Cinta-news.com – Kabar gembira menyapa warga Mataram! Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akhirnya memulai gebrakan nyata dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Langkah ini diambil sebagai respons cepat setelah penutupan TPA Regional Kebon Kongok yang membuat kapasitas pengelolaan sampah di wilayah tersebut semakin menipis dan mendesak untuk segera diatasi.
TPST Megah di Atas Lahan 1,48 Hektar
Kementerian PU langsung bergerak cepat membangun TPST di atas lahan seluas 1,48 hektar yang dirancang dengan kapasitas pengolahan mencapai 60 ton sampah per hari. Fasilitas canggih ini nantinya akan melayani sampah dari Kecamatan Ampenan dan Kecamatan Sekarbela, dua kawasan yang selama ini menjadi penyumbang sampah terbesar di kota tersebut.
Darurat Sampah 425 Ton Sehari, Ini Solusinya!
Pembangunan TPST Kebon Talo bukan sekadar proyek biasa, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah perkotaan sekaligus mengurangi beban sampah yang selama ini menumpuk di tempat pemrosesan akhir. Kebutuhan akan fasilitas ini semakin terasa mendesak mengingat Kota Mataram menghasilkan sekitar 425 ton sampah setiap hari, sebuah angka yang cukup fantastis dan memerlukan penanganan serius.
Menteri PU: Sampah Kita Sulap Jadi Energi Listrik!
Menteri PU Dody Hanggodo dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah terus mempercepat penanganan persoalan sampah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Berbagai upaya dilakukan, termasuk pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah dan pemanfaatan teknologi modern. “Ke depan, gunungan sampah akan kita ubah menjadi listrik. Tapi yang lebih penting, kita ubah dulu budaya kita. Hentikan membuang sampah ke sungai dan laut. Karena ketika kita membuang sembarangan, alam akan menghukum kita kembali, misalnya banjir dari sungai, rob dari laut,” ujar Dody dengan penuh semangat saat dikutip dari siaran pers, Senin (10/8/2026).
Sampah Dipilah, Diolah, dan Disulap Jadi Bahan Bakar!
Berbeda dengan tempat pembuangan sampah konvensional, TPST Kebon Talo dirancang dengan konsep pengelolaan sampah terpadu yang jauh lebih modern dan efisien. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai penampungan, tetapi juga melakukan pemilahan hingga pengolahan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA. Sistem pengolahan dilengkapi dengan teknologi pemilahan otomatis yang mampu memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, mulai dari organik, anorganik, logam, hingga residu. Teknologi canggih ini memastikan setiap jenis sampah mendapatkan perlakuan yang tepat sesuai dengan karakteristiknya.
TPST ini juga memanfaatkan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) yang merupakan terobosan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif dari sampah sekaligus meningkatkan tingkat daur ulang. Dengan adanya teknologi ini, sampah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi tinggi.
Bangunan utama TPST berupa hanggar pengolahan dengan luas 2.592 meter persegi yang didesain dengan konsep modern dan ramah lingkungan. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan kantor operasional, pos operator jembatan timbang, ruang panel dan powerhouse, serta berbagai prasarana pendukung lainnya yang memastikan operasional berjalan lancar dan efisien. Proses pengolahan sampah dibagi menjadi dua lini utama, yakni lini organik dan lini RDF/anorganik. Pembagian ini bertujuan agar proses pengolahan berlangsung lebih efisien dan menghasilkan sampah olahan yang memiliki nilai ekonomi, sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.
Target Rampung Akhir 2026, Bisa Dipakai 20 Tahun!
Kabar baiknya, pembangunan TPST Kebon Talo telah dimulai sejak 12 Juni 2026 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Setelah beroperasi, fasilitas ini diproyeksikan memiliki masa layanan hingga 20 tahun, menjadikannya investasi jangka panjang yang sangat berharga bagi pengelolaan sampah di Kota Mataram.
Pembangunan TPST Kebon Talo merupakan bagian dari upaya Kementerian PU memperkuat pelayanan infrastruktur dasar, khususnya di sektor persampahan. Pemerintah berharap keberadaan infrastruktur pengelolaan sampah tersebut tidak hanya membantu menjaga kebersihan kota, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan dan mendukung sektor pariwisata di Kota Mataram. Dengan pengelolaan sampah yang lebih baik, Mataram diharapkan menjadi kota yang lebih bersih, nyaman, dan menarik bagi wisatawan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
