Jakarta, Cinta-news.com – Sore hari menjelang buka puasa, para pengguna ojek online (ojol) di Jakarta mendadak panik. Bukan karena takut telat berbuka, melainkan lantaran aplikasi transportasi favorit mereka tiba-tiba “mogok” mencari driver. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka, melainkan kenyataan pahit yang berulang setiap harinya, dan warganet pun kompak menyebutnya sebagai “Krisis Ojol”.
20 Menit Menatap Layar, Driver Datang dari Ujung Mana

Seorang pengguna setia layanan ojol, Zahra (26), meluapkan unek-uneknya saat ditemui di kawasan Jakarta, Selasa (12/3/2026). Dengan nada sedikit frustrasi, ia menceritakan pengalaman pahitnya yang hampir setiap hari ia alami. “Saya paling kesal kalau sudah sore begini. Mau pesan ojek untuk pulang kerja, aplikasi malah muter-muter cari driver. Bisa sampai 20 menit lamanya saya menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas,” keluhnya.
Ia kemudian menambahkan detail yang lebih mengesalkan. Saat aplikasi akhirnya “berhasil” mendapatkan pengemudi, euforianya hanya berlangsung sesaat. Pasalnya, driver yang menerima orderannya justru berada di lokasi yang sangat jauh. “Setelah sekian lama menunggu orderan masuk, saya harus menahan diri lagi 10 menitan. Driver-nya pasti datang dari jarak yang cukup jauh. Jadi, proses menunggu terasa semakin panjang,” ujarnya sambil menghela napas.
Sudah Dapat Driver, Eh Malah Dicancel!
Keluhan serupa, bahkan dengan tingkat kekesalan yang lebih tinggi, juga disampaikan oleh Amo (29). Pria muda ini menceritakan skenario terburuk yang kerap menimpanya. “Saya paling sebel kalau sudah begini. Sabar-sabar nungguin aplikasi cari driver, hampir 20 menit, eh pas udah dapet driver, tiba-tiba aja pesanan di-cancel sama yang punya. Padahal saya nggak pakai promo sama sekali lho,” protesnya dengan nada tinggi.
Amo semakin menggarisbawahi bahwa situasi genting ini mencapai puncaknya pada dua kondisi spesifik: menjelang waktu maghrib dan saat hujan deras mengguyur. “Apalagi kalau udah menjelang magrib, trus turun hujan lebat. Dijamin deh, kayak mencari jarum di tumpukan jerami. Nggak ada satu driver pun yang mau ambil orderan,” sambungnya, menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan transportasi di saat-saat kritis tersebut.
Karena terus-menerus berhadapan dengan situasi pelik ini, Amo akhirnya punya strategi baru. “Saya jadi sering beralih ke JakLingko atau transportasi umum lainnya. Padahal, dalam kondisi badan capek abis kerja, pengennya sih naik motor aja biar cepet nyampe rumah dan nggak perlu jalan kaki jauh,” ungkapnya dengan sedikit nada pasrah. Ia pun melayangkan harapan besar kepada para pengemudi. “Mudah-mudahan para driver nggak terlalu pilih-pilih orderan, terutama di jam-jam pulang kerja gini. Kan kita semua lagi pada butuh,” pintanya.
Ramai di Medsos, Siapa Sebenarnya yang Bersalah?
Tak hanya Zahra dan Amo, Bene (27) juga mengamini fenomena aneh ini. Ia bahkan mengaku sudah berkali-kali mengalami nasib sial. “Sering banget, pesan ojol pas pulang kerja, layar aplikasi cuma nampilin tulisan ‘mencari driver’ muter-muter terus. Nggak dapet-dapet sama sekali, kayak lagi main game yang nggak pernah menang,” sindirnya.
Di jagat maya, riuh rendah keluhan para pengguna ini berubah menjadi simfoni digital. Tagar-tagar dan utas diskusi bermunculan, membahas fenomena yang mereka sebut sebagai “krisis ojol”. Warganet berbondong-bondong membagikan pengalaman pahit mereka, mulai dari menunggu berjam-jam hingga orderan yang raib ditelan bumi.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan “krisis” ini terjadi? Dari hasil investigasi ringan di berbagai grup media sosial dan komunitas pengemudi, menguak sebuah fakta menarik di balik layar. Bukan karena jumlah pengemudi yang berkurang, melainkan karena mereka tengah melakukan aksi “protes diam-diam”.
Sumber-sumber dari dalam komunitas pengemudi menyebutkan bahwa banyak rekan mereka yang memilih untuk off bid atau sengaja tidak mengaktifkan fitur terima order secara otomatis pada jam-jam sibuk. Alasannya klasik, namun sangat fundamental: ketidakseimbangan antara pendapatan dan biaya operasional. Pada jam-jam macet parah, seperti sore hari, waktu tempuh perjalanan membengkak. Bensin terkuras, tenaga habis, namun tarif yang mereka terima tak sebanding dengan effort yang dikeluarkan. Mereka menilai, daripada terjebak macet berjam-jam dengan pendapatan minim, lebih baik beristirahat atau mencari lokasi yang lebih potensial di jam tersebut. Inilah mengapa pengguna kesulitan menemukan driver di saat mereka paling membutuhkan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











