ACEH SELATAN, Cinta-news.com – Situasi mencekam terjadi di kawasan Seunebok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan! Kebakaran hutan dan lahan yang semula diperkirakan hanya melanda 20 hektare pada hari pertama, ternyata meluas menjadi 23 hektare di hari berikutnya. Kementerian Kehutanan pun mengerahkan tim spesialis Manggala Agni dari Daops Sumatera I/Sibolangit untuk bertempur melawan si jago merah yang terus membara.
Dalam operasi darurat ini, tim Manggala Agni tidak bekerja sendirian. Mereka berkolaborasi erat dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan berbagai unsur terkait lainnya. Sayangnya, hingga detik ini api masih belum sepenuhnya jinak dan upaya pemadaman masih terus berlanjut tanpa henti.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera pada Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengonfirmasi bahwa satu regu Manggala Agni telah diterjunkan sejak awal kebakaran. “Kami langsung mengerahkan satu regu Manggala Agni dari Daops Sumatera I Sibolangit ke lokasi lahan yang terbakar di Kabupaten Aceh Selatan. Tim BKSDA Aceh juga ikut bergabung dalam pemadaman ini,” ujar Ferdian kepada awak media.
Kondisi Memprihatinkan di Lokasi Kebakaran: Vegetasi dan Gambut Jadi Korban
Mari kita lihat lebih dekat kondisi di lapangan! Kebakaran dahsyat ini terjadi di Desa Seunebok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Berdasarkan hasil pemantauan tim di lokasi, vegetasi yang terbakar didominasi oleh anakan pohon, semak belukar, tanaman pakis, serta areal perkebunan sawit yang menjadi mata pencaharian warga setempat.
Yang lebih mengkhawatirkan, Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut. Karakteristik tanah gambut inilah yang menjadi mimpi buruk bagi petugas pemadam! Mengapa demikian? Karena api tidak hanya merambat di permukaan, melainkan juga menjalar hingga ke lapisan bawah gambut yang sulit dijangkau.
Ferdian menjelaskan bahwa “lahan yang terbakar tersebut merupakan kawasan gambut dengan tipe kebakaran di permukaan dan bawah lahan.” Operasi pemadaman sendiri telah berlangsung sejak Senin (6/7/2026) dan hingga kini tim masih terus berjibaku melawan api yang tidak kunjung padam.
Tantangan Berat di Medan Perang: Gambut dan Akses Terjal Jadi Musuh Utama
Mengapa proses pemadaman terasa begitu berat dan lambat? Ada dua faktor utama yang menjadi penghambat! Pertama, karakteristik lahan gambut yang membandel. Kebakaran pada lahan gambut membutuhkan penanganan yang lebih intensif karena bara api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api di atasnya sudah berhasil dipadamkan. Ini seperti memadamkan api yang memiliki “akar” tersembunyi di dalam tanah!
Kedua, akses menuju lokasi kebakaran yang teramat jauh! Ferdian menjelaskan bahwa perjalanan dari posko di Kantor CRU Trumon menuju titik kebakaran membutuhkan waktu sekitar satu jam 20 menit. “Akses menuju lokasi pemadaman kurang lebih satu jam 20 menit perjalanan dari posko di Kantor CRU Trumon. Kondisi kebakaran saat ini, api masih menyala,” jelas Ferdian Krisnanto dengan nada prihatin.
Bayangkan, para petugas harus menempuh perjalanan panjang melewati medan yang sulit hanya untuk sampai ke lokasi! Belum lagi mereka harus membawa perlengkapan pemadaman yang berat. Ini benar-benar perjuangan ekstra di tengah panasnya kobaran api.
Kondisi cuaca pada hari pertama pemadaman dilaporkan cukup cerah dengan kecepatan angin mencapai sekitar sembilan kilometer per jam. Sementara pada hari kedua, cuaca juga relatif cerah dari pagi hingga sore dengan kecepatan angin sekitar delapan kilometer per jam. Meskipun cuaca mendukung aktivitas pemadaman, karakteristik lahan gambut yang membandel membuat api tetap sulit dikendalikan sepenuhnya.
Update Pemadaman: Dua Hektare Berhasil Dijinakkan, Namun Api Masih Mengintai
Kabar baiknya, upaya pemadaman yang dilakukan secara bertahap sejak hari pertama mulai membuahkan hasil! Pada hari pertama operasi, tim gabungan berhasil memadamkan api di area sekitar setengah hektare. Memasuki hari kedua, luas lahan yang berhasil dipadamkan kembali bertambah sekitar 1,5 hektare. Dengan demikian, total area yang telah berhasil dipadamkan mencapai dua hektare.
“Pemadaman hingga hari kedua, Manggala Agni berhasil memadamkan kebakaran lahan di Seunebok Pusaka mencapai dua hektare. Pemadam hari pertama seluas setengah hektare dan hari ini, hari kedua mencapai 1,5 hektare,” ungkap Ferdian dengan optimisme yang tetap terjaga.
Namun sayangnya, kebakaran belum sepenuhnya dapat dikendalikan karena luas area yang terdampak juga mengalami peningkatan dari sekitar 20 hektare menjadi 23 hektare. Ini artinya, meskipun tim berhasil memadamkan dua hektare, api justru menyebar ke area baru yang lebih luas! Seperti perang yang terus bergerak, titik api berpindah-pindah dan sulit diprediksi.
Kesiapan Personel: Satu Regu Bertempur, Satu Regu Cadangan Disiagakan!
Untuk memperkuat operasi pemadaman, Kementerian Kehutanan tidak hanya mengandalkan satu regu Manggala Agni di lokasi. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera juga menyiagakan satu regu tambahan yang beranggotakan sekitar 15 personel. Tim cadangan ini akan langsung diterjunkan apabila kondisi di lapangan memerlukan tambahan kekuatan.
Langkah antisipasi ini dilakukan agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat apabila titik api semakin meluas atau kondisi di lapangan berubah drastis. Selain Manggala Agni, operasi pemadaman juga melibatkan BKSDA Aceh serta berbagai unsur terkait lainnya yang bekerja secara terpadu dan solid.
Hingga hari kedua penanganan, api masih terpantau menyala di sejumlah titik sehingga operasi pemadaman belum dihentikan. Ferdian memastikan tim akan kembali melanjutkan pemadaman hingga seluruh titik api berhasil dikendalikan dan lahan kembali aman.
“Tim kembali besok melakukan pemadaman lanjutan,” tegas Ferdian Krisnanto, menunjukkan komitmen kuat untuk terus bertempur hingga api benar-benar padam.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kejadian Ini?
Kebakaran lahan gambut di Aceh Selatan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan bahaya karhutla yang terus mengancam, terutama di musim kemarau. Lahan gambut yang terbakar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menghasilkan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.
Perlu kesadaran kolektif untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta dukungan penuh terhadap upaya pemadaman yang dilakukan oleh tim Manggala Agni dan seluruh pihak terkait. Semoga operasi pemadaman di Aceh Selatan segera membuahkan hasil maksimal dan tidak ada lagi korban jiwa maupun kerugian material yang lebih besar.
Kita semua berharap tim Manggala Agni dan BKSDA Aceh diberikan kekuatan dan perlindungan dalam menjalankan tugas mulia ini. Mari kita doakan agar api segera padam dan kawasan Seunebok Pusaka kembali pulih seperti sedia kala!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
