Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kemarau 2026 di Sumsel Diprediksi Berlangsung hingga 5 Bulan, Warga Diminta Siaga

PALEMBANG, Cinta-news.com – Musim kemarau di Sumatera Selatan (Sumsel) bakal segera bergulir pada Mei 2026 mendatang, dan yang bikin was-was, durasinya bisa tembus hingga 5 bulan lamanya. Siap-siap, cuaca panas ekstrem akan lebih lama menemani aktivitas kita!

Lebih Cepat dari Biasanya, 64 Persen Wilayah Mulai Kemarau Juni

Berdasarkan penjelasan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, awal kemarau paling cepat akan mulai terjadi pada bulan Mei. Kemudian, sebagian besar wilayah lainnya bakal merasakan peralihan musim ini pada awal hingga pertengahan Juni. Jadi, jangan kaget kalau dalam beberapa pekan ke depan matahari mulai terasa lebih garang dari biasanya.

Pihak BMKG setempat bahkan membeberkan data yang cukup mencolok. Sekitar 29 persen wilayah Sumsel akan memasuki masa kemarau di akhir Mei, sementara porsinya paling besar, yakni 64 persen wilayah lainnya, akan menyusul pada awal hingga pertengahan Juni. Artinya, lebih dari separuh wilayah Sumsel sudah harus bersiap menghadapi musim kering dalam waktu dekat.

Lebih lanjut, Wandayantolis mengungkapkan bahwa jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan justru mengalami percepatan awal musim kemarau. Para petani dan pelaku usaha sektor air pun perlu mencermati ini karena musim kemarau datang lebih awal hingga 20 hari dari biasanya. Sekitar 64 persen wilayah mengalami kemajuan hingga dua dasarian, atau sekitar 20 hari lebih cepat. Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal dari pola normal yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Durasi Terpanjang di Wilayah Tengah, Tembus 4–5 Bulan

Lantas, berapa lama durasi kemarau ini akan bertahan? Menurut prediksi, musim kemarau di Sumsel diperkirakan akan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian. Jika dihitung dalam hitungan bulan, itu setara dengan 2 hingga 5 bulan lamanya. Bayangkan, lebih dari sepertiga tahun kita akan diselimuti cuaca panas yang minim hujan. Yang paling perlu diwaspadai adalah wilayah bagian tengah Sumatera Selatan. Daerah ini diprediksi bakal menjadi zona dengan durasi kemarau terpanjang, mencapai 13 hingga 15 dasarian, atau sekitar 4 hingga 5 bulan. Tentu ini termasuk durasi yang cukup panjang untuk wilayah Sumatera pada umumnya.

Selain durasi yang panjang, sifat musim kemarau tahun ini juga akan lebih ekstrem. Wandayantolis menambahkan bahwa sifat musim kemarau didominasi oleh kondisi bawah normal. Artinya, curah hujan yang turun diprediksi lebih rendah dari biasanya. Jangan berharap banyak akan ada hujan penyegar di tengah terik, karena hanya sebagian kecil wilayah yang bersifat normal. Selebihnya akan lebih kering, sehingga potensi kekeringan pun harus benar-benar kita waspadai bersama.

Puncak Kemarau Bervariasi, Agustus Jadi Momen Terpanas

Lalu, kapan puncak dari panas terik ini akan terjadi? Untuk sebagian kecil wilayah, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli. Namun, untuk mayoritas wilayah Sumatera Selatan, puncak kemarau akan terasa sangat terik di bulan Agustus. Inilah waktu di mana suhu udara bisa terasa paling menyengat, dan ketersediaan air bersih menjadi tantangan utama.

Meski begitu, terdapat variasi waktu puncak di beberapa daerah yang perlu dicermati. Beberapa wilayah mengalami puncak yang sama seperti normal, sebagian lainnya justru lebih maju sekitar satu bulan, dan ada pula yang mundur lebih dari satu bulan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik musim antar wilayah di Sumatera Selatan. Jadi, meski sama-sama berada di Provinsi Sumsel, waktu terpanas di kabupaten satu dengan lainnya bisa berbeda.

Baca Juga: Klaim AS Soal Pembicaraan Produktif Dibantah, Iran Tegaskan Tak Ada Rencana Bernegosiasi

Dengan adanya prediksi ini, pemerintah daerah, petani, dan seluruh masyarakat diimbau untuk segera mengambil langkah antisipasi. Jangan sampai datangnya kemarau lebih awal dan berdurasi panjang ini membuat kita lengah. Pemanfaatan air secara bijak, optimalisasi embung, serta penyiapan sumber air cadangan menjadi kunci utama agar dampak kekeringan bisa diminimalisir.

Mari siapkan diri dari sekarang, karena musim kemarau panjang yang tak biasa ini bukan sekadar ramalan, tapi peringatan dini yang harus segera kita respon.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *