa harus membebani konsumen.
“Terkait temuan kenaikan harga melebihi HET ini, tentu akan segera kami laporkan dan koordinasikan lebih lanjut dengan tim Satgas Pangan,” ucap Ade, memastikan akan ada tindak lanjut.
DPRD Desak Eksekutif Bergerak Cepat Atasi Gejolak
Di tengah hiruk-pikuk kenaikan harga ini, suara kritis datang dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember. Anggota Komisi B DPRD Jember, Nilam Noor Fadilah Wulandari, menyoroti perlunya langkah konkret dan antisipatif dari pemerintah daerah. Ia menilai, pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah fluktuasi pasar yang meresahkan warga.
“Menjelang Lebaran seperti ini, Pemkab wajib hadir di tengah masyarakat. Mereka harus segera merumuskan kebijakan strategis yang tidak hanya fokus pada stabilitas harga, tetapi juga menjamin ketersediaan bahan pokok tetap ada di pasar. Jangan sampai masyarakat kesulitan membeli kebutuhan pokok karena harganya melambung tinggi,” ulas Nilam dengan tegas. Ia berharap, intervensi pasar tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga memastikan rantai pasok berjalan lancar sehingga harga bisa kembali normal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
